facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sumsel Punya Program Mandiri Pangan, Kenapa Harga Cabai Sampai Rp120.000 Per Kilogram?

Tasmalinda Kamis, 30 Juni 2022 | 14:51 WIB

Sumsel Punya Program Mandiri Pangan, Kenapa Harga Cabai Sampai Rp120.000 Per Kilogram?
Ilustrasi Cabai. Sumsel punya program mandiri pangan, tapi kenapa harga cabai Rp120.000 per kilogram [Pixabay]

Program mandiri pangan di Sumatera Selatan diwarnai pertanyaan warga yang mempertanyakan harga cabai yang mahal.

SuaraSumsel.id - Pemerintah Provinsi atau Pemprov Sumatera Selatan terus gencar melaksanakan program mandiri pangan. Program yang mengajak masyarakat untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan lokal atau pangan keluarga.

Program yang diklaim sudah mampu menjaga harga pangan meski berlangsung selama setahun terakhir. Dalam sosialisasnya, Gubernur Herman Deru mengenalkan mandiri pangan ini semacam program mendorong pemanfaatan lahan sempit di perkarangan rumah untuk ditanami beragam kebutuhan pangan.

Beragam kebutuhan pangan yang dibutuhkan keluarga seperti sayur mayur, hingga kebutuhan protein lainnya seperti memelihara ikan dan beternak.

Mesti Sumsel sudah memiliki program mandiri pangan, harga cabai diprotes oleh kalangan ibu-ibu. Di Palembang misalnya, Nila Ertina, Ibu rumah tangga ini mengeluhkan membeli cabai hingga Rp120.000 per kilogram. Harga tinggi ini masih bertahan semenjak mendekati Idul Fitri lalu. "Sekarang sudah mau Idul Adha, harga masih tinggi, binggung juga," aku ia.

Baca Juga: Cuaca Hari Ini: Sumsel Hujan Sedang Pada Malam Hari

Bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan cabai, ia memilih mengurangi jumlah cabai yang biasa dikonsumsi. "Pilihannya irit dengan mengurangi, misalnya biasanya masak hambis setengah kilo, namun sekarang tidak sampai segitu," aku dia.

Gerakan mandiri pangan sendiri, diusulkan ia, butuh praktek bersama dengan pemerintah kota dan kabupaten.

Sementara petani cabai di Sumsel menilai, kenaikan harga cabai lebih disebabkan karena pasokan yang menurun. Petani cabai di Belitang Kabupaten Ogan Komering Uliu Timur (OKUT) Joni Ariyanto mengungkapkan jika penyebab harga naik karena pasokannya yang kian menurun.

Petani cabai keriting ini mengungkapkan jika terakhir kali menjual di harga Rp70.000 - Rp 80.000 per kilogram. Harga ini tertinggi sepanjang tiga tahun terakhir.

"Jika harganya Rp 120.000 per kilogram di pasar, atau di konsumen, sih wajar. Ini memang tertinggi sepanjaang tahun ini, atau sepanjang tiga tahun belakangan," ujarnya saat dihubungi Suara.com, Selasa (28/6/2022).

Baca Juga: Detik-Detik Lima Rumah di Jalinteng Sumsel Terbakar Akibat Ditabrak Truk Solar yang Terbalik

Petani Asal Lembang, Bandung Barat Tengah Memetik Cabai pada Rabu (29/6/2022)  (Suara.com/Ferry Bangkit)
Petani Asal Lembang, Bandung Barat Tengah Memetik Cabai pada Rabu (29/6/2022) (Suara.com/Ferry Bangkit)

Dikatakan Joni, stok atau persediaan yang terbatas ini yang mendongkrak harga bisa tinggi. "Hukum pasar kan demikian, harga tinggi, karena pasokan menurun. Tidak banyak ada di pasaran," sambung dia.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait