Hidupkan Klaster UMKM Jumputan Palembang Dengan Digitalisasi

Pengrajin di kampung ini lambat laun mengenal keuangan digital yang salah satunya melalui BRImo dengan sejumlah aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) yang mendukung.

Tasmalinda
Selasa, 28 Februari 2023 | 14:44 WIB
Hidupkan Klaster UMKM Jumputan Palembang Dengan Digitalisasi
Pengrajin kain jumputan Palembang [ANTARA]

Udin mengakui jika transaksi digital makin dipilih saat pandemi Covid-19 melanda. Di kampung Jumputan yang juga dikenal sebagai kampung wisata kawasan ulu Palembang, membatasi jumlah kunjungan. Dengan demikian, transaksi pun semakin terbatas.

BRI pun mendorong pengrajin makin aktif mengenalkan digitalisasi melalui pasar-pasar online (market place). “Saat pandemi transaksi digital naik, hampir 70 persen, transaksi akhirnya pakai digital. Bikin media sosial, jual online sampai kain jumputan pun dihantarkan dengan kerjasama pada kurir lokal secara digital,” ujarnya.

BRIlink yang disediakan oleh bank BRI [ANTARA]
BRIlink yang disediakan oleh bank BRI [ANTARA]

Digitalisasi Kluster BRI Diiringi Solusi

BRI menyasar sejumlah kawasan yang kemudian membentuk klaster-klaster ekonomi di Palembang. Seperti klaster kain jumputan, klaster kerupuk kemplang juga klaster pertanian organik. Upaya menghidupkan digitalisasi seiring menguatkan klaster melalui program-program CSR.

Baca Juga:370 Warga Sumsel Batal Naik Haji, Penyebabnya Karena Ini

Manajer Bisnis Mikro BRI Kantor Cabang Utama (KCU) Palembang A Rivai, Budiyanto menyebutkan upaya mengenalkan digitalisasi juga sejalan dengan program bantuan yang diberikan.

“Pada klaster jumputan, BRI memberikan bantuan alat kerajinan, seperti dandang guna menanak kain saat pewarnaan, sampai pada pelatihan digital, mengenal pasar digital, membuat media sosial untuk berjualan,” terangnya kepada Suara.com, Selasa (27/2/2023).

Menurut Budi, tidak mudah mengenalkan digitalisasi kepada pengrajin terutama pada transaksi keuangannya keseharian. Pengrajin mikro rata-rata membutuhkan kecepatan memenuhi kebutuhan.

“Misalnya setelah kain terjual, pengrajin butuh uang tunai cepat, karena uang yang diperoleh segera dibawa ke pasar, memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk sayur, lauk pauk. Mengingat belum menerapkan sepenuhnya digital pada transaksi masyarakat saat ini kan,” ujarnya.

Keraguan pengrajin mengenal digitalisasi, sambung Budi, dijawab BRI dengan solusi menyediakan BRIlink di kawasan klaster tersebut.

Baca Juga:Asyik Main Ponsel Saat Hujan Deras, Gadis di Sumsel Tewas Tersambar Petir

Setidaknya satu klaster harus memiliki satu BRILink guna memenuhi kebutuhan digitalisasi keuangan para pengrajin. Di BRILink, pengrajin bisa melakukan transaksi, mendapatkan uang tunai, juga saling berkomunikasi jika ada potensi pasar-pasar online baru untuk kain jumputannya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini