-
Seorang perempuan muda yang sedang hamil ditemukan tewas di kamar Hotel Lendosis Palembang setelah bertemu pria yang dikenalnya lewat media sosial.
-
Korban dibunuh oleh pelaku bernama Febrianto karena menolak permintaan hubungan intim kedua setelah kesepakatan transaksi open BO.
-
Polisi menangkap pelaku melalui rekaman CCTV dan jejak digital, sementara hasil visum mengungkap korban sedang hamil saat dibunuh.
SuaraSumsel.id - Kamar Hotel Lendosis yang semestinya menjadi lokasi singgah singkat berubah menjadi saksi bisu tragedi. Seorang perempuan muda, yang belakangan diketahui sedang hamil, ditemukan tewas setelah sebuah pertemuan yang bermula dari percakapan di media sosial berubah menjadi mimpi buruk.
Menurut keterangan resmi yang dirilis kepolisian, korban dan tersangka berkenalan lewat grup di media sosial yang memfasilitasi tawar-menawar layanan seksual (open BO). Mereka sepakat bertemu di Hotel Lendosis, Palembang, pada Jumat, 10 Oktober 2025, sekitar pukul 16.00 WIB, dengan imbalan Rp300 ribu untuk melakukan hubungan intim sebanyak dua kali.
Pertemuan yang dimaksudkan untuk kesepakatan itu terekam sebagai check-in tamu biasa oleh petugas hotel. Momen awal ini penting: apa yang tampak seperti transaksi singkat adalah titik rentan, yakni dua orang asing bertemu dalam ruang tertutup tanpa saksi. Bagi banyak korban kekerasan yang menjadi headline, pola serupa berulang: penggoda virtual, pertemuan privat, eskalasi kekerasan. Suarasumsel.id
Sesuai pengungkapan polisi, setelah hubungan pertama, korban menolak permintaan tersangka untuk mengulangi tindakan itu.
Pelaku, yang diidentifikasi sebagai Febrianto (22), merasa “dirugikan” secara finansial dan bereaksi secara kekerasan. Bukti forensik dan keterangan di TKP menunjukkan pelaku menyumpal mulut korban dengan manset, mencekik hingga tak berdaya, lalu mengikat tangan korban menggunakan jilbab. Korban ditemukan meninggal di kamar tersebut. Suarasumsel.id
Penolakan seorang perempuan terhadap tuntutan seksual bukanlah alasan yang dapat dibenarkan untuk agresi. Namun, ketidakseimbangan kuasa, norma-norma yang menstigmatisasi korban, dan mentalitas bahwa harga harus “dibayar” dengan kepatuhan, sering kali menjadi latar belakang tragedi semacam ini.
Setelah kejadian, pelaku sempat meninggalkan lokasi disertai barang milik korban, berharap menghilangkan jejak. Namun teknologi—rekaman CCTV hotel, catatan check-in, serta jejak komunikasi digital—menjadi alat cepat penegakan hukum. Polda Sumatera Selatan berhasil melacak dan menangkap Febrianto dalam waktu singkat setelah insiden.
Saat diperiksa, pelaku mengaku menyesal dan menyebut tindakannya spontan karena emosi.
Hasil visum menyatakan korban sedang mengandung saat kejadian. Fakta ini menambah tingkat kesedihan keluarga dan menjadi faktor pemberat dalam proses hukum. Korban bukan hanya kehilangan nyawanya; janin dalam rahimnya juga kehilangan peluang untuk hidup. Pihak kepolisian menyatakan akan menjerat tersangka dengan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. Suarasumsel.id
Baca Juga: Gara-Gara Permintaan Kedua Ditolak, Pria Habisi Wanita Hamil di Hotel Palembang
Bagi keluarga, kehilangan bersifat majemuk: duka atas nyawa, penyesalan atas harapan keluarga yang kandas, serta trauma psikologis. Masyarakat sekitar menyatakan keterkejutan; tetangga menggambarkan almarhumah sebagai sosok pendiam dan tidak banyak keluar rumah, sehingga kabar kematian itu menimbulkan kesedihan mendalam.
Polrestabes dan Polda Sumsel menegaskan komitmen mereka untuk menuntaskan kasus ini sesuai hukum yang berlaku. Tersangka sudah ditangkap dan direskrim akan melanjutkan proses penyidikan dan pelimpahan berkas ke kejaksaan.
Publik diminta mempercayakan proses hukum dan tidak melakukan aksi main hakim sendiri yang dapat memperburuk situasi. Suarasumsel.id
Tag
Berita Terkait
-
Gara-Gara Permintaan Kedua Ditolak, Pria Habisi Wanita Hamil di Hotel Palembang
-
7 Fakta Mengejutkan di Balik Pengakuan Pelaku Pembunuhan Wanita Hamil di Hotel
-
Aksi Kriminal di Wisata Palembang Bikin Wisatawan Takut Datang, Sektor Pariwisata Terancam
-
Terbongkar! Ini Motif Sadis Pelaku yang Habisi Nyawa Wanita Hamil di Hotel Palembang
-
Terkuak! Pembunuh Wanita Hamil di Hotel Bukan Mantan, Tapi Kenalan dari Aplikasi Kencan
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Taksi Listrik Hadir di Palembang, Solusi Transportasi atau Sekadar Tren Baru?
-
Derby Sumatera Dimulai! Sumsel United Bidik Balas Kekalahan dari PSMS di Laga Perdana
-
60 Hari Tak Diguyur Hujan, Karhutla Padang Sugihan Picu Kekhawatiran Habitat Gajah
-
Udara Palembang Terus Memburuk, Sampai Kapan Warga Harus Menghirup Asap?