facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Bahas Alasan Tarif Cukai Rokok Naik, Menteri Sri Mulyani: Itu Pilihan Sulit

Tasmalinda Kamis, 06 Januari 2022 | 17:43 WIB

Bahas Alasan Tarif Cukai Rokok Naik, Menteri Sri Mulyani: Itu Pilihan Sulit
Sri Mulyani di Podcast Deddy Corbuzier [YouTube: Deddy Corbuzier]

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengaku pernah mencoba merokok, namun kemudian tidak menyukainya.

SuaraSumsel.id - Pemerintah telah menaikan tarif cukai rokok pada awal tahun ini. Kenaikan cukai ini diakui Menteri Keuangan Sri Mulyani, merupakan kebijakan klasik yang harus mempertimbangan banyak aspek.

Hadir di Podcast Deddy Corbuzier, Sri Mulyani menjelaskan alasan kebijakan menaikkan cukai rokok. Mulanya, ia menegaskan jika yang dinaikkan ialah cukai, bukan pajak.

Dimaksud dengan cukai ialah instrumen yang digunakan Pemerintah guna mencegah untuk mengkonsumsi sesuatu yang dianggap buruk. Sri pun membenarkan jika kenaikan cukai rokok akan mempengaruhi pengeluaran konsumsi rumah tangga.

Deddy pun mengungkapkan pengeluaran terbesar rumah tangga, selain beras ialah rokok. "Nanti ujung-ujungnya terjadi keributan rumah tangga," ujar Deddy.

Baca Juga: Palembang Diguyur Hujan Gerimis, Ini Prakiraan Cuaca Sumsel 6 Januari 2022

Bahkan Deddy sempat memancing dengan mengungkapkan jika harga rokok di Indonesia tergolong murah dibandingkan Singapura.

Sri Mulyani pun langsung menjelaskan jika penentuan kebijakan cukai rokok ini ialah kebijakan klasik yang merupakan pilihan sulit. Mengingat ada banyak kalangan yang bersentuhan dengan kebijakan tersebut.

"Misalnya ada kalangan kesehatan yang meminta cukai rokok lebih tinggi, karena masyarakat menengah ke bawah, konsumsi rokoknya tinggi. Padahal, jaminan kesehatannya juga dicover (dijamin) Negara lewat penerima manfaat bantuan BPJS," ujar Sri menjelaskan.

Selain itu, di industri rokok ini pun ada petani yang terlibat yang harus juga diperhatikan. Meski demikian, Sri Mulyani pun tidak memungkiri adanya penerimaan negara dari komoditas rokok tersebut.

"Setidaknya sekitar Rp 175 triliun penerimaan. Namun tidak berhenti itu, setelahnya ada konsen kesehatan yang harus ditanggung Negara, termasuk ancaman anak-anak yang persentanse sebagai perokok meningkat tiap tahun. Belum lagi, negara juga harus memerangi rokok ilegal," bebernya.

Baca Juga: Tak Penuhi Panggilan Jaksa, Pejabat Divisi Kredit Bank Sumsel Babel Dijemput Paksa

Mengenai cukai rokok, Sri mengaku, hal tersebut merupakan kebijakan yang sulit. Berdasarkan datanya selama setahun setidaknya 350 miliar rokok diproduksi di Indonesia, namun kalangan anak-anak yang kemudian menjadi perokok meningkat.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait