- Banyak amalan populer saat Nisfu Syaban dikategorikan bid'ah karena tidak memiliki dasar ajaran Islam yang kuat.
- Ulama menyoroti kekeliruan seperti mengkhususkan sholat tertentu atau meyakini doa pasti dikabulkan malam itu.
- Amalan terbaik adalah ibadah umum seperti sholat, doa, dan istighfar yang sesuai tuntunan Islam tanpa kekhususan.
SuaraSumsel.id - Malam Nisfu Syaban dikenal luas sebagai malam penuh keutamaan. Banyak umat Muslim berlomba-lomba memperbanyak ibadah, berharap ampunan dan rahmat Allah SWT. Namun di balik semangat itu, ada satu hal penting yang sering luput disadari: tidak semua amalan yang ramai dilakukan memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.
Alih-alih mendatangkan pahala, sebagian amalan justru dinilai keliru bahkan masuk kategori bid’ah oleh banyak ulama. Karena itu, penting bagi umat Muslim untuk waspada, agar niat baik tidak berubah menjadi praktik ibadah yang menyimpang.
Berikut 7 bid’ah dan amalan keliru yang sering dilakukan saat Nisfu Sya’ban, agar kita bisa lebih berhati-hati dan kembali pada tuntunan yang benar.
1. Mengkhususkan Sholat dengan Jumlah Rakaat Tertentu Tanpa Dalil
Sebagian orang meyakini adanya sholat Nisfu Sya’ban dengan jumlah rakaat tertentu (misalnya 100 rakaat) beserta bacaan khusus. Padahal, tidak ada dalil sahih yang menetapkan sholat dengan tata cara khusus tersebut.
Baca Juga:Air PDAM di Wilayah Ini di Palembang Akan Terganggu, Catat Jadwalnya
Ulama menegaskan, sholat sunnah tetap boleh dilakukan—namun tanpa mengkhususkannya dengan jumlah dan bacaan yang diyakini wajib.
2. Meyakini Doa Tertentu Pasti Dikabulkan di Malam Nisfu Sya’ban
Berdoa di malam Nisfu Sya’ban dianjurkan. Namun keliru jika ada keyakinan bahwa doa dengan lafaz tertentu pasti terkabul, sementara doa lain tidak.
Dalam Islam, yang menentukan dikabulkan atau tidaknya doa adalah kehendak Allah, bukan waktu atau redaksi semata.
3. Membaca Surat Yasin Tiga Kali dengan Niat Khusus
Tradisi membaca Surat Yasin tiga kali dengan niat rezeki, panjang umur, dan keselamatan cukup populer. Sayangnya, praktik ini tidak memiliki dasar hadis sahih.
Membaca Al-Qur’an tentu berpahala, tetapi mengaitkan bacaan tertentu dengan keyakinan khusus tanpa dalil termasuk amalan yang diperselisihkan.
Baca Juga:Bikin Heboh, Kafe di Palembang Gantung Ratusan Bra sebagai Dekorasi, Netizen Murka
4. Menganggap Malam Nisfu Sya’ban Lebih Utama dari Lailatul Qadar
Sebagian orang tanpa sadar menempatkan Malam Nisfu Sya’ban seolah-olah lebih utama dari Lailatul Qadar. Ini jelas keliru.
Dalam Al-Qur’an, Lailatul Qadar ditegaskan lebih baik dari seribu bulan, sementara Nisfu Sya’ban tidak memiliki keutamaan setara itu secara nash.
5. Merayakan Nisfu Sya’ban dengan Acara Khusus Berlebihan
Mengadakan acara besar-besaran dengan ritual khusus, seragam ibadah tertentu, atau seremoni yang dianggap wajib juga termasuk praktik yang patut diwaspadai.
Jika berubah dari ibadah pribadi menjadi ritual kolektif yang diyakini sebagai tuntunan khusus, maka di situlah potensi bid’ah muncul.
6. Menganggap Puasa Nisfu Sya’ban Wajib
Puasa di pertengahan bulan Sya’ban boleh dilakukan sebagai puasa sunnah, seperti puasa Ayyamul Bidh. Namun menganggap puasa Nisfu Sya’ban sebagai kewajiban adalah kekeliruan.
Islam membedakan jelas antara sunnah dan wajib, dan keduanya tidak boleh disamakan.