- Muhammad Taufik melestarikan Tenun Blongsong di Tuan Kentang, Palembang, dengan menjaga teknik pembuatan tradisional yang memakan waktu berbulan-bulan.
- Proses menenun kain secara manual membutuhkan ketelitian tinggi serta kesabaran ekstra untuk menghasilkan motif flora khas Palembang.
- Taufik memasarkan produknya ke berbagai daerah melalui JNE guna menjaga keberlangsungan warisan budaya agar tidak hilang.
SuaraSumsel.id - Suara kayu yang saling beradu terdengar berulang dari beberapa alat tenun tradisional di kawasan Tuan Kentang, Palembang. Di hadapan gulungan benang berwarna, tangan-tangan penenun bergerak sabar menyusun motif demi motif. Butuh waktu berbulan-bulan sebelum benang-benang itu berubah menjadi selembar Tenun Blongsong, salah satu wastra khas Palembang yang hingga kini masih bertahan di tengah gempuran produk pabrikan modern.
Dari tempat itulah Muhammad Taufik meneruskan jejak keluarganya. Sebagai generasi kedua, ia tidak hanya menjalankan usaha tenun yang diwariskan orang tuanya, tetapi juga menjaga warisan budaya yang perlahan mulai ditinggalkan generasi muda.
Di tengah popularitas songket yang lebih dikenal masyarakat, Tenun Blongsong berjalan dalam senyap. Kain khas Palembang ini memiliki karakter berbeda. Jika songket identik dengan benang emas dan kemewahan, Blongsong tampil lebih sederhana dengan motif-motif flora seperti bunga tabur, mawar, dan mangga yang dipadukan warna-warna lembut. Secara tradisional, kain ini digunakan perempuan, sementara pasangannya, Tenun Tajung, lebih banyak dikenakan laki-laki.
Namun bagi Taufik, nilai utama Tenun Blongsong bukan hanya terletak pada motifnya. "Yang membuat tenun ini bernilai seni karena proses pembuatannya ditenun per benang," katanya saat ditemui di Galeri Sriwijaya, Palembang belum lama ini.
Baca Juga:KAI Tambah Kereta Eksekutif KA Sindang Marga Akomodir Libur Tahun Baru Islam 1448 H
Pernyataan itu bukan sekadar penjelasan. Ia menggambarkan perjalanan panjang yang harus dilalui sebelum selembar kain siap digunakan. Perjalanan selembar Tenun Blongsong dimulai jauh sebelum motif pertama terlihat. Benang-benang terlebih dahulu diwarnai, kemudian digulung menggunakan mesin pani dan dipintal hingga membentuk gulungan besar yang disebut boom.
Boom menjadi titik awal pekerjaan para penenun. Gulungan benang itu dipasang pada alat tenun sebagai dasar kain, lalu secara perlahan ditimpa dengan benang-benang berwarna untuk membentuk motif.
Pekerjaan tersebut dilakukan menggunakan teknik selunjuran yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi. Setiap helai benang harus berada di tempat yang tepat. Kesalahan kecil dapat mengubah pola yang sedang dibangun.
Menurut Taufik, satu boom dapat menghasilkan sekitar 40 hingga 50 lembar kain. Namun sejak benang pertama diwarnai hingga kain siap digunakan, prosesnya bisa memakan waktu dua hingga tiga bulan. Lamanya proses produksi itulah yang membuat harga kain tenun tidak bisa disamakan dengan produk tekstil biasa. Di balik setiap lembar kain terdapat waktu, keterampilan, serta ketelatenan yang diwariskan turun-temurun. "Waktu pembuatannya memang lama. Semua dikerjakan dengan proses yang detail," ujarnya.
Di dalam selembar Tenun Blongsong terdapat keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ada kesabaran yang tidak terlihat oleh pembeli. Ada pula identitas budaya Palembang yang masih bertahan hingga hari ini.
Baca Juga:Sudah Berjam-jam Bertahan, Mahasiswa Terus Berorasi soal BBM hingga MBG di DPRD
Namun justru proses panjang itulah yang menjadi tantangan terbesar. Di saat berbagai produk tekstil dapat diproduksi secara massal dalam waktu singkat, tenun tradisional tetap bergantung pada ketelatenan tangan manusia. Tidak banyak anak muda yang tertarik mempelajari pekerjaan yang membutuhkan kesabaran tinggi seperti menenun.
Taufik mengakui hal itu menjadi kekhawatirannya. "Kalau tidak ada yang meneruskan, lama-lama bisa hilang," ujarnya.
Karena itu, baginya menjaga Tenun Blongsong bukan sekadar mempertahankan usaha keluarga. Ada tanggung jawab untuk memastikan keterampilan yang diwariskan turun-temurun tersebut tidak berhenti di generasinya. Meski harus bersaing dengan produk pabrik modern, Tenun Blongsong dan Tajung masih memiliki tempat tersendiri di masyarakat Palembang. Kain-kain tradisional ini masih digunakan dalam berbagai kegiatan adat dan keluarga.
Menurut Taufik, tidak sedikit keluarga yang menjadikan kain tenun sebagai bagian dari seserahan maupun mas kawin dalam pernikahan adat Palembang. Tradisi itulah yang membuat permintaan dari pasar lokal tetap bertahan hingga kini. "Dari dulu sampai sekarang masih banyak yang mencari untuk kebutuhan adat dan keluarga," katanya.
Harapan itu pula yang membuatnya tetap bertahan. Ia ingin semakin banyak anak muda mengenal dan mempelajari tenun tradisional agar warisan budaya Palembang tidak hilang ditelan zaman. Setelah berbulan-bulan dikerjakan, perjalanan Tenun Blongsong belum berakhir ketika kain turun dari alat tenun.
Kain-kain tersebut kemudian dilipat, dikemas, dan dikirim ke berbagai daerah. Ada yang menuju Jakarta, Jawa Barat, hingga Makassar, Sulawesi Selatan. Beberapa pelanggan sengaja mencari Tenun Blongsong karena tertarik pada keunikan motifnya. Sebagian lainnya ingin tetap terhubung dengan identitas budaya Palembang meski tinggal jauh dari kampung halaman.