SuaraSumsel.id - Struktur bangunan diduga kuat sebuah bungker ditemukan saat digelar Heritage Walk Palembang jelajah timur Pulau Kemaro bersama Balai Arkeolog Sumsel, Sabtu (3/4/2021).
Dalam jelajah yang digagas Sahabat Cagar Budaya (SCB) Palembang ditemukan sebuah stuktur bangunan yang diduga sebuah bungker bertulis penanggalan Jepang.
Perjalanan menuju sisi timur Pulau Kemaro itu dimulai dengan melintasi Kampung Aer sebagai pemukiman warga dan bungalow yang Pemerintah Kota Palembang.
Arkeolog dari Balai Arkeologi (Balar) Sumsel, Retno Purwanti menyebutkan bahwa batu tersebut diperkirakan untuk serangan udara pada zaman penjajahan Jepang dan bagian belakang struktur batu tersebut diduga sebuah bunker guna perlindungan.
“Terdapat batu yang diduga untuk penyerangan udara saat itu, seperti tempat menaruh meriam atau senapan yang terletak di pinggir sungai diarahkan muka sungai. Sedangkan bunker belakangnya sebagai tempat berlindung dan di sebelahnya terdapat dermaga sehingga infrastrukturnya lengkap di bunker Jepang ini,” terang ia, Sabtu (3/4/2021).
Namun hal tersebut baru dugaan sementara karena baru jelas terlihat dan belum dilakukan penelitian lebih lanjut.
Pada survei sebelumnya yang dilakukan tim arkeolog tempat ini masih dipenuhi dengan pohon-pohon dan tanaman, sehingga tidak ditemukan tulisan penanggalan Jepang tersebut.
Sejarawan Palembang Kemas Ari Panji yang menemukan tulisan 16/3/63 beranggapan jika stuktur bangunan tersebut bukan peninggalan Jepang.
“16 Maret 1963 kalau dikatakan bunker secara waktu ini rentangnya jauh sekali, Jepang kan 1945 itu jauh sehingga bisa disebutkan tidak ada hubungan sehingga saya pikir pernyataan itu terbantahkan,” ungkap ia.
Baca Juga: Bernostalgia, Kedai Teh di Palembang ini Hadirkan Suasana Tahun 90 an
Sehingga ia pun menyarankan jangan terburu-buru untuk mengambil kesimpulan karena banyak kemungkinan yang muncul sebelum dilakukannya penelitian khusus.
“Kalau bagi saya ini cor, ini memang beton karena strukturnya sudah memakai besi artinya sudah modern wajar kalau tahun 1963, memang zaman Belanda ada coran seperti ini tapi saya tidak melihat arah bahwa ini dibangun oleh Jepang, ” ungkapnya.
Dia lebih tertarik jika dikatakan batu ini sebagai tempat penyiksaan atau camp yang sesuai dengan catatan sejarahnya.
“Pada zaman G30PKI memang disebutkan bahwa ini tempat penyiksaan dan eksekusi dan hal ini menjadi lebih relevan, ada kesaksian orang tua yang masih hidup dan catatan sejarahnya,” ujar ia.
Kontributor: Fitria
Berita Terkait
-
Pro - Kontra Kantor Terpadu Pemprov Sumsel: Daerah Konservasi Air Ditimbun?
-
Dewan Ingatkan Pemkot Soal Status Lahan Pulau Kemaro
-
Bernostalgia, Kedai Teh di Palembang ini Hadirkan Suasana Tahun 90 an
-
Kebakaran Landa Rumah di Basturi, 16 BPKB Motor Ikut Dilalap Api!
-
Pengamanan Gereja di Palembang Diperketat, TNI Siagakan Panser Anoa
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
PTBA Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga Lahat lewat Budidaya Ayam Petelur
-
Rawat Alam di Tengah Aktivitas Industri, Kilang Plaju Konsisten Lestarikan Keanekaragaman Hayati
-
1.400 Pekerja Sumsel Kena PHK, Mayoritas Tanpa Perselisihan, Ada Apa?
-
Ekonomi Sumsel Tumbuh 5,20 Persen, Uangnya Paling Banyak Berputar di Sektor Ini
-
PLN Jadwalkan Pemadaman Palembang 12-15 Agustus, Cek Wilayah dan Jamnya