- BMKG memprediksi hampir seluruh Sumatera Selatan akan mengalami curah hujan di bawah normal pada kemarau 2026.
- Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi Juli hingga Agustus, datang lebih cepat dua dasarian dari normal.
- Kondisi kering berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan, lahan gambut, serta mengganggu ketersediaan air dan transportasi.
SuaraSumsel.id - Tanda-tanda kemarau 2026 di Sumatera Selatan mulai terlihat lebih awal. Di saat kalender masih menunjukkan bulan Maret dan suhu sudah menyentuh 31 C, peringatan yang lebih serius justru datang dari peta resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dalam peta prediksi sifat musim kemarau 2026, hampir seluruh wilayah Sumatera Selatan didominasi warna coklat yakni sebuah indikator bahwa curah hujan diperkirakan berada di bawah normal atau lebih kering dibandingkan biasanya.
Dominasi warna ini bukan sekadar tampilan visual. Ia menjadi penanda bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi membawa dampak yang lebih luas dan lebih berat, terutama karena datang lebih cepat dari pola normal.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, dalam rilisnya menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah Sumsel diprediksi mulai memasuki musim kemarau sejak akhir Mei hingga awal Juni, bahkan lebih cepat hingga dua dasarian dibandingkan kondisi normal.
Baca Juga:Baru Maret Sudah 31 C dan Menyengat, BMKG Ungkap Sinyal Awal Kemarau 2026 di Sumsel
Kondisi tersebut membuat fase basah berakhir lebih dini, sementara periode kering berpotensi berlangsung lebih panjang. Puncak kemarau sendiri diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus, saat suhu dan kekeringan mencapai titik tertinggi.
Situasi ini menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya terasa di satu sektor. Berkurangnya curah hujan akan memengaruhi ketersediaan air di sungai dan waduk, yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan masyarakat dan pertanian. Lahan tadah hujan berpotensi mengalami kekeringan lebih cepat, sementara tanaman menjadi lebih rentan terhadap stres akibat panas.
Di sisi lain, kondisi lahan yang mengering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Terutama di wilayah gambut, potensi munculnya titik panas akan lebih tinggi dan dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan. Dampak lanjutan berupa kabut asap pun berisiko kembali muncul dan mengganggu kualitas udara.
Tidak hanya itu, sektor transportasi juga bisa terdampak. Kabut asap yang ditimbulkan dari kebakaran dapat menurunkan jarak pandang, baik di jalur darat, sungai, maupun udara. Aktivitas masyarakat pun berpotensi terganggu jika kondisi ini tidak diantisipasi sejak dini.
BMKG menegaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar kemarau biasa. Dominasi zona kering yang terlihat pada peta menjadi sinyal kuat bahwa Sumatera Selatan berpotensi menghadapi kemarau yang lebih kering dari biasanya, dengan dampak yang bisa meluas jika tidak diantisipasi.
Baca Juga:Bank Sumsel Babel Hadirkan Kemudahan Transaksi Lebaran lewat BSB Mobile, QRIS, dan ATM
Karena itu, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk mulai melakukan langkah mitigasi sejak sekarang. Upaya penghematan air, peningkatan kewaspadaan terhadap kebakaran lahan, serta menjaga lingkungan menjadi hal penting yang perlu dilakukan bersama.
Dengan suhu yang sudah terasa panas sejak Maret dan peta yang menunjukkan dominasi zona coklat, kemarau 2026 di Sumatera Selatan tampaknya bukan sekadar datang lebih cepat, tetapi juga membawa tantangan yang lebih besar.