Mereka adalah pedagang pempek dengan wilayah tersebar baik di seberang Ulu dan seberang Ilir. Mereka pun beragam jenis pedagang, ada pedagang skala besar dan pedagang skala lebih kecil.
Hal itu mudah diketahui dari seberapa banyak mereka memborong pempek Minah. Dengan merek dagang pempek Minah, mereka ada yang menjual kembali pada pedagang lainnya, atau langsung menjual kepada penikmatnya.
Minah tidak hanya memproduksi pempek lenjer, telur dan adaan, namun ada juga pempek keriting, pempek kulit dan pempek berisi tahu. Meski seberapapun pembeli membeli pempek, Minah tetap menghargai harganya Rp1.000 per pempek.
“Jika pun nanti dijual pembeli ini Rp1.500, Rp2.000, atau sampai Rp3.000 itu rezeki mereka,” ujar Minah.
Baca Juga:Dirampas Puluhan Tahun, Warga Tanjung Rancing Sumsel Siap Rebut Tanah yang Dikuasai PT TMM
Karena menurut Minah, rezeki itu sudah ada jalannya. Sama halnya ketika awal pandemi COVID-19, saat masyarakat membatasi gerak karena Pemerintah menerapkan pembatasan, Minah pun mengalami penurunan pesanan.
Banyak juga pembeli yang menghentikan aktivitas penjualan pempek karena banyak tempat wisata, pasar, mal, dan ruang publik yang sepi. Kata mereka, karena sistem pembelian beli-putus, maka ketika pempek itu tidak laku dijual, maka sudah bukan menjadi tanggungan Minah lagi.
Awal-awal pandemi Minah mencoba mencari jalan bangkit, mengingat ia pun harus memberikan contoh ketegaran pada pegawainya. Apalagi pegawai ini bukan orang lain, mereka rata-rata memiliki pertalian keluarga baik dari dirinya atau almarhum suaminya.
Namun memang rezeki sudah ada jalannya. Minah pun memberanikan diri mencoba membuka akun Go-Food seperti halnya produsen pempek yang berada di kampung tersebut.
Minah bukanlah satu-satunya produsen pempek skala di kampung kreasi pempek ini. Setidaknya kata Ketua RT 11, Usman Bastiar, ada belasan yang berusaha sama dengan Minah.
Baca Juga:Kasus Anak Alex Noerdin, KPK Periksa Wakil Bupati Musi Banyuasin di Polda Sumsel
Mereka menjadi “dapur-dapur” awal pempek di Palembang yang membawa pempek hadir pasar-pasar tradisional, menyusuri lorong-lorong pemukiman warga, hingga sampai di kantin-kantin sekolah-sekolah.