- Ribuan warga memadati uji coba Car Free Day minggu ke-IV di kawasan Jembatan Ampera Palembang, Minggu (17/5/2026).
- Kegiatan ini kini berfungsi sebagai pusat olahraga, hiburan keluarga, serta aktivitas UMKM bagi masyarakat kota Palembang.
- Efektivitas pengurangan polusi udara dipertanyakan karena kendaraan hanya beralih ke jalur alternatif, seperti Jembatan Musi IV.
SuaraSumsel.id - Car Free Day (CFD) Palembang kembali dipadati ribuan warga pada Minggu (17/5/2026). Memasuki uji coba minggu ke-IV, kawasan Jembatan Ampera hingga Jalan Sudirman sejak pagi dipenuhi masyarakat yang datang untuk jogging, bersepeda, senam bersama, hingga menikmati suasana kota tanpa kendaraan.
Suasana CFD kali ini terasa semakin meriah setelah Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Palembang menghadirkan wahana flying fox gratis khusus untuk anak-anak. Wahana tersebut langsung menjadi pusat perhatian dan dipadati keluarga yang membawa anak mereka ke kawasan CFD.
Banyak warga mengaku sengaja datang lebih pagi agar anak-anak bisa mencoba wahana tersebut sambil menikmati suasana Minggu pagi di pusat kota.
“Anak saya senang sekali bisa main flying fox. CFD jadi lebih menarik,” ujar Andi (34), salah seorang warga.
Baca Juga:CFD Ampera Palembang Minggu III Membludak, Warga Protes Jalan Ditutup Sampai Jam 9 dan Parkir Mahal
Tidak hanya menjadi tempat olahraga, CFD Palembang kini mulai berkembang menjadi ruang hiburan keluarga, tempat nongkrong pagi, hingga pusat aktivitas UMKM setiap akhir pekan.
Namun di tengah meningkatnya antusiasme warga, muncul pertanyaan yang mulai ramai dibicarakan setelah CFD memasuki minggu ke-IV, yakni apakah kegiatan ini benar-benar berhasil mengurangi polusi udara Kota Palembang?
Sebab sejauh ini, pelaksanaan CFD lebih banyak terlihat sebagai pusat olahraga, hiburan, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Sementara tujuan awal car free day sebagai gerakan mengurangi emisi kendaraan bermotor belum banyak terlihat dampaknya secara nyata.
Bahkan sebagian warga menilai polusi kendaraan bukan benar-benar berkurang, melainkan hanya berpindah lokasi.
Jika biasanya kepadatan kendaraan terjadi di kawasan Jembatan Ampera, selama CFD arus kendaraan justru dialihkan ke Jembatan Musi IV dan Musi VI yang menjadi jalur alternatif masyarakat.
Baca Juga:CFD Palembang Tahap II Lebih Tertib, Tapi Warga Mengeluh: Ojol Susah Cari Uang
Akibatnya, volume kendaraan di dua jembatan tersebut meningkat selama CFD berlangsung. Situasi ini memunculkan anggapan bahwa emisi kendaraan yang semestinya berkurang di kawasan Ampera justru hanya bergeser ke titik lain di Palembang.
Belum lagi sebagian besar pengunjung CFD masih datang menggunakan kendaraan pribadi sebelum memarkirkannya di sekitar lokasi kegiatan.
“Yang ramai memang orang olahraga dan hiburan. Tapi kendaraan tetap banyak di jalan lain,” kata seorang warga.
Fenomena ini sebenarnya mulai terlihat di banyak kota besar. CFD perlahan berubah bukan hanya sebagai gerakan lingkungan, tetapi juga ruang sosial dan hiburan masyarakat perkotaan.
Di satu sisi, kondisi tersebut dianggap positif karena ruang publik kota menjadi lebih hidup dan masyarakat memiliki tempat berkumpul yang sehat. Namun di sisi lain, sebagian masyarakat mulai mempertanyakan apakah tujuan utama CFD sebagai upaya pengurangan polusi masih menjadi fokus utama.
Hingga kini belum banyak data terbuka yang menunjukkan dampak CFD terhadap kualitas udara Palembang selama empat kali uji coba berlangsung.