SuaraSumsel.id - Kasus penganiayaan perawat RS Siloam Palembang yang terjadi pekan lalu bermula dari permasalahan infus pasien anak yang berdarah. Keluarga pasien terkhusus ayah yang kini menjadi pelaku penganiayaan emosi karena tangan anaknya mengeluarkan darah usai dicabut infus oleh pasiennya.
Ditanya perihal prosedur dan standar pencabutan infus oleh perawat yang kemudian berujung penganiayaan, Ketua Umum atau Ketum PPNI memberikan tanggapannya.
Dilansir dari Sumselupdate.com - jaringan Suara.com, Ketua Umum DPP PPNI Hanif Fadilah mengatakan perihal kesalahan prosedur infus yang cabut ialah perihal dan proses lainnya. Namun yang disesalkan para perawat ialah tindakan kekerasan yang dilakukan kepada perawat.
“Bersalah atau tidak perawat dalam penanganan medis, itu proses lain. Masalah yang kita lihat ini tindak kekerasannya itu. Siapa pun tidak boleh main hakim sendiri. Mau bersalah atau tidak ada proses lain,” katanya.
Masih kata Hanif Fadilah, pihaknya juga siap memberikan dukungan sepenuhnya kepada RS Siloam Sriwijaya jika nanti ada tuntutan atas kasus ini.
Sementara Direktur RS Siloam Bona Fernando menyatakan jika kasus ini baru pertama kali terjadi di rumah sakit yang dipimpinnya.
Biasanya, pasien menyeluhkan pelayanan dan langsung direspon tanpa harus ada penganiayaan yang mengakibatkan tenaga medis terluka dan trauma.
“Kasus seperti ini pertama kali. Selama ini pasien biasanya komplain hanya telat pelayanan saja, tapi langsung direspon cepat dan selesai,” ucapnya,” ujar Bona.
Tapi kali ini berbeda, terjadi keributan dan berakhir pada penganiayaan keluarga pasien kepada perawat. Hal tersebut sangat disayangkan.
Baca Juga: Jadwal Berbuka Puasa Kota Palembang 21 April 2021
Sebelum kejadian diketahui, perawat Cristina mencabut infus pasien karena dinyatakan sudah sembuh dan diperbolehkan pulang.
Namun Bona menegaskan perihal keluhan pelayanan medis termasuk halnya pencabutan infus sebenarnya bisa disampaikan sesuai dengan jalurnya, bukan malah melakukan kekerasan terhadap tenaga medis.
Seperti diketahui, penganiayaan yang terekam video amatiran hingga sempat viral di media sosial bermula dari pelaku yang merupakan ayah pasien emosi karena tangan anaknya berdarah.
Meski tidak melihat langsung peristiwa anaknya terluka itu, namun pelaku mendapatkan cerita dari sang istri. Saat berusaha ditanyakan kepada perawat, pelaku Jason Tjakrawinata langsung menampar, memukul, mendorong dan menjatuhkan tubuh korban perawat Cristina.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Nenek 87 Tahun di Muara Enim Tewas di Tangan Anak dan Cucu, Ini Motifnya
-
Ketika Gaji Hanya Singgah, Anak Muda Makin Belajar Menjaga Nilai Uang
-
BRI Cairkan Dividen Tunai Rp346 per Saham, Total Pembayaran Capai Rp52,1 Triliun
-
Skandal Asusila di Balik Ponpes Lahat: Polisi Tidak Proses Hukum karena Permintaan Korban
-
Tiga Pegawai PTBA Raih Penghargaan Nasional Satyalancana Wira Karya dari Presiden