- Hujan deras pada awal April 2026 menyebabkan banjir kilat yang melumpuhkan lalu lintas di berbagai jalan protokol Palembang.
- Penyebab utama banjir meliputi sistem drainase tidak terintegrasi, perubahan tata ruang tak terkendali, serta keterbatasan infrastruktur pompa air.
- Lemahnya pengawasan pembangunan gedung dan kebiasaan buruk masyarakat membuang sampah sembarangan memperparah kondisi genangan air di kota tersebut.
SuaraSumsel.id - Hujan belum genap satu jam, tapi jalan-jalan utama di Palembang sudah berubah seperti sungai dadakan.
Air menggenang cepat, kendaraan mogok di tengah jalan, dan kemacetan tak terhindarkan. Fenomena banjir ini kembali terjadi pada awal April 2026, mengulang pola lama yang seolah tak pernah benar-benar selesai.
Pertanyaannya kini bukan lagi “kenapa banjir terjadi?”, tapi: kenapa selalu terjadi secepat ini?
Dalam kejadian terbaru, hujan deras selama beberapa jam membuat banyak ruas jalan protokol tergenang hingga lebih dari 30 cm. Dampaknya langsung terasa, kendaraan mogok dan arus lalu lintas lumpuh total.
Baca Juga:Update Terbaru Banjir Bandang OKU Selatan: Longsor Hantam Permukiman, Puluhan Warga Terdampak
Yang paling mengkhawatirkan, genangan muncul bahkan sebelum hujan berlangsung lama.
Ini bukan sekadar banjir biasa. Ini banjir kilat perkotaan.
Pengamat Sumatera Selatan, Bagindo Togar, menilai banjir di Palembang adalah masalah klasik yang terus berulang tanpa solusi signifikan.
“Masalah banjir ini sebenarnya sederhana. Kalau drainase, tata ruang, dan kesadaran masyarakat dibenahi, dampaknya bisa besar,” ujarnya.
Ia menyoroti sistem drainase kota yang belum terintegrasi, ukuran saluran yang tidak standar, serta kondisi saluran yang kotor sebagai penyebab utama air lambat surut.
Baca Juga:Banjir Diskon Imlek 2026, 7 Promo 'Angpao' di Mall & Restoran Palembang yang Sayang Dilewatkan
Pakar hidrologi menilai menyebut akar masalah lebih dalam: perubahan tata ruang yang tidak terkendali.
Selain faktor manusia, Palembang juga menghadapi tantangan geografis. Saat hujan deras, drainase kota, kolam retensi, dan anak-anak sungai bisa meluap secara bersamaan.
Dalam kondisi tertentu, air bahkan sulit mengalir ke Sungai Musi, terutama saat permukaan air sungai sedang tinggi. Idealnya, diperlukan sistem pintu air dan pompa untuk mengendalikan aliran ini secara optimal.
Namun, infrastruktur tersebut belum sepenuhnya tersedia atau optimal.
Ketua DPRD Palembang, Ali Subri juga sempat menyoroti lemahnya pengawasan pembangunan sebagai faktor yang memperparah banjir.
Ia menyebut banyak pembangunan, terutama ruko dan kawasan komersial, tidak dikawal secara teknis oleh instansi terkait.