Menurutnya, anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena kebutuhannya tidak bisa terpenuhi oleh orang tua mereka. Sementara bagi yang sudah di usia sekolah lanjutan lebih memilih meninggalkan desa untuk bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga. “Yang putus sekolah atau terhenti ini yang anak-anaknya banyak. Yang punya 2-3 orang masih kesulitan memenuhi kebutuhan harian pendidikan apalagi yang lebih dari itu,” imbuh Ari.
Di Desa Sumber Jaya terdapat sekolah dasar (SD) negeri yang biaya pendidikannya gratis. Selain itu, ada juga sekolah tingkat lanjut berupa di Madrasah Pondok Pesantren yang dibantu oleh pihak yayasan di desa sebelah. Ada pula SMP dan SMA Negeri yang jaraknya cukup jauh dari desa. “Tapi jika ada keterbatasan maka sekolah di yayasan Islam di desa tetangga, gratis juga,” ungkap ia.
Angka partisipasi sekolah di Kabupaten Muara Banyuasin terbilang rendah untuk kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, rata-rata angka partisipasi sekolah di tingkat SD di Kabupaten Muara Banyuasin hanya sebesar 62,88 persen. Ini artinya hanya enam dari 10 orang anak yang berusia 7-12 tahun yang belajar di sekolah dasar. Empat orang lainnya tidak bersekolah dasar.
Sementara rata-rata tingkat partisipasi sekolah untuk SMP sejak 2015-2020 sebesar 75 persen. Ini artinya ada sekitar 3 orang yang tidak bisa mengecap bangku SMP.
Padahal, Kabupaten Musi Banyuasin ini merupakan salah satu lumbung sawit terbesar di Sumatera Selatan. Berdasarkan data BPS, luas lahan perkebunan sawit di Kabupaten Muara Banyuasin mencapai lebih dari 200 ribu hektare dengan tingkat produksi sebesar hampir 1 juta ton pada 2020 lalu. Lahan perkebunan sedikit menyempit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 300 ribu hektare.
Kendati demikian, produktivitas sawit di Kabupaten Musi Banyuasin ini tetap tertinggi diantara daerah penghasil sawit di Sumatera Selatan. Rata-rata produksi sawit Kabupaten Muara Banyuasin sejak 2015 sampai dengan 2020 merupakan yang terbesar diantara kabupaten-kabupaten penghasil sawit lainnya di Sumatera Selatan.
Rata-rata produksi sawit Kabupaten Musi Banyuasin mencapai hampir satu juta ton. Angka produksi sawit ini dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan daerah produksi sawit terbesar kedua di Sumatera Selatan yang sekitar 450 ribu ton.
Baca Juga: Cuaca Hari Ini: Sumsel Potensi Berawan Dengan Hujan Sedang Hingga Dini Hari
Minimnya angka partisipasi sekolah di Kabupaten Musi Banyuasin tidak berkaitan langsung dengan ketersediaan fasilitas sekolah dan anggaran pendidikan. Ada 475 sekolah dasar dan 156 SMP di kabupaten yang berpopulasi sekitar 850 ribu orang ini. Sementara alokasi dana pendidikan selama 2015 sampai dengan 2020 cenderung meningkat. Anggaran pendidikan di Kabupaten Muara Banyuasin mencapai Rp3,28 triliun pada 2020. Rata-rata anggaran pendidikan Kabupaten Musi Banyuasin selama 2015 hingga 2020 merupakan yang terbesar dibandingkan daerah penghasil sawit lainnya yakni sebesar Rp3 triliun per tahun.
Kondisi serupa juga terjadi di dengan daerah penghasil sawit lainnya di Sumatera Selatan. Luas lahan yang semakin luas dan tingkat produksi sawit tidak selamanya berdampak positif bagi tingkat pendidikan anak-anak.
Di Kabupaten Banyuasin, daerah penghasil sawit terbesar kedua di Sumatera Selatan pada 2020, angka partisipasi sekolah justru cenderung menurun dibandingkan pada 2015 lalu. Bila pada 2015, seluruh anak ikut sekolah dasar maka pada saat lahan perkebunan dan produksi kelapa sawit di Kabupaten Banyuasin melompat empat kali lipat dari 2015 tingkat anak yang bersekolah justru turun menjadi menjadi 99,49%. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengungkapkan ada 606 orang anak putus sekolah dasar pada 2020. Ini angka putus sekolah terbesar dalam lima tahun terakhir di saat jumlah bangunan sekolah dasar justru semakin bertambah.
Kepala Desa Sidomulyo Kabupaten Banyuasin Rahmat menceritakan rata-rata anak yang putus sekolah di daerahnya mulai dari jenjang SD yang akan melanjutkan ke SMP. Ada juga lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Dia menyebutkan setiap tahun jumlah tak lebih dari 10 orang. “Sudah tidak mau bersekolah lagi karena penghasilan orang tua dari sawit terbatas, tidak juga ada penghasilan tambahan lainnya,” ujarnya kepada Suara.com, Minggu (22/10)
Potret buram masa depan pendidikan di lumbung sawit diakui oleh Wakil Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Sumatera Selatan, M. Yunus. Menurutnya, bertanam sawit membutuhkan dukungan modal yang cukup besar apalagi bila dihadapkan pada infrastruktur atau penyeberangan sungai yang tidak ideal.
Tag
Berita Terkait
-
Harga TBS Sawit di Bengkulu Mulai Naik, Rp2.000 Per Kilogram
-
Petani Sawit Sumsel Diminta Beli Benih Unggul Tersertifikasi, Ini Alasannya
-
Kabar Baik, Pembebasan Tarif Ekspor Sawit Diperpanjang Hingga Oktober 2022
-
Sumsel Sepekan: Mantan Direktur BUMD Hotel Swarna Dwipa Augie Bunyamin Ditangkap Dan 4 Berita Sumsel Lainnya
-
Harga Sawit Sumsel Masih Melandai Meski Tarif Pungutan Ekspor Dihapus
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
Terkini
-
Budayawan, Arkeolog, dan Akademisi Ramaikan Festival Lahan Basah Pertama Indonesia, Digelar di PALI
-
Konflik Agraria Muba Memanas, 3 Petani Jadi Tersangka Usai Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri
-
BRI Nilai Saham BBRI Masih Undervalued, Buyback Rp500 Miliar Diluncurkan
-
Sawit dan Karet Kuasai 2,8 Juta Hektare, Mengapa PAD Sumsel Belum Maksimal?
-
BPK Sumsel Terseret Kasus Suap, Ini Temuan Audit Muara Enim yang Jadi Sorotan KPK