facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Di Sumsel Tak Ditemukan Historis Ganja Untuk Pangan, Sebagai Obat Lebih Mengenal Candu

Tasmalinda Minggu, 03 Juli 2022 | 08:27 WIB

Di Sumsel Tak Ditemukan Historis Ganja Untuk Pangan, Sebagai Obat Lebih Mengenal Candu
Ladang ganja. Di Sumsel Tak Ditemukan Historis Ganja Untuk Pangan, Sebagai Obat Lebih Mengenal Candu [antara]

Sepengetahuan saya sampai saat ini, ganja dibawa ke Sumsel. Karena itu belum ditemukan adanya keterkaitan ganja dan histroris di Sumsel ini.

SuaraSumsel.id - Di tengah desakan melegalkan penggunaan tanaman ganja bagi kebutuhan medis, sejumlah daerah mengenal tanaman ganja guna penggunaan lainnya. Misalnya sejak lama, masyarakat Aceh telah mengenal tanaman nama latin Sativa sebagai campuran sayur atau pangan lokal.

Di Provinsi Sumatera Selatan atau Sumsel belum menemukan keterikatan historis atau sejarah penggunaan ganja sebagai pangan. Meski tanaman ini kini banyak ditemukan ditanam di kawasan perbukitan, seperti Bukit Barisan di Lubuklinggau, Musi Rawas, Empat Lawang hingga Muara Enim.

Yakni wilayah dengan ketinggian tertentu sebagai katagori syarat tumbuh tanaman ini. Pekerja Budaya di Sumsel, Taufik Wijaya juga mendukung pernyataan tersebut. Menurut dia, jika menelisik sejarah dan antropolis masyarakat dan wilayah, tanaman ganja memang tidak populer di masyarakat Sumsel.

"Sepengetahuan saya sampai saat ini, ganja dibawa ke Sumsel. Karena itu belum ditemukan adanya keterkaitan ganja dan histroris di Sumsel ini," ujarnya.

Baca Juga: Tata Niaga Bokar di Sumsel Picu Monopoli, KPPU: Dikendalikan Asosiasi

Dia berpendapat, tanaman ganja itu mulai dibawa masuk hingga tahun 1970 an. "Berarti sebelum (tahun 1970) sudah masuk Sumsel, namun kapan persis masuk dan ditanam, itu belum saya temukan juga catatan sejarahnya. Di tahun 1960-1970 an, kebutuhannya makin meningkat, di saat itu, mungkin yang makin marak ditanam di Sumsel," ujar Taufik Wijaya.

Ia pun menyakini penggunaan tanaman tersebut kemudian lebih banyak dikenal di Sumsel wilayah perkotaan. "Semacam hukum pasar, saat anak muda kala itu mengetahui efek konsumsi (penenang), baru makin banyak ditanam di wilayah ketinggian," kata Taufik.

Di Sumsel sendiri, sambung Taufik, lebih populer mengenal candu. Hal ini lebih kepada pengaruh  budaya Tiongkok yang masuk ke wilayah Sumsel terutama pesisir Sungai Musi sebagai jalur perdaagangan atau rempah.

"JIka dengan fungsi sebagai obat, seperti ganja sebagai penenang, mungkin lebih mengenal candu (getah). Perlu juga ditelusuri perdagangan masyarakat Arab yang masuk ke Sumsel, saya juga belum menemukan informasi sejarah ada ganjanya," terang dia.

Ilustrasi tanaman ganja (Dok. DW)
Ilustrasi tanaman ganja (Dok. DW)

Sementara jika mengenal ganja sebagai pangan, maka hal tersebut juga tidak ada. Selain candu, kultur masyarakat Sumsel, sebenarnya lebih mengenal "produsen minuman alkohol". 

Baca Juga: Sumsel Jadi Proyek Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan Berbasis Klaster

Warga Sumsel lebih terbiasa untuk menikmati minuman alkonol dari permentasi. Tradisi permentasi ini pun terlihat dari makanan tradisional Palembang seperti pekasem. "Bisa itu saling hubungnya (tradisi), lebih mengenal permentasi makanan dan minuman," ujarnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait