- Lahan seluas tiga hektare di Desa Karta Mulya, Muara Enim, yang tercatat sebagai Program Cetak Sawah Rakyat terbakar.
- Manggala Agni Daops Sumatera XVI/Lahat mengerahkan personel serta peralatan untuk melakukan pemadaman darat dan pemantauan di lokasi.
- Tantangan pemadaman di lahan gambut tipis bervegetasi tumpukan kayu tersebut masih ditangani agar api tidak meluas.
SuaraSumsel.id - Program Cetak Sawah Rakyat tengah didorong untuk memperkuat produksi pangan. Namun, di Kabupaten Muara Enim, salah satu lahan yang tercatat sebagai lokasi program tersebut justru terbakar.
Kebakaran terjadi di Desa Karta Mulya, Kecamatan Gelumbang, Muara Enim, Sumatera Selatan. Api membakar lahan yang berstatus Area Penggunaan Lain (APL) dan tercatat sebagai lahan Program Cetak Sawah Rakyat.
Kondisinya belum sepenuhnya aman. Ketika laporan pemadaman dibuat, api masih menyala dan Manggala Agni masih melakukan penanganan di lapangan.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan personel Manggala Agni Daops Sumatera XVI/Lahat melakukan pemadaman darat di lokasi tersebut. “Luas area terbakar diperkirakan mencapai 3 hektare, sementara area yang berhasil dipadamkan baru sekitar 0,5 hektare,” kata Ferdian, sebagaimana laporan pemadaman Manggala Agni.
Baca Juga:Karhutla Sumsel Tembus 909 Kejadian, Indikasi Luas Terdampak 664,87 Hektare
Kebakaran di lokasi tersebut memiliki kondisi yang cukup berbeda dibandingkan lahan mineral biasa. Menurut Ferdian, vegetasi yang terbakar berupa tumpukan kayu, sedangkan jenis tanah di lokasi merupakan gambut tipis dengan kedalaman sekitar 50 sentimeter.
Karakter tersebut menjadi salah satu tantangan bagi petugas saat melakukan pemadaman.
Manggala Agni mengerahkan satu unit mesin pompa untuk membantu pemadaman darat. Petugas juga menggunakan selang hisap, 13 selang pembuang dan dua nozzle. Satu unit mobil slip on serta dua sepeda motor digunakan untuk mendukung mobilitas tim di lokasi.
Ferdian mengatakan penanganan dilakukan untuk mengendalikan api agar tidak meluas ke area lainnya. Namun, berdasarkan laporan lapangan, api masih menyala sehingga pemadaman perlu dilanjutkan.
Kondisi ini membuat petugas tidak cukup hanya memadamkan bagian permukaan yang terlihat terbakar. Area sekitar juga perlu dipantau untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu api.
Baca Juga:Spanduk 10 Meter 'Belum Merdeka dari Asap' Bentang di CFD Jembatan Ampera
Terlebih, lahan tersebut memiliki lapisan gambut meski tergolong tipis.
Status lahan sebagai lokasi Program Cetak Sawah Rakyat tidak serta-merta menunjukkan program tersebut sebagai penyebab kebakaran. Belum ada keterangan dari Manggala Agni yang menyatakan kebakaran disebabkan oleh program cetak sawah.
Yang diketahui dari laporan lapangan, kebakaran terjadi di lahan yang tercatat sebagai area program, dengan vegetasi berupa tumpukan kayu dan jenis tanah gambut tipis. Karena itu, penyebab munculnya api masih menjadi bagian yang perlu didalami.
Ferdian sendiri mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembukaan maupun pembakaran lahan yang berpotensi memunculkan titik api baru, terutama ketika kondisi lahan dan vegetasi mudah terbakar.
Kebakaran ini menjadi catatan tersendiri di tengah upaya pemerintah memperluas lahan pertanian melalui Program Cetak Sawah Rakyat.
Target program tersebut tentu bukan sekadar mengubah suatu bidang lahan menjadi sawah, tetapi memastikan lahan dapat dikelola secara produktif dan berkelanjutan.