- Banjir bandang di Kabupaten Musi Rawas Utara sejak 11 Mei 2026 menewaskan satu balita dan berdampak pada 64.624 jiwa.
- Bencana ini merendam 16.156 rumah serta merusak infrastruktur penting seperti jembatan gantung, sekolah, dan fasilitas kesehatan di lokasi.
- Tim gabungan sedang melakukan evakuasi serta mendirikan dapur umum untuk membantu warga yang terisolasi akibat akses wilayah lumpuh.
SuaraSumsel.id - Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, belum sepenuhnya berakhir. Setelah menewaskan seorang balita perempuan berusia tiga tahun, bencana ini kini menyisakan ribuan warga yang masih terisolasi dan akses antarwilayah yang lumpuh akibat jembatan putus diterjang arus deras.
Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muratara mencatat sedikitnya 16.156 rumah terdampak banjir. Jumlah warga yang terkena dampak mencapai 64.624 jiwa.
Situasi semakin memilukan setelah seorang balita bernama Shanum Aqila Fitri dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut. Bocah perempuan berusia tiga tahun itu menjadi korban jiwa pertama dalam banjir besar yang melanda Muratara sejak hujan deras mengguyur wilayah itu pada Kamis dini hari.
Sekretaris BPBD Muratara, Mathir, mengatakan tim gabungan masih terus bergerak melakukan evakuasi dan pendataan kerusakan di lapangan.
Baca Juga:DVI Mulai Cocokkan DNA Keluarga Korban Bus ALS di Muratara yang Belum Teridentifikasi
“Tim gabungan terdiri dari BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Satpol PP, TNI dan Polri masih berada di lokasi untuk membantu warga dan melakukan penanganan darurat,” kata Mathir saat dihubungi.
Banjir kali ini tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga merusak infrastruktur penting yang menjadi akses utama masyarakat.
Empat jembatan gantung di Desa Tanjung Beringin, Desa Terusan, Desa Sukamenang, dan Desa Noman dilaporkan putus total diterjang banjir. Akibatnya, sejumlah warga kesulitan menjangkau wilayah lain untuk mencari bantuan maupun kebutuhan pokok.
Sementara itu, satu jembatan gantung di Desa Batu Gajah mengalami kerusakan sedang.
Kerusakan juga terjadi di sektor pendidikan dan layanan kesehatan. Sebanyak 17 sekolah mulai dari tingkat TK hingga SMA terendam banjir. Lima unit Puskesmas Pembantu (Pustu) dan dua Polindes ikut lumpuh akibat genangan air.
Baca Juga:Korban Anak dalam Tragedi Bus ALS di Muratara Masih Sulit Diidentifikasi
Tak hanya itu, satu mushala dilaporkan hanyut terbawa arus deras, sedangkan lima masjid lainnya ikut terendam.
BPBD juga mencatat empat rumah warga hanyut terbawa arus. Selain itu, satu rumah mengalami rusak sedang dan enam rumah lainnya mengalami kerusakan ringan.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah daerah telah mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan logistik warga terdampak. Petugas gabungan juga masih melakukan pendataan kerugian material yang diperkirakan terus bertambah.
Hingga Sabtu (11/5/2026), genangan air masih bertahan di sejumlah wilayah, terutama di Kecamatan Karang Dapo dan Rawas Ilir. Warga di dua kawasan itu masih berjibaku menghadapi banjir yang merendam rumah dan memutus aktivitas sehari-hari.
Meski air mulai surut di Kecamatan Karang Jaya dan perlahan menurun di Kecamatan Rupit, ancaman banjir susulan masih menghantui warga Muratara.
BPBD mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari ke depan.