- PT Bukit Asam mengelola kawasan Ombilin di Sawahlunto melalui program pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pelestarian sejarah.
- Perusahaan membina warga mengembangkan usaha produktif seperti budidaya lebah, peternakan, pertanian kopi, dan kerajinan songket.
- PT Bukit Asam membangun PLTS berkapasitas 18,7 kilowatt peak pada 2019 untuk mendukung irigasi persawahan warga.
SuaraSumsel.id - Warisan pertambangan Ombilin di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, tidak hanya menyimpan jejak sejarah industri batu bara Indonesia. Kawasan ini juga memiliki potensi ekonomi yang terus dikembangkan melalui pemberdayaan masyarakat, mulai dari budidaya lebah madu, peternakan, pertanian kopi, hingga kerajinan songket.
PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mengembangkan potensi tersebut melalui pengelolaan Ombilin Mining Site yang mencakup optimalisasi aset, pelestarian kawasan bersejarah, serta program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
General Manager Ombilin Mining Site PTBA, Yulfaizon, mengatakan pengelolaan Ombilin tidak hanya berorientasi pada optimalisasi aset perusahaan, tetapi juga memperhatikan nilai sejarah dan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Ombilin merupakan aset strategis perusahaan yang memiliki nilai historis penting bagi Indonesia. Karena itu, pengelolaannya perlu dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan aspek bisnis, pelestarian warisan dunia, dan kebermanfaatan bagi masyarakat,” ujar Yulfaizon dalam keterangan tertulis, Kamis (5/11/2026).
Baca Juga:PTBA Raih Penghargaan Kementerian ESDM atas Kepatuhan Pembayaran PNBP
Menurutnya, potensi kawasan Ombilin perlu dikembangkan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan dan nilai sejarah yang melekat pada kawasan tersebut.
Salah satu upaya yang dilakukan PTBA adalah mendorong masyarakat mengembangkan usaha produktif berdasarkan potensi lokal. Program pembinaan tersebut menyasar sejumlah sektor, mulai dari peternakan dan pertanian hingga industri kreatif.
Budidaya Lebah Madu Libatkan Kelompok Berkebutuhan Khusus
Salah satu program pemberdayaan PTBA dilakukan melalui pembinaan Kelompok Tani Lebah Madu Galo-Galo Cupiang di Desa Santur, Kecamatan Barangin, Sawahlunto.
Kelompok ini mengembangkan budidaya lebah tanpa sengat atau lebah galo-galo. Hasil budidayanya meliputi madu, propolis, dan bee pollen yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk usaha masyarakat.
Baca Juga:Laba PTBA Tembus Rp4,41 Triliun, Pendapatan Naik 12 Persen hingga Kuartal III 2026
Program tersebut juga memiliki pendekatan pemberdayaan yang inklusif. Kelompok binaan melibatkan kelompok anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam kegiatan budidaya lebah dan kewirausahaan.
Yulfaizon menjelaskan, keterlibatan kelompok ABK diharapkan dapat membuka kesempatan bagi lebih banyak masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi produktif.
Dengan demikian, program budidaya lebah tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga memperluas ruang partisipasi masyarakat dalam kegiatan usaha.
Lahan Bekas Tambang Dimanfaatkan untuk Peternakan
Pemberdayaan ekonomi masyarakat juga menyentuh sektor peternakan. PTBA membina Kelompok Tani Mutiara di Desa Santur yang mengembangkan usaha sapi dan kambing.
Kelompok tersebut menjadi salah satu pelopor pemanfaatan lahan bekas tambang untuk kegiatan produktif. Pemanfaatan lahan ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah sekaligus membuka peluang pengembangan usaha peternakan masyarakat.