-
Keluarga korban menolak santunan dari pihak pondok pesantren dengan alasan spiritual.
-
Pengasuh ponpes menyebut tragedi ambruknya musala sebagai takdir Allah SWT.
-
Publik menilai pernyataan pengasuh ponpes sebagai bentuk kelalaian yang dibungkus dengan alasan religius.
SuaraSumsel.id - Tragedi ambruknya musala di Pondok Pesantren atau Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo, kini menyajikan dua potret realitas yang saling bertabrakan, menciptakan sebuah perdebatan sengit yang membelah hati netizen se-Indonesia. Di satu sisi, ada amarah publik yang membara.
Di sisi lain, ada sebuah potret keikhlasan dan keimanan luar biasa dari keluarga korban yang justru membuat banyak orang tak bisa berkata-kata.
Sikap Keluarga Korban yang Bikin Hati Teriris
Di tengah duka yang mendalam karena kehilangan putra mereka, salah satu keluarga korban menunjukkan sebuah sikap yang mungkin di luar nalar bagi sebagian orang. Saat pihak ponpes datang untuk memberikan santunan duka, keluarga tersebut dengan halus menolaknya.
Bukan karena jumlahnya yang tidak sesuai, alasan penolakan mereka jauh lebih dalam dan bersifat spiritual. Mereka tidak butuh uang pengganti nyawa yakni yang mereka harapkan hanyalah satu hal yakni berkah dan ridho dari sang Kiai, pimpinan pondok pesantren.
Momen ini, yang diabadikan dalam sebuah foto, sontak menjadi viral. Publik dibuat terenyuh sekaligus takjub dengan ketulusan dan tingkat keimanan keluarga tersebut. Bagi mereka, restu dan doa dari seorang ulama yang mereka hormati jauh lebih berharga daripada santunan materi sebesar apa pun.
Pernyataan Pengasuh Ponpes yang Bikin Publik Murka
Namun, ironisnya, di saat yang bersamaan, sebuah pernyataan dari pengasuh Ponpes Al Khoziny justru memicu reaksi yang sebaliknya. Menanggapi tragedi yang merenggut puluhan nyawa santri, sang pengasuh menyatakan bahwa semua yang terjadi adalah murni takdir Allah".
"Ini semua sudah menjadi kehendak dan takdir dari Allah SWT," ujarnya kepada media. Pernyataan ini sontak menjadi "bensin" yang menyulut api kemarahan warganet. Banyak yang menilai pernyataan "takdir" tersebut adalah sebuah upaya untuk cuci tangan dan lari dari tanggung jawab atas dugaan kelalaian dalam pembangunan atau perawatan gedung.
Baca Juga: Gelora Sriwijaya Bergemuruh! PORNAS XVII Korpri di Sumsel Catat Peserta Terbanyak Sepanjang Sejarah
"Enak banget ngomong takdir. Kalau bangunannya kokoh terus kena gempa bumi, itu baru takdir. Kalau bangunannya jelek terus ambruk, itu namanya kelalaian, Pak Kiai!" tulis seorang netizen geram.
"Keluarga korbannya ikhlas luar biasa, pimpinannya malah ngomongnya enteng banget. Gak ada rasa bersalah sama sekali kelihatannya," timpal yang lain.
Dua Dunia yang Bertabrakan
Kini, dua narasi ini berjalan berdampingan di dunia maya, menciptakan sebuah diskusi yang sangat kompleks. Di satu sisi, ada potret keimanan tulus dari keluarga korban yang memilih jalan spiritual dan memaafkan.
Di sisi lain, ada tuntutan akuntabilitas dari publik yang lebih luas, yang menuntut adanya investigasi dan pertanggungjawaban hukum atas tragedi yang seharusnya bisa dicegah.
Kisah ini menjadi cerminan dari dua dunia yang bertabrakan: antara keikhlasan personal yang mendalam dan tuntutan keadilan struktural yang rasional.
Berita Terkait
-
BNPB Sebut Tragedi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Lebih Ngeri dari Gempa dan Banjir
-
Motif Hutang Berujung Maut, 3 Anak Jadi Tersangka Baru Kasus Santri Tewas di Tebo
-
Diprediksi Bakal Sengit, Sriwijaya FC Bertandang Ke Kandang Karo United Dengan Selisih Poin Tipis
-
Rekonstruksi Kasus Dugaan Penganiayaan Santri Gontor Asal Palembang: Pelaku Akui Memukul Dan Menendang
-
Ponpes Gontor Diminta Bertanggungjawab Juga Pada Santri Korban Penganiayaan yang Alami Luka-Luka
Terpopuler
Pilihan
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
Terkini
-
4 Model Dispenser Philips Terbaik Dan Hemat Daya
-
Viral Kunjungan Komisaris Pusri di Padang, Rombongan Arteria Dahlan Foto di Tikungan Ekstrem
-
CFD Palembang Diprotes Warga, Jalur Terlalu Panjang Bikin Aktivitas Terganggu
-
Dorong Layanan Digital Andal, BRI Raih Sertifikasi Internasional ISO/IEC 25000
-
Rahasia Suara Gitar Batanghari Sembilan yang Bikin Merinding, Ternyata Ada di Jenis Kayunya