- Desa Penglipuran di Bali sukses mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat sejak awal 1990-an hingga menghasilkan pendapatan besar.
- Pemerintah Sumatera Selatan mengelola sekitar 150 desa wisata untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal.
- Pengembangan desa wisata harus berpusat pada masyarakat dan budaya agar mendatangkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
SuaraSumsel.id - "Bu, mau pakai baju adat? Mau jadi orang Bali?"
Sapaan itu beberapa kali terdengar dari beranda rumah Ni Nengah Sarini di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali. Dengan senyum yang ramah, perempuan yang akrab disapa Ibu Sari itu membantu wisatawan mengenakan pakaian adat. Tangannya cekatan melilitkan selendang hijau di pinggang, merapikan kamen hitam, lalu membenarkan kain merah yang disampirkan di bahu tamunya sebelum mempersilakan mereka berfoto di jalan utama desa.
Wisatawan datang bergantian. Ada yang hanya beberapa menit berada di rumah itu, ada pula yang memilih berbincang lebih lama sambil menikmati loloh cemcem yang disajikan di meja depan. Aroma bambu yang menguar dari pagar-pagar tradisional masih terasa di sepanjang permukiman. Di sela kesibukan menyambut tamu, Ibu Sari tak pernah kehilangan senyumnya.
Aktivitas itu bukan pekerjaan yang telah lama ia jalani. Sebelum Penglipuran berkembang menjadi desa wisata, perempuan itu menggantungkan penghasilan dari warung kecil yang menjual makanan ringan, sembako, dan kebutuhan sehari-hari. "Sebelum ramai seperti sekarang, saya memang sudah jualan. Tapi jualannya beda, makanan, camilan, sama sembako," ujar Ibu Sari kepada Suara.com dibincangi belum lama ini.
Baca Juga:Sebelum Tragedi Bali, Deretan Kasus Main Hakim Sendiri di Sumsel Sudah Berulang Kali Terjadi
Seiring berkembangnya Penglipuran sebagai desa wisata, beranda rumahnya ikut berubah fungsi. Wisatawan yang datang tidak lagi hanya membeli makanan atau minuman. Mereka menyewa pakaian adat, membeli cendera mata, hingga berbincang tentang kehidupan masyarakat Bali. "Yang paling membantu ya kalau tamu datang mau belanja, sewa pakaian, kaya (seperti) itulah," katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, dari beranda rumah Ibu Sari tergambar bagaimana pariwisata mengubah ruang-ruang pribadi masyarakat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi, tanpa menghilangkan fungsi rumah sebagai tempat tinggal.
Penglipuran memang dikenal sebagai salah satu desa wisata terbaik di Indonesia. Namun, keberhasilannya tidak dibangun dalam waktu singkat.
Kelian Desa Adat Penglipuran, Wayan Budiarta, mengatakan cikal bakal pengembangan wisata dimulai pada awal 1990-an. Pemerintah Kabupaten Bangli kemudian menetapkan Penglipuran sebagai objek wisata melalui Peraturan Bupati pada 1993. Saat itu, wisatawan datang untuk menikmati suasana desa dan melihat rumah-rumah adat yang tetap dipertahankan.
Hampir dua dekade kemudian, tepatnya pada 2012, arah pengembangannya berubah. Penglipuran tidak lagi sekadar menjadi objek wisata, melainkan berkembang menjadi desa wisata berbasis masyarakat. Konsep tersebut membuat wisatawan tidak hanya melihat desa, tetapi juga ikut merasakan kehidupan masyarakat melalui berbagai aktivitas budaya.
Baca Juga:Sungai Musi dan Jejak Batu Bara: Ketika Jalur Logistik Bertemu Krisis Ekologi
"Kami menawarkan aktivitas yang bisa dilakukan wisatawan. Mereka bisa belajar menari Bali, memainkan gamelan, membuat kerajinan, mengikuti permainan tradisional, sampai tinggal di homestay milik warga. Semua memanfaatkan kemampuan masyarakat yang memang sudah ada," ujar Wayan diwawancarai via telepon.
Konsep itu perlahan mengubah wajah ekonomi desa. Rumah-rumah warga tetap difungsikan sebagai tempat tinggal. Namun, sebagian ruangnya dimanfaatkan untuk menerima tamu, menyewakan pakaian adat, membuka warung makan, menjual kerajinan bambu, hingga menyediakan homestay. Warga yang memiliki kemampuan menari mengajar wisatawan menari. Perajin membuka kelas membuat kerajinan. Warung makan masyarakat dilibatkan dalam paket wisata agar manfaat ekonomi tidak berhenti di loket penjualan tiket.
Menurut Wayan, pengembangan desa wisata juga dilakukan secara bertahap. Homestay yang semula hanya sekitar 10 kamar kini berkembang menjadi lebih dari 50 kamar. Saat ini sekitar 70 orang terlibat sebagai tim pengelola desa wisata, sementara sebagian besar warga lainnya menjadi mitra yang menjalankan berbagai aktivitas wisata.
"Sekitar 98 persen masyarakat melakukan aktivitas perdagangan atau usaha yang berkaitan dengan pariwisata, mulai dari penyewaan pakaian adat, kerajinan bambu, kuliner, sampai homestay," ujarnya.
Setiap hari, ada sekitar 2.000 wisatawan berkunjung ke Penglipuran. Pada 2025, pendapatan dari tiket masuk mencapai sekitar Rp25 miliar. Nilai tersebut belum termasuk transaksi ekonomi yang langsung diterima masyarakat dari penyewaan pakaian adat, usaha kuliner, homestay, hasil kebun, maupun kerajinan bambu.

Meski demikian, Wayan menegaskan bahwa besarnya pendapatan bukan tujuan utama pembangunan desa wisata. "Wisata adalah bonus dan berkah. Yang terpenting, desa tetap hidup sebagai desa, budaya tetap menjadi roh kehidupan masyarakat," imbuhnya.
Filosofi itu menjadi pembeda Penglipuran. Desa ini tidak hanya mengundang wisatawan datang, tetapi memberi alasan bagi mereka untuk tinggal lebih lama. Semakin panjang waktu yang dihabiskan wisatawan di desa, semakin banyak aktivitas yang dapat diikuti, mulai dari belajar budaya, menikmati kuliner, hingga menginap di rumah warga. Di titik itulah manfaat ekonomi mulai menyebar ke masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan rata-rata lama menginap tamu hotel di Sumatera Selatan masih berada di kisaran 1,4 malam, lebih rendah dibandingkan Bali yang mencapai sekitar 2,87 malam. Selisih itu mungkin tampak kecil, tetapi dalam ekonomi pariwisata setiap tambahan malam berarti bertambah pula peluang masyarakat memperoleh penghasilan dari akomodasi, kuliner, transportasi lokal, hingga produk kerajinan.
Perbedaan lama tinggal wisatawan menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur dampak ekonomi pariwisata. Semakin lama wisatawan berada di sebuah destinasi, semakin besar peluang mereka membelanjakan uangnya untuk akomodasi, kuliner, kerajinan, maupun aktivitas budaya yang dikelola masyarakat.
Selisih sekitar satu setengah malam mungkin terlihat sederhana. Namun, tambahan waktu tersebut menciptakan lebih banyak ruang bagi perputaran ekonomi lokal. Wisatawan yang menginap lebih lama cenderung mengikuti lebih banyak aktivitas, menikmati kuliner, membeli suvenir, serta menggunakan jasa masyarakat setempat.
Penglipuran menunjukkan bahwa memperpanjang lama tinggal tidak selalu dilakukan dengan membangun atraksi baru yang megah. Menghidupkan pengalaman berbasis budaya dan melibatkan masyarakat justru menjadi cara yang membuat wisatawan memiliki alasan untuk menetap lebih lama.

Besarnya manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya ditentukan oleh jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga oleh banyaknya aktivitas yang mereka lakukan selama berada di destinasi tersebut. Semakin lama wisatawan tinggal, semakin besar peluang pengeluaran mereka mengalir ke masyarakat melalui akomodasi, kuliner, produk kerajinan, hingga jasa budaya.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan rata-rata pengeluaran wisatawan nusantara mencapai sekitar Rp2,4 juta setiap perjalanan. Pengeluaran tersebut mencakup biaya transportasi, akomodasi, makan dan minum, serta belanja oleh-oleh. Karena itu, memperpanjang lama tinggal wisatawan menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan nilai ekonomi tanpa harus terus mengejar kenaikan jumlah kunjungan.
Pengalaman Penglipuran memberikan gambaran bagaimana strategi tersebut dijalankan. Desa ini tidak membangun atraksi yang sepenuhnya baru, melainkan mengembangkan aktivitas yang berangkat dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Pendekatan serupa sesungguhnya mulai dibangun di Sumatera Selatan.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Bidang Destinasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan Vita Sandra menjelaskan terdapat 150 desa wisata yang dipromosikan ke tingkat nasional sampai dengan tahun 2025.
Menurutnya, pengembangan desa wisata diarahkan untuk memberdayakan masyarakat agar mampu mengelola potensi wisata di daerahnya sendiri. Pemerintah provinsi juga melakukan promosi, pendampingan, dan pelatihan bagi pelaku desa wisata serta UMKM sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.
Jika Penglipuran membutuhkan lebih dari tiga dekade untuk membangun ekosistem wisata berbasis masyarakat, Sumatera Selatan sesungguhnya sedang memulai perjalanan yang serupa. Tantangannya bukan lagi sekadar menambah jumlah desa wisata, melainkan memastikan setiap desa memiliki alasan yang cukup kuat agar wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga tinggal lebih lama dan meninggalkan lebih banyak manfaat bagi masyarakat.
Pengalaman Penglipuran juga memperlihatkan bahwa keberhasilan desa wisata lahir dari kolaborasi yang berjalan dalam keseharian. Pemerintah menghadirkan regulasi, promosi, dan pendampingan, sementara masyarakat menghidupkan desa melalui homestay, warung makan, penyewaan pakaian adat, kerajinan, hingga atraksi budaya. Ketika masing-masing menjalankan perannya, pariwisata tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga menggerakkan ekonomi warga.
Semangat itu pula yang ingin diperkuat di Sumatera Selatan. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, Rudi Irawan, mengatakan pemerintah terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai komunitas, organisasi, dan pelaku budaya untuk memperkuat sektor pariwisata. Menurutnya, budaya merupakan kekuatan utama yang dimiliki Sumatera Selatan dan perlu terus dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor.
"Budaya merupakan kekuatan utama pariwisata Sumatera Selatan yang perlu terus dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor," ujar Rudi kepada Suara.com, (29/7/2026).
Ia menilai pengembangan pariwisata juga perlu didukung konektivitas antardestinasi di Pulau Sumatera sehingga paket perjalanan dapat saling terhubung dan memberi lebih banyak pilihan bagi wisatawan. Di saat yang sama, penguatan ekosistem seni dan budaya terus didorong agar menjadi bagian dari pengalaman yang dinikmati wisatawan ketika berkunjung ke Sumatera Selatan.

Provinsi Sumatera Selatan memiliki modal yang tidak kecil. Selain memiliki sedikitnya 150 desa wisata yang dikembangkan pemerintah daerah, Sumatera Selatan juga mencatat pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Posisinya pun relatif strategis karena berada di jalur penghubung berbagai provinsi di bagian selatan Pulau Sumatera.
Palembang, misalnya, dilayani sekitar 35 penerbangan setiap hari melalui Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Dari ibu kota provinsi ini, perjalanan darat menuju Lampung melalui Jalan Tol Trans Sumatera dapat ditempuh sekitar 3,5 hingga 4 jam. Akses menuju Bangka Belitung juga tersedia melalui Pelabuhan Tanjung Api-Api menuju Pelabuhan Tanjung Kalian, sementara konektivitas menuju Jambi dan Bengkulu terus diperkuat melalui pembangunan jaringan jalan nasional dan jalan tol.
Konektivitas tersebut menjadi modal penting untuk memperbesar arus wisatawan antardaerah. Namun, pengalaman Penglipuran menunjukkan bahwa kemudahan akses hanyalah pintu masuk. Nilai ekonomi baru akan tumbuh ketika wisatawan memiliki alasan untuk memperpanjang waktu tinggalnya.
Pariwisata juga tidak dapat dipisahkan dari kemudahan transaksi. Dalam beberapa tahun terakhir, digitalisasi pembayaran melalui QRIS berkembang pesat di Sumatera Selatan. Jutaan merchant dan pengguna telah memanfaatkan sistem pembayaran digital tersebut. Bagi sektor pariwisata, kemudahan transaksi tidak hanya mempermudah wisatawan berbelanja, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku UMKM di desa wisata untuk menerima pembayaran secara non-tunai tanpa harus memiliki infrastruktur yang rumit.
Kemudahan tersebut dapat menjadi pelengkap bagi pengembangan desa wisata. Ketika wisatawan lebih mudah membayar makanan, kerajinan, homestay, atau paket wisata menggunakan QRIS, transaksi ekonomi masyarakat berlangsung lebih praktis sekaligus tercatat secara digital.
Namun, pelajaran terbesar dari Penglipuran bukanlah mengenai tiket masuk, jumlah wisatawan, ataupun besarnya pendapatan. Pelajaran itu justru terlihat dari cara masyarakat memaknai pariwisata. Bagi Wayan Budiarta, desa wisata tidak dibangun untuk mengubah masyarakat menjadi pelaku industri semata.
"Wisata adalah bonus dan berkah. Yang terpenting, desa tetap hidup sebagai desa. Budaya tetap menjadi roh kehidupan masyarakat."
Kalimat itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan desa wisata tidak selalu lahir dari investasi yang besar. Penglipuran tumbuh karena masyarakat tetap menjalankan kehidupan sehari-harinya, sementara pemerintah memberikan ruang melalui regulasi, promosi, pelatihan, dan tata kelola yang jelas. Pariwisata kemudian berkembang mengikuti kehidupan desa, bukan sebaliknya.
Menjelang sore, halaman rumah Ibu Sari kembali dipenuhi wisatawan yang bergantian mengembalikan pakaian adat. Sebagian membawa kantong berisi kerajinan bambu, sebagian lain masih menikmati segelas loloh cemcem sebelum melanjutkan perjalanan.
Mungkin yang mereka bawa pulang bukan hanya foto dengan pakaian adat Bali. Mereka membawa pengalaman yang lahir dari sebuah desa yang tidak pernah kehilangan jati dirinya.
Dan barangkali, di situlah pelajaran paling berharga bagi Sumatera Selatan. Bukan menjadikan Bali bukan hanya sebagai tujuan yang harus ditiru, melainkan menjadikan masyarakat sebagai pusat dari setiap langkah pembangunan pariwisata.
Ketika masyarakat tumbuh bersama pariwisata, desa tidak hanya menjadi tujuan wisata. Desa menjadi ruang hidup yang tetap lestari sekaligus mampu menggerakkan ekonomi warganya.