SuaraSumsel.id - Ketenaran songket Palembang memang telah ada sejak lama.Songket dinilai memiliki nilai sejarah kini pun makin berkembang selaras dengan upaya promosi yang dilakukan pemerintah dan instansi lainnya.
Misalnya saja, Kriya Sriwijaya yang dibuka malah pada saat pandemi COVID 19, menjadi alternatif bagi pengerajin di seluruh Sumatera Selatan atau Sumsel, melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah atau Dekranasda.
Di sini dijual berbagai kerajinan termasuk kain tenun dari 17 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan.
Berlokasi di jalan Lorok Pakjo, Ilir Barat I, Palembang Sumatera Selatan, Kriya Sriwijaya merupakan unit di bawah naungan Dekranasda Provinsi yang diperuntukkan sebagai pusat oleh-oleh pengunjung ke Palembang. Beragam kain dan kerajinan diperkenalkan dengan bekerjasama pada dekranasda di kota dan kabupaten.
“Dengan tujuan mengangkat keunggulan daerah, termasuk kain tenun, maka Kriya Sriwijaya mengenalkan kain dan kreasinya. Sehingga tidak hanya kain utuh, namun juga kreasi dari kain tersebut, seperti baju, tas, peralatan makan dan peralatan rumah tangga lainnya,” kata Perwakilan Kriya Sriwijaya Ekenedi Wiranata belum lama ini.
Kriya Sriwijaya pun tidak sekadar menjual kain, namun sudah menggandeng beberapa desainer ternama dan lokal Palembang mengkreasikan kain-kain tradisional daerah. Misalnya hasil kreasi desainer Defrico Audy yang kemudian disusul oleh desainer lokal.
Meski beberapa desainer lokal sudah juga memiliki gerai, namun mereka pun tetap bersedia menjadikan tempat ini sebagai media promosi produknya. “Dengan semakin beragam hasil kreasi, Kriya akan makin ramai produksnya,” ujar ia.
Untuk harga, Kriya Sriwijaya mematok beragam, tergantung produknya, termasuk ragam kain songket yang sudah dikreasikan dalam bentuk pakaian.
Kriya membagi sekat ruangannya, berdasarkan hasil kreasi dan produk per kabupaten dan kota.
Dengan mendatangi setiap sudut ruangan, akan tampak perbedaan produk unggulan asal kabupaten dan kota di Sumsel. Di tempat ini Anda juga bisa belajar mengenal proses pembuatan kain, diantaranya proses menenun songket, mengenalkan alat tenun non mesin dan proses membuat kain jumputan.
Namun Ekenedi mengutarakan, pihaknya memang tidak menyentuh langsung ke pengerajin atau produsen pertama, karena kewenangan tersebut berada di Dekranasda atau pemerintah setempat.
“Setiap kabupaten dan kota, terdapat gerai Dekranasda yang mewakili produk unggulan mereka,” pungkasnya.
Kepala Dinas Perindustrian Palembang, Novan Hansyah Kurniawan juga mengungkapkan hal yang sama. Dekranasda menjadi solusi promosi kerajinan khas. Misalnya di Palembang, Dekranasda berada di Jabakatring, Kawasan Ulu ini pun menjadi representatif penjualan pengerajin.
Dengan bekerjasama dengan Bank Sumselbabel di Dekranasda ini pun berperan menjadi Mal Payment Point.
Di Kawasan ulu Palembang pun terdapat pusat belajar dan promosi kerajinan Palembang yang digagas Bank Indonesia yaitu, Griya Kain Tuan Kentang yang lebih fokus pada pengerajin jumputan.
Di Tuan Kentang di sediakan kain songket dengan beragam kreasi songket lainnya, seperti Blongsong dan kain Tajung.
Di gerai yang dibangun pada tahun 2017 lalu, Bank Indonesia membiayai sekaligus membina Wira Usaha Bank Indonesia (WUBI) Sumatera Selatan pengerajinnya.
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Selatan, Hari Widodo menceritakan pada awal pandemi, pengerajin di Gerai Kain Tuan Kentang juga terkena dampaknya, terjadi penurunan pembelian. Namun lambat laun dengan semakin masif upaya promosi dan mengenalkan transaksi digital, permintaan mulai stabil kembali.
“Sempat mengalami dampaknya juga, tapi sampai saat ini, sudah cukup membaik, karena pembelian juga sudah bisa dilakukan dengan media sosial dan digital,”.
Hari mengungkapkan perkenalan alat transaksi QRIS juga sudah dilakukan sebelum pandemi, tepatnya 17 Agustus 2019. Pada awal tahun lalu, QRIS digunakan sebagai pembayaran digital yang akhirnya makin dioptimalkan saat pandemi ini.
“Terjadi akselerasi guna mengoptimalkan transaksi digital. Karena kita yakin, saat adanya kesulitan juga terdapat kemudahan. QRIS membuat konsumen terbantu dan mendorong agar UMKM bisa bertahan, karena masih adanya peluang transaksi yang bisa dilaksanakan meski tidak bertemu langsung,” ungkap ia.
(Tulisan ini mengikuti program Banking Journalism Academy yang diselenggarakan AJI Indonesia)
Baca Juga: Potensi Awan Hujan Berkurang, Teknologi Modifikasi Cuaca di Sumsel Disetop
Tamat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
Terkini
-
Budayawan, Arkeolog, dan Akademisi Ramaikan Festival Lahan Basah Pertama Indonesia, Digelar di PALI
-
Konflik Agraria Muba Memanas, 3 Petani Jadi Tersangka Usai Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri
-
BRI Nilai Saham BBRI Masih Undervalued, Buyback Rp500 Miliar Diluncurkan
-
Sawit dan Karet Kuasai 2,8 Juta Hektare, Mengapa PAD Sumsel Belum Maksimal?
-
BPK Sumsel Terseret Kasus Suap, Ini Temuan Audit Muara Enim yang Jadi Sorotan KPK