SuaraSumsel.id - Di balik kemegahan kerajaan bahari Sriwijaya, terdapat sebuah warisan hukum sakral yang tak lekang oleh zaman yakni Sapatha yakni sumpah atau kutukan kuno yang dipercaya akan menimpa siapa pun yang mengkhianati kepercayaan, merusak tatanan, atau menyalahgunakan kekuasaan.
Sapatha bukan hanya simbol ketaatan pada datu, tapi juga perangkat kekuasaan spiritual yang menjaga stabilitas kerajaan dengan ancaman metafisik, berupa kutukan yang diyakini bisa menimpa pelaku hingga anak-cucunya.
Dalam seminar hasil kajian Museum Sriwijaya, sejarawan Dr. Dedi Irwanto, M.A., dari Universitas Sriwijaya (Unsri) mengungkapkan bahwa sapatha adalah sistem keadilan dan kontrol sosial yang sudah dikenal luas dalam prasasti-prasasti Kedatuan Sriwijaya.
Namun, menurut Dedi, ideologi sapatha ini masih terasa hingga kini, terutama dalam sumpah jabatan yang diucapkan pejabat publik.
Bahkan, Dedi menyebut bahwa kasus hukum yang menimpa mantan Wali Kota Palembang Harnojoyo bisa dianggap sebagai “kutukan sapatha” yang termanifestasi dalam era modern.
“Sapatha bukan hanya tentang masa lalu. Ia hidup dalam sistem nilai kita hari ini. Integritas dan pengkhianatan tetap jadi tolok ukur kutukan atau berkah,” ujarnya.
Kutukan Tak Hanya untuk Individu, Tapi Sampai ke Keturunan
Peneliti Epigrafi BRIN dan Ketua PAEI, Wahyu Rizky Andhifani, menegaskan bahwa sapatha digunakan Sriwijaya untuk menegakkan ketaatan total melalui kutukan kolektif.
Pelanggaran terhadap datu dianggap bukan hanya kejahatan politik, tetapi dosa kosmik, yang akan dibalas dengan kegilaan, sakit, kematian, atau kejatuhan moral.
“Kutukannya meluas hingga keluarga dan keturunan. Ini bentuk kekuasaan simbolik dan performatif Sriwijaya,” tegas Wahyu.
Menurut arkeolog Sondang Martini Siregar dari BRIN, Sriwijaya banyak mengeluarkan prasasti kutukan karena merupakan pernyataan otoritas dan cara mengamankan wilayah kekuasaan. Kekhawatiran akan pemberontakan dan pengkhianatan membuat kutukan jadi alat ampuh untuk mengendalikan loyalitas.
Baca Juga: Ironi PLTU Sumsel 1: Kebun Sawit Warga Digusur, Ganti Rugi Tak Masuk Akal
“Jika ada yang membujuk orang untuk berkhianat pun ikut kena kutuk. Bukan hanya pelaku, tapi seluruh keluarganya,” tegas Sondang.
Dari Sapatha ke Spiritualitas Islam dan Buddha
Dedi Irwanto juga mengaitkan sapatha dengan ajaran sufi dan Buddha. Dalam agama Buddha, dikenal istilah syarira, yakni sosok yang tubuh dan pikirannya bersih karena selalu berbuat baik. Dalam Islam, tahapan syariat hingga makrifat juga dianggap sebagai bentuk pertumbuhan spiritual yang memurnikan niat dan tindakan seseorang.
Ia menyebut, jika pejabat memahami nilai-nilai ini, maka kutukan sapatha bisa dihindari dan justru berubah menjadi berkah. Dengan kata lain, mereka yang berbuat benar akan mendapatkan “sapatha” berupa kesejahteraan dan keberkahan hidup.
Lebih dari sekadar warisan sejarah, sapatha adalah alarm spiritual dan etis bagi siapa pun yang memegang kekuasaan. Di era modern, ia hadir dalam bentuk integritas, kejujuran, dan tanggung jawab publik. Jika diabaikan, sejarah bisa berulang—kutukan kembali jatuh pada pengkhianat rakyat.
Tag
Berita Terkait
-
Ironi PLTU Sumsel 1: Kebun Sawit Warga Digusur, Ganti Rugi Tak Masuk Akal
-
Jangan Pulang dari Pedamaran Sebelum Coba Bingko! Ini Kue Murah, Kaya Rasa dan Sejarah
-
Fakta Miris! Perempuan Lulusan SMA & Kuliah di Sumsel Lebih Sulit Dapat Kerja dari Laki-Laki
-
Sumsel Sepekan: Ketegangan di Laut Sungsang dan Kabar Gembira untuk Pelajar Palembang
-
Menembus Batas Digital, Karantina Sumsel dan Media Satukan Langkah Edukasi
Terpopuler
- Maarten Paes Mulai Kehilangan Tempat di Ajax, Petinggi PSSI Pasang Badan
- Jalan Kolmas Ditutup Total 67 Hari, Polres Cimahi Siapkan Dua Jalur Alternatif
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Snapdragon Paling Murah untuk Berbagai Kebutuhan
- 3 Rekomendasi HP vivo RAM 8 GB Snapdragon Paling Murah untuk Dipilih
- KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla
Pilihan
-
Kedutaan Besar Negara Asing Keluarkan Peringatan untuk Warganya Pasca Erupsi Anak Krakatau
-
Kabut Asap Makin Pekat, Doa Apa yang Bisa Dibaca Muslim? Ini Bacaan Perlindungannya
-
Jakarta Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemprov DKI Terapkan PJJ Mulai Besok
-
Badan Geologi Ungkap Kondisi Anak Krakatau Terkini: Tak Ada Potensi Runtuh Picu Tsunami
-
Terungkap! Sebelum Audiensi dengan Pimpinan DPR, Botok Ditelpon Prabowo
Terkini
-
Usai Kecelakaan Beruntun, Hutama Karya Diminta Evaluasi Peringatan Kabut di Tol Palindra
-
Anak Tak Bisa Bermain di Luar karena Kabut Asap? Coba 10 Aktivitas Seru Ini
-
Kabut Asap Makin Pekat, Doa Apa yang Bisa Dibaca Muslim? Ini Bacaan Perlindungannya
-
Kabut Asap Kian Pekat, Tol Palembang-Prabumulih Ditutup Sehari Usai Kecelakaan Beruntun
-
Jarak Pandang Tinggal 2 Meter akibat Kabut Asap, Bus DAMRI dan ALS Tabrakan di Tol Palindra