-
Warga Desa Suka Maju mengembangkan budidaya lebah madu di lahan gambut melalui program Beyond Honey.
-
Program Pertamina Hulu Energi Jambi Merang meningkatkan ekonomi dan kesadaran lingkungan masyarakat desa.
-
Koperasi Sukma Jaya mengelola produksi madu hingga produk turunannya dengan standar nasional SNI.
SuaraSumsel.id - Pagi merekah di Desa Suka Maju, Kecamatan Geragai, Tanjung Jabung Timur, Jambi. Udara lembap khas lahan gambut membawa aroma tanah yang menenangkan, semerbak yang hanya bisa muncul dari bumi yang hidup. Dari kejauhan, dengung lebah terdengar seperti irama halus yang menenun keheningan pagi menjadi nyanyian kecil kehidupan.
Sutrisno, ketua kelompok peternak madu, berjalan perlahan di antara deretan kotak kayu berwarna pucat. Tangannya berhenti di salah satu, membuka tutupnya hati-hati.
Ratusan lebah Apis mellifera berputar di udara, sibuk tapi teratur, seperti memahami bahwa kerja mereka adalah bagian dari keseimbangan yang lebih besar. “Kerja mereka diam-diam, tapi hasilnya buat semua,” ucapnya dengan optimis.
Setiap tetesnya seperti membawa cerita baru bagi desa ini. Kisah tentang sabar, kerja bersama, dan keyakinan bahwa alam bisa kembali memberi, selama manusia tahu cara menjaga. Dulu, desa ini hanya mengenal satu warna yakni hijau kelam dari kebun sawit. Hampir seluruh warga hidup dari sana. Namun ketika masa replanting datang, warna itu seakan pudar.
“Waktu itu ya cuma bisa nunggu, sawit belum berbuah, tapi dapur tetap harus ngebul,” sambungnya.
Harapan baru muncul pada 2021, saat Pertamina Hulu Energi atau PHE Jambi Merang memperkenalkan program Beyond Honey, hasil riset bersama Universitas Gadjah Mada (UGM).
Bukan proyek besar dengan alat berat, melainkan ide sederhana yang tumbuh dari empati yakni menyelamatkan lahan gambut melalui lebah, yakni makhluk kecil yang tahu cara menjaga keseimbangan alam lebih baik dari manusia.
Pelatihan demi pelatihan digelar. Warga belajar mengenali musim bunga, menjaga kebersihan sekitar sarang, dan memahami sifat lebah yang halus tapi tegas. “Kalau lingkungannya kotor, lebah pergi, mereka cuma mau tinggal di tempat yang baik.” ucapnya.
Di bawah payung PT Pertamina Hulu Energi (PHE), inisiatif ini bukan sekadar kegiatan CSR, tetapi bagian dari strategi Environmental, Social, and Governance (ESG) Pertamina. Pendekatannya berorientasi pada shared value, yakni menciptakan manfaat bisnis dan sosial secara berkelanjutan di wilayah operasi migas.
Baca Juga: Dari Kilang ke Dapur Rakyat: Inovasi Kurangi Asap, Tingkatkan Harapan
Kini, dalam kondisi optimal, satu kelompok bisa memanen hingga 750 kilogram madu dalam 15–20 hari. Hasilnya dibagi rata dalam sistem koperasi. “Kalau cuaca bagus, satu orang bisa dapat enam sampai tujuh juta per musim,” katanya.
Bagi warga desa yang dulu menunggu sawit berbuah, angka itu bukan sekadar uang, tapi bukti bahwa alam yang dijaga bisa kembali memberi. Di tepi lahan budidaya, suara alat pemroses madu bercampur dengan tawa warga. Aroma madu yang manis menempel di udara, menyatu dengan wangi kayu lembap.
Menurut Wahyu Setio Tri Santoso, Wakil Ketua BPD Desa Suka Maju, program ini bukan hanya soal ekonomi. “Sekarang orang nggak cuma mikirin panen sawit, Warga jadi lebih peduli lingkungan. Mereka tahu lebah nggak mau tinggal kalau tempatnya rusak,” sambungnya.
PHE Jambi Merang membantu membentuk Koperasi Sukma Jaya, yang kini menjadi pusat pengelolaan madu.
Koperasi ini memastikan mutu dengan alat pengukur kadar air otomatis bernama Si Kering Manis, adaptasi dari teknologi hulu migas.
Berkat itu, madu Desa Suka Maju kini memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan mulai dikenal di pasar lokal. Selain madu murni, koperasi juga melibatkan UMKM perempuan dalam produksi makanan ringan, lilin batik alami, dan minuman herbal madu jantan.
Di rumah produksi, tawa ibu-ibu bersahutan di sela deru tangan pengaduk keripik. Kerja kecil yang tumbuh dari tangan mereka seolah menjadi perpanjangan dari filosofi lebah: hidup untuk memberi.
Tag
Berita Terkait
-
Dari Kilang ke Dapur Rakyat: Inovasi Kurangi Asap, Tingkatkan Harapan
-
Perkuat Sinergi, PGE Lumut Balai Dukung Jurnalis Lewat Media Engagement 2025
-
Lewat Inovasi GASPOL, PHE Jambi Merang Torehkan Prestasi di Ajang APQO 2025
-
Dari Bambu Jadi Berkah: PGE Lumut Balai Dorong Ekonomi Desa dan Berdayakan Perempuan
-
Pertamina Plaju Salurkan Bantuan Logistik untuk Tim Siaga Karhutla di Pemulutan
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
Dosen Unsri Kembangkan Laboratorium Hidup Biomassa Sebagai Sumber Ekonomi Desa Ganesha Mukti
-
Dijanjikan Gaji Rp50 Juta dan Bonus Rp620 Juta, 58 WNI Terjebak TPPO Tentara Bayaran Rusia
-
Dua Korporasi Sudah Diselidiki, WALHI Kini Laporkan 9 Perusahaan soal Karhutla Jambi
-
Ketika Membeli Pembalut Harus Berhemat, Perempuan Marginal Palembang Hadapi Risiko Kesehatan
-
4 Koridor Feeder LRT dan Teman Bus Palembang Setop Operasional, Ini Rute yang Terdampak