SuaraSumsel.id - “Pemerintah akan mendorong swasembada energi berbasis sumber daya nasional yang bersih dan efisien,” ujar Presiden Prabowo Subianto menekankan.
Kalimat itu menggema di tepian Sungai Musi, sungai yang sejak ribuan tahun lalu menjadi urat nadi perdagangan dan peradaban Sriwijaya. Di sinilah, di jantung Palembang, api industri tak pernah benar-benar padam.
Di Kilang Pertamina RU III Plaju, cahaya masa lalu dan masa depan berpadu. Dari menara-menara distilasi yang berdiri lebih dari seabad lalu, kini lahir energi baru yang tak hanya menyalakan negeri, tapi juga menyembuhkan bumi.
Plaju bukan sekadar fasilitas pengolahan minyak. Ia adalah refinery bersejarah yang menandai perjalanan bangsa dalam menaklukkan teknologi dan menegakkan kedaulatan energi. Didirikan oleh Shell pada 1904, kemudian disusul Kilang Stanvac di Sungai Gerong pada 1926, dua kompleks raksasa di tepian Musi ini menjadi simbol modernitas di masa kolonial.
Setelah nasionalisasi dan merger PN Permina–Pertamina pada 1968, keduanya disatukan menjadi Refinery Unit III Pertamina menjadi tonggak penting dalam perjalanan energi Indonesia. Selama lebih dari seratus dua puluh tahun, nyala api di Plaju tidak pernah padam.
Dulu, ia menandai era kejayaan minyak bumi dan industrialisasi. Kini, di bawah bendera PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) — Subholding Refining & Petrochemical Pertamina, nyala itu telah berubah menjadi lambang keberanian menghadapi transisi energi global.
“Plaju adalah kilang yang lahir dari sejarah, tapi berpikir untuk masa depan. Kami ingin energi yang kami hasilkan bukan hanya untuk membakar mesin, tapi untuk menghidupkan kehidupan,” ujar Siti Fauzia, Area Manager Communication, Relations & CSR RU III Plaju, belum lama ini.
Transformasi Plaju dimulai melalui Green Refinery Program, sebuah langkah besar dalam sejarah energi Indonesia. Di sini, minyak sawit olahan (Refined Bleached Deodorized Palm Oil/RBDPO) diolah bersama minyak mentah untuk menghasilkan Green Gasoline dan Biosolar B-40. Teknologi co-processing ini mampu menekan emisi karbon hingga 30 persen dibanding bahan bakar fosil konvensional.
Bersamaan dengan itu, Plaju mengoperasikan Zero Flaring Program, Waste Heat Recovery System, dan Digital Energy Management System berbasis kecerdasan buatan yang secara kolektif menghemat 5,2 juta gigajoule energi per tahun yakni setara dengan pengurangan 300 ribu ton CO.
Inovasi berikutnya adalah Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS), teknologi yang memungkinkan gas karbon dioksida hasil proses pengolahan ditangkap dan dimanfaatkan kembali untuk Enhanced Oil Recovery (EOR).
Baca Juga: Saat Energi Menetes Jadi Madu: Dari Hulu Migas ke Hulu Kehidupan
Menurut Kementerian ESDM, implementasi CCUS di sektor migas dapat menekan emisi hingga 42 juta ton CO pada 2030, dan RU III Plaju masuk dalam peta jalan nasional tersebut.
Namun keberlanjutan tidak hanya dibangun di ruang kendali dan menara distilasi. Ia tumbuh dari interaksi manusia dan alam di sekitarnya. Di tepian Sungai Musi, masyarakat sekitar yang dulu hanya menyaksikan kilang dari kejauhan kini menjadi bagian dari transformasi.
Limbah padat seperti sludge dan abu boiler diolah menjadi eco-block bahan bangunan. Kayu palet bekas menjadi kolam ikan air tawar. Eceng gondok yang dulu dianggap gulma kini disulap menjadi bahan kerajinan tangan. Melalui komunitas binaan Musi Parian, masyarakat belajar bahwa bahkan limbah pun bisa bernilai jika diolah dengan ilmu dan cinta lingkungan.
Setiap barel crude (minyak mentah) yang mengalir ke kilang ini bukan sekadar angka dalam laporan produksi. Itu adalah denyut ekonomi, napas industri, dan bukti kerja tanpa henti dari ribuan insan energi di balik layar. Di ruang kontrol, di laut terbuka, hingga di pipa bawah tanah, ada manusia yang menjaga agar energi negeri ini tidak pernah berhenti berdenyut.
Atas konsistensi ini, RU III Plaju meraih PROPER Emas tiga tahun berturut-turut (2022–2024) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yakni penghargaan tertinggi untuk perusahaan dengan kinerja lingkungan unggul.
“Kilang ini dulu simbol industri berat. Sekarang kami ingin menjadikannya simbol keberlanjutan,” ujar Siti sembari menceritakan bahwa ikan belida, fauna khas Sungai Musi yang sempat punah, kini kembali hidup di area konservasi sekitar kilang.
Tag
Berita Terkait
-
Saat Energi Menetes Jadi Madu: Dari Hulu Migas ke Hulu Kehidupan
-
Dari Kilang ke Dapur Rakyat: Inovasi Kurangi Asap, Tingkatkan Harapan
-
Perkuat Sinergi, PGE Lumut Balai Dukung Jurnalis Lewat Media Engagement 2025
-
Lewat Inovasi GASPOL, PHE Jambi Merang Torehkan Prestasi di Ajang APQO 2025
-
Dari Bambu Jadi Berkah: PGE Lumut Balai Dorong Ekonomi Desa dan Berdayakan Perempuan
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ke Mana BBM Ilegal Sumsel Mengalir? Polisi Bongkar 96 Kasus dan Sita 1,28 Juta Liter