- Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan menyebabkan kabut asap parah yang menurunkan tingkat hunian hotel di Kota Palembang pada September hingga Oktober 2026.
- Sedikitnya 74 penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II mengalami gangguan akibat jarak pandang yang menurun drastis sepanjang awal Oktober 2026.
- Batiqa Hotel Palembang dan sejumlah pengelola hotel lainnya merespons penurunan pemesanan kamar tersebut dengan menawarkan berbagai program promosi menarik kepada konsumen.
SuaraSumsel.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat dan perjalanan udara. Dampaknya mulai terasa pada sektor perhotelan di Kota Palembang, ketika tren pemesanan kamar harian mengalami penurunan dan sejumlah pengelola hotel melaporkan melemahnya tingkat hunian.
Manager Front Office Batiqa Hotel Palembang, Nando Febri Hariyanto, mengatakan tren pemesanan kamar pada hari yang sama atau same-day pickup turun dari kisaran 40–45 persen menjadi sekitar 20–25 persen pada akhir September hingga Oktober 2026.
“Biasanya kita bisa mengoptimalkan 40–45 persen di hari yang sama. Namun, dikarenakan kabut asap, khususnya pada akhir September hingga Oktober ini, kita hanya bisa mendapatkan 20–25 persen dari sisi tren tersebut. Sangat berdampak di bisnis perhotelan, khususnya di Batiqa Hotel Palembang,” ujar Nando, Jumat (16/10/2026), sebagaimana dikutip Sumsel Update-jaringan Suara.com.
Penurunan tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi pengelola hotel ketika kondisi lingkungan ikut memengaruhi mobilitas dan keputusan perjalanan masyarakat. Meski angka itu menggambarkan tren pemesanan harian di Batiqa Hotel, data tersebut tidak otomatis berarti tingkat okupansi seluruh hotel di Palembang turun dengan persentase yang sama.
Baca Juga:Minibus Terguling di Jakabaring Palembang, Sopir Akui Mengantuk hingga Tabrak Halte
Tujuh pengelola hotel laporkan penurunan hunian
Tekanan terhadap bisnis perhotelan juga disampaikan Pengurus BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Selatan, Leofaragusta. Ia menyebut sedikitnya tujuh general manager hotel telah melaporkan penurunan tingkat hunian.
Menurutnya, dampak kabut asap cukup terasa di Palembang karena kota ini bukan hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga pusat kegiatan bisnis di Sumatera Selatan.
“Sebagian yang kita dapat kabar, khususnya di Kota Palembang, terjadi penurunan yang cukup signifikan. Sebab, Kota Palembang ini bukan hanya sebagai tempat tujuan pariwisata, tetapi juga menjadi pusat bisnis,” ujarnya.
Sebagai pusat aktivitas bisnis, Palembang mengandalkan kedatangan tamu dari berbagai daerah untuk mendukung permintaan kamar hotel. Perjalanan dinas, pertemuan perusahaan, kegiatan pemerintahan, hingga agenda pariwisata menjadi bagian dari pasar yang menopang industri perhotelan.
Baca Juga:PM2.5 Turun Usai Dry Ice Diuji, Kabut Asap Palembang Masih Berbahaya Hari Ini
Ketika kabut asap mengganggu perjalanan, rencana kedatangan tamu berpotensi berubah. Kondisi ini dapat berpengaruh terhadap pemesanan kamar, terutama untuk tamu yang bergantung pada jadwal penerbangan.
Okupansi sejumlah hotel dilaporkan turun hingga 50 persen
Tekanan terhadap industri perhotelan Palembang sebelumnya juga disorot dalam laporan Bisnis.com pada 6 Oktober 2026. Laporan tersebut menyebut okupansi sejumlah hotel di Palembang anjlok hingga 50 persen di tengah gangguan terhadap sektor pariwisata dan perjalanan akibat kabut asap.
Angka tersebut menjadi gambaran besarnya tantangan yang dihadapi pelaku usaha. Namun, penurunan okupansi hingga 50 persen itu tidak boleh disamakan dengan penurunan tren same-day pickup di Batiqa Hotel, karena keduanya merupakan indikator yang berbeda.
Okupansi mengukur tingkat keterisian kamar hotel, sedangkan same-day pickup dalam laporan ini merujuk pada tren pemesanan kamar pada hari yang sama. Perbedaan indikator penting agar dampak ekonomi kabut asap tidak digambarkan secara berlebihan.
Jika kondisi tersebut berlangsung berkepanjangan, tekanan pada bisnis hotel berpotensi merembet ke sektor pendukung, mulai dari restoran, layanan transportasi, penyelenggara acara, hingga pelaku usaha yang bergantung pada kedatangan tamu dari luar daerah.