Scroll untuk membaca artikel
Tasmalinda
Selasa, 01 April 2025 | 15:20 WIB
Dua sultan di Palembang beda dan bersebrangan sikap mengenai tradisi tepung tawar sebagai permintaan maaf pada masyarakat

SuaraSumsel.id - Kota Palembang, Sumatera Selatan tengah dihebohkan dengan perbedaan pandangan dua sultan mengenai prosesi adat Tepung Tawar sebagai bagian dari permohonan maaf konten kreator Willie Salim.

Kesultanan Palembang Darussalam yang dipimpin Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin menolak keras penggunaan Tepung Tawar dalam kasus ini, sementara Sultan Mahmud Badaruddin IV Raden Fauwaz Diradja justru mendesak Willie guna menjalani ritual adat tersebut.

Perbedaan pandangan ini memicu perdebatan luas, terutama di kalangan masyarakat Sumatra Selatan yang menjunjung tinggi adat istiadat.

Tepung Tawar Hanya untuk Personal, Bukan untuk Kasus Penghinaan

Baca Juga: Tak Selesai dengan Adat! Kesultanan Palembang Tolak Tepung Tawar Willie Salim

Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin menegaskan bahwa prosesi Tepung Tawar tidak boleh digunakan dalam kasus penghinaan terhadap masyarakat atau suku tertentu.

Dalam kitab Oendang-oendang Simboer Tjahaja, hukum adat yang digunakan Kesultanan Palembang Darussalam sejak dahulu, ritual ini hanya berlaku untuk hubungan personal seperti penyambutan tamu kehormatan atau permohonan restu dalam pernikahan.

"Isu bahwa permintaan maaf Willie Salim akan dilakukan dengan prosesi Tepung Tawar sangatlah tidak tepat. Yang dirusak bukan nama satu atau dua orang, tetapi seluruh warga Sumsel, khususnya Kota Palembang," tegas Sultan Iskandar pada Sabtu (29/3/2025).

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa Kesultanan tidak akan menerima permintaan maaf dengan prosesi adat ini, bahkan jika disertai kompensasi materi sebesar apa pun.

"Walaupun diberikan ribuan triliun pun, tidak kami terima sepeser pun. Sebab tidak ada tertulis dalam kitab Oendang-oendang Simboer Tjahaja," imbuhnya.

Baca Juga: Malbi Palembang 'Terabaikan', Willie Salim Seharusnya Mencontoh Farah Quinn

Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin

Bahkan, ia menantang pihak yang ingin tetap melaksanakan prosesi Tepung Tawar untuk menunjukkan pasal dan ayat mana dalam kitab hukum adat yang membenarkan tindakan tersebut.

Sultan: Maaf Bisa Diterima, Tapi Hukum Harus Tetap Berjalan

Sultan Iskandar menegaskan bahwa meskipun ia secara pribadi bisa memaafkan Willie Salim atas dasar kemanusiaan, proses hukum harus tetap ditegakkan.

"Kalau dia datang dan meminta maaf secara langsung, secara kemanusiaan saya maafkan. Tapi proses hukum harus terus berjalan, karena ini menyangkut marwah dan harga diri warga Sumsel, khususnya masyarakat Kota Palembang," ujar Sultan.

Ia juga mengkritik bahwa hingga saat ini video kontroversial Willie Salim belum dihapus dari platform digital. Bahkan dalam video permintaan maaf yang sudah dibuat, masih ada adegan yang dianggap bisa kembali memancing emosi publik.

"Kalau dia memang menyesal, seharusnya video itu sudah di-take down. Tapi ini tidak. Bahkan dalam video permintaan maaf pun masih ada adegan yang membuat orang tersinggung, kenapa coba?" ujarnya tegas.

Kesultanan Palembang Desak Proses Hukum Berjalan Tanpa Hambatan

Lebih lanjut, Sultan Iskandar meminta agar laporan hukum terhadap Willie Salim tetap dikawal hingga tuntas. Ia mendesak pihak Kapolda Sumsel dan Kapolrestabes Palembang untuk melanjutkan pengaduan masyarakat tanpa intervensi apa pun.

"Hukum di republik ini harus ditegakkan. Jangan sampai karena ada isu Tepung Tawar, proses hukum menjadi terhambat," katanya.

Jika kasus ini tidak ditindaklanjuti dengan serius, dikhawatirkan akan menjadi preseden buruk dan dapat memicu kasus serupa di masa mendatang.

"Kalau ini dibiarkan, akan ada konten kreator lain yang mengulanginya. Ini bukan sekadar masalah kecil, tapi bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia," tutupnya.

Sultan SMB Raden Fauwaz Diradja Justru Ajukan Prosesi Tepung Tawar

Di sisi lain, Sultan Mahmud Badaruddin IV Raden Fauwaz Diradja memiliki pandangan yang berbeda.

Melalui Maklumat Sikap Palembang Darussalam yang diunggah di Instagram, Sultan Fauwaz menyatakan bahwa Willie harus menjalani prosesi Tepung Tawar sebagai bagian dari permohonan maaf.

Menurut Sultan Fauwaz, ritual adat ini menjadi simbol pembersihan diri dan penebusan kesalahan, sehingga Willie harus meminta maaf secara terbuka di hadapan Majelis Adat Kesultanan Palembang Darussalam serta menjalani Tepung Tawar.

Kesultanan yang ia pimpin bahkan memberikan ultimatum: Jika Willie menolak menjalani prosesi tersebut, maka ia dikutuk dan diharamkan untuk menginjakkan kaki di Palembang.

Apa Itu Tepung Tawar dan Kenapa Penting dalam Budaya Melayu?

Tepung Tawar adalah prosesi adat yang umum dalam budaya Melayu, termasuk di Palembang.

Ritual ini sering dilakukan dalam acara-acara penting seperti:

1.  Pernikahan – Sebagai simbol restu dan doa bagi pengantin.
2.  Penyambutan tamu kehormatan – Untuk menghormati seseorang yang datang ke wilayah tertentu.
3.  Syukuran atau upacara adat lainnya – Sebagai bentuk doa dan harapan baik bagi seseorang.

Dalam prosesi ini, biasanya digunakan air yang telah diberi campuran bunga dan rempah-rempah yang dipercikkan kepada seseorang sebagai simbol pembersihan dan restu.

Namun, penggunaan Tepung Tawar untuk permintaan maaf akibat penghinaan publik adalah sesuatu yang masih diperdebatkan, sebagaimana terlihat dalam perbedaan sikap antara dua Sultan Palembang ini.

Dua Sultan, Dua Sikap Berbeda

Kasus Willie Salim telah menimbulkan perdebatan besar di Palembang, terutama terkait apakah Tepung Tawar bisa digunakan dalam permintaan maaf atas penghinaan publik.

1. Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin menolak keras dan menegaskan bahwa Tepung Tawar tidak boleh digunakan dalam kasus ini. Ia juga mendesak agar proses hukum tetap berjalan.

2. Sultan Mahmud Badaruddin IV Raden Fauwaz Diradja justru menganggap Tepung Tawar sebagai bagian dari prosesi adat yang harus dijalani Willie sebagai bentuk penebusan kesalahan.

Dengan dua pandangan berbeda ini, masyarakat pun bertanya-tanya:

Mana yang lebih sesuai dengan adat dan keadilan? Apakah Willie Salim akan mengikuti prosesi Tepung Tawar atau tetap menghadapi proses hukum tanpa prosesi adat?

Jawabannya akan sangat bergantung pada keputusan pihak berwenang dan respons dari masyarakat Palembang sendiri.

Load More