facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Cabai Cetak Rekor Harga Tertinggi, Petani di Sumsel Ungkap Penyebabnya: Pasokan yang Menurun

Tasmalinda Selasa, 28 Juni 2022 | 13:30 WIB

Cabai Cetak Rekor Harga Tertinggi, Petani di Sumsel Ungkap Penyebabnya: Pasokan yang Menurun
Petani cabai Sumsel senang harga cabai melejit [Pixabay]

"Apalagi informasinya, cabai-cabai di wilayah Ogan Komering itu banyak diserang hama. Cabai rawit itu rentan kena serangan hama,"

SuaraSumsel.id - Harga komoditas cabai tengah melejit, menyentuh angka di atas Rp100 per kilogram di Sumatera Selatan atau Sumsel. Untuk cabai keriting saja, harga di pasar tradisional sudah mencapai Rp 120 per kilogram.

Hal ini diakui petani cabai Sumsel merupakan hal yang menguntungkan. Namun di balik itu, petani cabai di Belitang Kabupaten Ogan Komering Uliu Timur (OKUT), Joni Ariyanto mengungkapkan jika penyebab harga naik karena pasokannya yang kian menurun.

Petani cabai keriting ini mengungkapkan jika terakhir kali menjual di harga Rp70.000 - Rp 80.000 per kilogram. Harga ini tertinggi sepanjang tiga tahun terakhir.

"Jika harganya Rp 120.000 per kilogram di pasar, atau di konsumen, sih wajar. Ini memang tertinggi sepanjaang tahun ini, atau sepanjang tiga tahun belakangan," ujarnya saat dihubungi Suara.com, Selasa (28/6/2022).

Baca Juga: Simak Begini Cara Beli Minyak Goreng Curah Pakai PeduliLindungi di Sumsel

Dikatakan Joni, stok atau persediaan yang terbatas ini yang mendongkrak harga bisa tinggi. "Hukum pasar kan demikian, harga tinggi, karena pasokan menurun. Tidak banyak ada di pasaran," sambung ia.

Kenaikan harga ini, diakui petani dengan produksi 1 ton sekali panen membuat petani yang mempertahankan cabai menjadi senang. "Ya ini, hari-hari bagus juga bagi kami yang masih mempertahankan menanam cabai," ujar ia.

Sementara petani-petani lainnya, diakui Joni, telah beralih bertanam komoditas lainnya. "Misalnya nih ada yang ke sayur mayur, hortikultura atau tanaman yang lebih cepat. Sebenarnya bertanam cabai ini tidak begitu sulit, yang disertai perawatannya rutin. Petani cenderung mau instan sekarang," sambung ia.

Tantangan bertanam cabai diakui Joni pun cukup tinggi apalagi situasi iklim yang juga tidak mendukung. "Jika dibandingkan cabai rawit atau cabai keriting, memang lebih mudah cabai keriting. Itu kenapa cabai rawit, lebih mahal. Perawatannya yang harus lebih telaten apalagi serangan hama juga lebih rentan pada cabai keriting," terang Joni.

"Saya juga dengar dari pengumpul, pedagang besar, pasokan atau sumber tanamannya makin menurun, ada serangan hama sampai yang  sudah tidak menanam cabai lagi," terang Joni. 

Baca Juga: Disewa Habisi Nyawa Pesaing Bisnis, Komplotan Pembunuh Bayaran di Sumsel Ditangkap

Hal senada disampaikan petani cabai di Pagar Alam, Sapta. Menurut ia, harga yang tengah tinggi saat ini lebih disebabkan pasokan menurun.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait