SuaraSumsel.id - Dua bayi di Sumatera Selatan (Sumsel) sengaja ditinggalkan (dibuang) orang tua karena desakan ekonomi dinilai Pengamat Sosial perlu mengoreksi program pemerintah.
Pengamat Sosial dan Politik Sumsel Bagindo Togar Butar-Butar menilai kondisi tersebut sebagai gambaran miris di Provinsi Sumatera Selatan.
“Kalau kita lihat, ini merupakan suatu kondisi yang miris. Yang dimana mereka membuang bayinya karena alasan ekonomi yang mereka tidak mampu untuk merawat anaknya karena tidak ada biaya, bukan karena hasil hubungan gelap,” kata Bagindo saat dikonfirmasi via telepon pada Kamis, (29/9/22) kemarin.
Hal ini juga mejadi cerminan jika Pemerintah menyelesaikan kondisi ekonomi masyarakat.
“Dengan adanya kasus ini menjadi pembelajaran bagi pemerintah dalam mengurus permasalahan ekonomi keluarga di lingkungan masyarakat. Kasus buang anak ini menjadi bukti kelalaian dan kegagalan pemerintah dalam mengurus kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Pemerintah dinilai tidak melakukan monitoring kondisi masyarakatnya, seperti melakukan pendataan ulang dalam menyalurkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) atau Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang memang diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke bawah.
“Kalau tidak tepat sasaran itu artinya datanya bisa saja tidak masuk. Nah disini apa yang kurang? Kalau masalah administrasi maka tolong lah dibantu untuk administrasi. Itulah peran perangkat desa seperti RT, RW dan perangkag desa lainnya, untuk menyediakan layanan bantuan kepada masyarajat miskin,” jelasnya.
Selain dari itu, kasus buang bayi karena alasan ekonomi yang sulit juga banyak terjadi karena kurangnya kepedulian warga sekitar dan tetangga.
“Kalau tidak saling bantu dan peduli, artinya bahwa di masyarakat juga tingkat kepedulian sosialnya juga sudah rendah. Mereka seperti merasa bahwa tidak ada yang bisa membantu kondisi mereka yang sedang terjepit atau kesulitan ekonomi,” tambah dia.
Baca Juga: Jelang Pemuktahiran Data, Jumlah Pemilih Pemilu 2024 di Sumsel Capai 5 Juta
“Pemerintah seharusnya malu dengan kejadian ini, saya saja yang baca beritanya merasa miris sekali. Ini jadi momen untuk belajar baik dari dua Kabupaten tersebut maupun kabupaten lainnya. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi, karena sangat menyedihkan di mana program KB, program ibu hamil di posyandu dari BKKBN di tingkat Kota/Kabupaten harus terus disosialisasikan,” tutupnya
Kontributor: Siti Umnah.
Tag
Berita Terkait
-
Jelang Pemuktahiran Data, Jumlah Pemilih Pemilu 2024 di Sumsel Capai 5 Juta
-
Anggota DPRD Palembang Memukul Wanita di SPBU Segera Jalani Sidang
-
Semburan Air Lumpur Bercampur Gas Tinggalkan Lubang Besar, SKK Migas Lakukan Observasi
-
Serangan Beruang Ke Pemukiman Warga di Pagar Alam Sumsel Disebut BKSDA Karena Musim Durian
-
Pilu! Sepekan Dua Bayi di Sumsel "Dibuang" Orang Tua Karena Desakan Ekonomi
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- Operasi Politik Presisi Prabowo: Preteli Siji-siji
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, BRI Dukung Sport Tourism Indonesia
-
Dukung Perjuangan Atlet Indonesia, BRI Kobarkan Semangat Merah Putih di Asian Games 2026
-
Warga Sumsel Mulai Bergerak, Petisi Evaluasi dan Transparansi Karhutla Ramai Ditandatangani
-
Dulu Duet Prabowo di Pilpres 2014, Hatta Rajasa Kini Jadi Wakil Ketua Wantimpres
-
Asap Karhutla Tutup Jalur Sungai Banyuasin, Kapal Sembako Kandas dan Tenggelam