Jejak Perang 5 Hari 5 Malam di Palembang: Peta Lokasi Pertempuran yang Kini Jadi Kota Modern

Perang 5 Hari 5 Malam di Palembang pada Januari 1947 adalah perlawanan total rakyat melawan agresi militer Belanda.

Tasmalinda
Minggu, 04 Januari 2026 | 17:59 WIB
Jejak Perang 5 Hari 5 Malam di Palembang: Peta Lokasi Pertempuran yang Kini Jadi Kota Modern
atraksi perang lima hari lima malam [dok]
Baca 10 detik
  • Perang 5 Hari 5 Malam di Palembang pada Januari 1947 adalah perlawanan total rakyat melawan agresi militer Belanda.
  • Pertempuran krusial meliputi Jembatan Ampera, Talang Semut, Bukit Besar, Plaju, dan Kertapati sebagai jalur vital.
  • Peristiwa ini menunjukkan peran aktif masyarakat sipil dalam mendukung logistik dan pertahanan kota dari pendudukan.

SuaraSumsel.id - Sejarah mencatat Palembang sebagai salah satu medan tempur terpenting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada awal Januari 1947, kota ini menjadi saksi Perang 5 Hari 5 Malam, sebuah perlawanan sengit rakyat dan pejuang melawan agresi militer Belanda.

Hingga kini, jejak pertempuran itu masih membekas—bukan hanya dalam arsip sejarah, tetapi juga di sudut-sudut kota.

Perang ini bukan sekadar bentrokan bersenjata, melainkan perang total rakyat Palembang. Jalan, sungai, hingga kawasan permukiman berubah menjadi garis depan perlawanan.

Peristiwa bersejarah ini terjadi di wilayah Palembang, yang saat itu memiliki posisi strategis sebagai pusat ekonomi dan jalur logistik di Sumatera Selatan. Pasukan pejuang, laskar rakyat, dan elemen masyarakat bahu-membahu mempertahankan kota dari upaya pendudukan kembali oleh Belanda.

Baca Juga:Jelang Detik-Detik Tahun Baru, 11 Daerah di Sumsel Berpotensi Hujan Lebat

Dentuman senjata, serangan udara, hingga pertempuran jarak dekat terjadi hampir tanpa jeda selama lima hari lima malam.

Berikut sejumlah lokasi yang tercatat sebagai titik krusial pertempuran dan kini menjadi bagian dari sejarah Palembang:

1. Kawasan Jembatan Ampera dan Sungai Musi
Wilayah ini menjadi jalur vital. Penguasaan sungai dan jembatan menentukan pergerakan pasukan dan logistik. Pertempuran sengit terjadi untuk menghambat laju musuh masuk ke pusat kota.

2. Talang Semut
Kawasan permukiman elit pada masanya ini menjadi arena baku tembak antara pejuang dan pasukan Belanda. Banyak rumah dijadikan titik pertahanan dadakan.

3. Bukit Besar dan Sekitarnya
Wilayah ini dimanfaatkan pejuang sebagai titik pengintaian sekaligus pertahanan karena kontur tanahnya yang relatif tinggi.

Baca Juga:Mulai Besok Berlaku, Sumsel Resmi Tutup Jalan Umum untuk Truk Batu Bara, Akankah Dipatuhi?

4. Plaju dan Sungai Gerong
Sebagai kawasan industri strategis, Plaju menjadi target penting. Pertempuran di wilayah ini bertujuan mempertahankan aset vital agar tidak dikuasai kembali oleh Belanda.

5. Kertapati
Daerah pelabuhan dan jalur transportasi ini menjadi titik krusial untuk keluar-masuk pasukan dan logistik, sehingga tak luput dari pertempuran sengit.

Yang membedakan Perang 5 Hari 5 Malam adalah keterlibatan luas rakyat sipil. Warga membantu logistik, perawatan korban, hingga menjadi penghubung informasi antarkelompok pejuang. Palembang saat itu benar-benar berubah menjadi kota perlawanan.

Kini, sebagian lokasi pertempuran telah berubah menjadi kawasan modern. Namun, monumen perjuangan, museum, dan nama jalan menjadi pengingat bisu akan heroisme masa lalu. Setiap sudut kota seolah menyimpan cerita tentang keberanian, pengorbanan, dan tekad mempertahankan kemerdekaan.

Perang 5 Hari 5 Malam bukan hanya sejarah Palembang, tetapi juga sejarah nasional. Memahami peta pertempuran membantu generasi sekarang menyadari bahwa kemerdekaan tidak diraih dengan mudah, ditebus dengan darah, nyawa, dan keberanian rakyat.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak