SuaraSumsel.id - Prof. Dr. Farida R. Wargadalem, M.Si yang menjabat sebagai Ketua Jurusan Pendidikan IPS Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sriwijaya (Unsri) resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Sejarah Lokal. Pengukuhan ini berlangsung pada Jumat (21/1) pagi di Auditorium Fakultas Ekonomi Unsri, Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel.
Farida R Wargadalem memaparkan pidato ilmiah berjudul Pempek Palembang: Sejarah dan Identitas yang menekankan pempek bukan saja makanan tradisional melainkan melekat menjadi identitas orang Palembang sehingga terus dilestarikan dan dikembangkan hingga masa mendatang.
Dia menjelaskan dalam sejarah perkembangannya pempek awalnya bernama Kelesan. Penamaan ini menunjukkan bahwa jenis makanan ini dikeles (dalam bahan Palembang berarti ditekan-tekan di atas papan kayu datar) menggunakan pir'an (mangkok kuningan kecil yang alasnya diberi lubang-lubang kecil).
"Kelesan sejak awal sudah termasuk makanan tradisional yang disajikan di rumah-rumah adat Palembang. Jika dirunut sejarahnya, sumber tertua tentang kekayaan alam Sriwijaya, tampak pada salah satu prasasti Kedatuan Sriwijaya (abad 7-12), yaitu prasasti Talang Tuo tahun 684 Masehi (lokasinya di daerah Talang Kelapa Palembang)," ujarnya.
Dalam prasasti tersebut disebutkan Datu (raja) Sriwijaya bernama Dapunta Hyang Srijayanasa menghadiahkan Taman Criketra kepada rakyatnya, juga untuk kesejahteraan semua makhluk dan memperoleh kebaikan.
Di dalamnya terdapat bermacam-macam tumbuhan, ...semoga apa yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, cnau, sagu an berbagai pohon, buahnya bisa dimakan...". Apa yang tercantum di alam prasasti tersebut menunjukkan, bahwa tanaman-tanaman yang la di sana, merupakan bahan baku yang sangat penting, yaitu tepung dari enau, dan sagu (pohon sagu, dan enau, dapat diambil bagian dalam batangnya dalam bentuk tepung.
Selain itu, enau dan kelapa mejadi bahan baku untuk membuat gula merah/gulo abang). Hingga kini kedua jenis pohon tersebut masih banyak dijumpai di wilayah Sumatera Selatan.
"Apa yang tercantum di dalam prasasti itu, merupakan bahan utama untuk membuat pempek, yaitu tepung dan gula merah. Keduanya berguna untuk membuat pempek dan cuko dan bahan baku tepung dan pemanis menjadi faktor pendukung," ucapnya.
Farida menyebutkan pempek sebagai makanan tradisional tentunya menekankan transmisi pengetahuan generasi, dan penggunaan bahan baku lokal. Produk lokal yang dilestarikan oleh penikmatnya, mampu menjadi alternatif dalam menjawab tantangan berbagai produk pangan olahan luar negeri yang sedang tren.
Makanan ini telah menjadi bagian penting dari identitas budaya, sejarah, geografis, dan gaya hidup masyarakat Palembang. Makanan ini telah menunjukkan “jati dirinya” sebagai makanan tradisional yang terus eksis hingga kini.
Baca Juga: Wali Kota Palembang Kenakan Seragam Loreng di Retret Militer: Simak Momen Menariknya
"Pempek memiliki nilai keunikan yang terkandung di dalamnya, dan lebih disukai konsumen dibandingkan dengan makanan konvensional. Wilayah Sumsel dilalui oleh sungai-sungai besar yang dikenal dengan nama Batanghari Sembilan.Sungai-sungai tersebut berfungsi sebagai sumber kehidupan, dan memiliki peran sentral dalam membentuk sejarah, dan peradaban manusia, berfungsi sebagai jalur penyebaran perdagangan, dan budaya antar wilayah", katanya.
Salah satu bukti pentingnya adalah perkembangan kuliner tradisional yang umumnya berbahan dasar ikan. Di mana Ikan-ikan tersebut diolah dengan bahan tepung yang diperoleh dari enau dan kelapa, sehingga menghasilkan makanan olahan, diantaranya pempek, kerupuk, kemplang, dan lainnya.
Studi tentang pempek Palembang menurutnya dapat membuka pandangan baru tentang bagaimana sungai, dan sumber daya alamnya berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya, membentuk identitas kultural, dan mempengaruhi dinamika sosial ekonomi.
Rektor Unsri, Prof. Dr. Taufiq Marwa, S.E., M.Si. mengucapkan selamat atas pengukuhan Guru Besar ini.
Tag
Berita Terkait
-
Wali Kota Palembang Kenakan Seragam Loreng di Retret Militer: Simak Momen Menariknya
-
Sejarah Ziarah Kubro: Perjalanan Spiritual di Tengah Modernitas Kota Palembang
-
Masjid Agung hingga Jembatan Ampera Palembang: 6 Cagar Budaya Baru Ditetapkan
-
Rangkaian Acara Haul dan Ziarah Kubra Ulama Palembang: Tradisi Spiritual Menyatukan Umat
-
Profil Ratu Dewa: Wali Kota Palembang yang Menyetrika Seragam Sendiri Sebelum Dilantik
Terpopuler
- Cara Menghilangkan Iklan yang Tiba-Tiba Muncul di Layar HP Android Tanpa Aplikasi Tambahan
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- 4 Moisturizer Skintific untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun, Wajah Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Palembang Diguyur Hujan Usai Kemarau Panjang, BMKG Ungkap Peran OMC dan Dinamika Atmosfer
-
Napi Tewas di Lapas Muaradua, 4 Tersangka Ditetapkan, Petugas Jaga Ikut Diperiksa
-
DPRD Sumsel Desak Polisi Tindak 20 Korporasi Karhutla, Sejauh Mana Penyidikannya?
-
4 Orang Tewas dalam Kecelakaan Brio vs Fuso di Bangka Tengah, Begini Dugaan Awal Polisi
-
Karhutla Sumsel Terus Berulang, Gambut Mengering dan Kearifan Lokal Kian Terabaikan