- Video pengeroyokan siswa SMKN 2 Palembang viral di media sosial dan memicu kekhawatiran masyarakat luas.
- Dinas Pendidikan Sumsel bersama Polrestabes Palembang memperketat pengawasan siswa serta meningkatkan koordinasi pencegahan tawuran.
- Polisi menyiapkan patroli di titik rawan untuk mengantisipasi potensi aksi balas dendam antar pelajar.
SuaraSumsel.id - Kasus kekerasan yang melibatkan pelajar di Sumatera Selatan kembali menjadi sorotan setelah video pengeroyokan terhadap seorang siswa SMKN 2 Palembang viral di media sosial. Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: mengapa tawuran pelajar masih terus berulang meski berbagai upaya pencegahan telah dilakukan?
Fenomena tersebut mendorong Dinas Pendidikan (Disdik) Sumatera Selatan untuk memperkuat langkah pencegahan dengan melibatkan sekolah, orang tua, hingga aparat kepolisian.
Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Selatan, Mondyaboni menegaskan bahwa pencegahan menjadi fokus utama untuk menekan potensi konflik di kalangan pelajar. "Kami terus memperkuat upaya pencegahan melalui koordinasi dengan sekolah dan berbagai pihak agar aksi tawuran tidak kembali terjadi," ujarnya melansir ANTARA.
Sementara itu, Polrestabes Palembang juga telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh sekolah untuk meningkatkan pengawasan terhadap siswa, terutama di luar jam belajar.
Baca Juga:Putri Ordinary Kitchen, Kisah UMKM Belitung Timur yang Terus Tumbuh Bersama Bank Sumsel Babel
Langkah tersebut dilakukan setelah munculnya sejumlah kasus yang melibatkan pelajar dalam beberapa hari terakhir. Polisi bahkan telah memeriksa sejumlah siswa terkait dugaan pengeroyokan yang terjadi di Palembang.
Kekhawatiran semakin meningkat setelah beredarnya informasi mengenai potensi aksi balas dendam yang dikhawatirkan dapat memicu bentrokan antarsekolah.
Sebagai bentuk antisipasi, sekolah diminta mengintensifkan pengawasan, terutama setelah kegiatan belajar mengajar berakhir.
Disdik Sumsel juga mendorong penguatan pendidikan karakter serta peningkatan komunikasi antara sekolah dan orang tua.
Di sisi lain, kepolisian menyiapkan patroli di sejumlah titik yang dianggap rawan untuk mencegah siswa berkumpul tanpa pengawasan.
Baca Juga:Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
Pengawasan tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah, tetapi juga saat siswa menuju dan pulang dari sekolah.
Pengamat hukum serta aktivis perlindungan anak dan perempuan, Conie Pania Putri menilai, tawuran pelajar tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan sanksi. Faktor lingkungan sekolah, kedisiplinan, serta komunikasi antara guru dan orang tua dinilai sangat berpengaruh dalam mencegah kekerasan di kalangan siswa.
Kasus di Palembang ini menjadi pengingat bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan masih menjadi persoalan serius yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Kolaborasi antara sekolah, keluarga, kepolisian, dan pemerintah dinilai menjadi kunci untuk mencegah tawuran terus berulang di Sumatera Selatan.