- Hingga pertengahan Juni 2026, tercatat 137 kejadian kebakaran lahan seluas 305 hektare di wilayah Sumatera Selatan.
- BPBD Sumatera Selatan menyiagakan empat helikopter guna melakukan patroli udara serta pemadaman dini di wilayah rawan.
- Peningkatan tren kebakaran selama musim kemarau berisiko menimbulkan kabut asap yang mengganggu kesehatan serta aktivitas masyarakat.
SuaraSumsel.id - Musim kemarau belum mencapai puncaknya, tetapi alarm kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan mulai berbunyi. Hingga 9 Juni 2026, tercatat 137 kejadian karhutla dengan total lahan terbakar mencapai 305,39 hektare. Angka itu memunculkan pertanyaan yang mulai menghantui banyak warga: apakah Sumsel sedang menuju musim asap yang lebih berbahaya?
Bagi masyarakat Sumsel, karhutla bukan sekadar statistik. Setiap kali musim kemarau datang, ingatan tentang kabut asap yang pernah melumpuhkan aktivitas masyarakat selalu muncul kembali. Sekolah diliburkan, penerbangan terganggu, jarak pandang menurun, dan ribuan warga mengalami gangguan pernapasan.
Karena itu, meski luas lahan yang terbakar tahun ini masih jauh dari bencana besar yang pernah terjadi pada masa lalu, tren kemunculannya tetap menjadi perhatian serius.
Sebagai langkah antisipasi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan kini menyiagakan empat helikopter bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Armada udara tersebut dipersiapkan untuk mempercepat penanganan titik api selama musim kemarau 2026.
Baca Juga:Sudah Bertahun-tahun Dibahas, Kapan Pelabuhan Tanjung Carat Benar-Benar Terwujud?
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, sebelumnya mengatakan tambahan armada tersebut merupakan bentuk dukungan BNPB untuk memperkuat kesiapsiagaan daerah menghadapi potensi karhutla yang mulai meningkat seiring masuknya musim kemarau.
Namun di balik kesiapan empat helikopter itu, terdapat fakta yang tak kalah penting. Kebakaran sudah terjadi ketika sebagian wilayah Sumsel masih berpeluang diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat menurut prakiraan BMKG. Artinya, ancaman karhutla muncul bahkan sebelum kemarau berada pada fase paling kering.
Kondisi tersebut membuat kewaspadaan harus ditingkatkan, terutama di daerah-daerah yang selama ini menjadi langganan karhutla.
BPBD Sumsel memetakan sedikitnya 12 wilayah rawan karhutla pada 2026. Wilayah tersebut meliputi Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin, Muara Enim, PALI, Lahat, OKU Timur, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, OKU dan OKU Selatan. Sebagian besar daerah tersebut memiliki kawasan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan jika api sudah membesar.
Kepala BPBD Sumsel M. Iqbal Alisyahbana sebelumnya menyebut wilayah-wilayah tersebut hampir setiap tahun mengalami kejadian karhutla dan menjadi fokus utama pencegahan. Ancaman terbesar memang bukan hanya api yang membakar lahan, tetapi asap yang ditimbulkannya.
Baca Juga:Setelah Jakarta, Aksi 'Menuju Indonesia Bangkrut' Bakal Digelar di Palembang Senin Besok
Sejarah menunjukkan bahwa ketika kebakaran mulai meluas di lahan gambut, proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit. Api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan menghasilkan asap dalam jumlah besar yang menyebar hingga lintas kabupaten bahkan provinsi.
Karena itu, para petugas kini lebih menekankan strategi pencegahan dibanding menunggu api membesar.
Selain penyiagaan helikopter, pemerintah daerah juga telah menetapkan status siaga karhutla hingga November 2026 dan memperkuat patroli serta pemantauan titik panas di wilayah rawan. Beberapa kabupaten seperti OKI, Ogan Ilir dan Musi Banyuasin juga telah lebih dulu menetapkan status siaga menghadapi musim kemarau tahun ini.
Meski demikian, tantangan terbesar tetap berada di lapangan. Banyak kebakaran besar bermula dari titik api kecil yang terlambat ditangani. Karena itu, peran masyarakat menjadi faktor penting dalam mencegah karhutla berkembang menjadi bencana yang lebih luas.
Angka 137 kejadian dan 305 hektare lahan terbakar mungkin masih terlihat kecil jika dibandingkan dengan krisis asap pada masa lalu. Namun bagi para petugas kebencanaan, angka tersebut bukan sekadar catatan statistik.
Itu adalah tanda awal yang tidak boleh diabaikan.