Pulau Kemaro Jadi Saksi Pembantaian PKI, Warga Lama Enggan Makan Ikan Sungai

Pulau Kemarau jadi saksi bagaimana upaya penghabisan PKI. Hampir dua tahun mengakibatkan warga enggan makan ikan Sungai Musi.

Tasmalinda
Kamis, 30 September 2021 | 08:30 WIB
Pulau Kemaro Jadi Saksi Pembantaian PKI, Warga Lama Enggan Makan Ikan Sungai
Kawasan Pulau Kemaro. Kawasan ini menjadi pusat penghabisan atau pembantaian PKI [ANTARA]

SuaraSumsel.id - Pulau ini diberi nama Pulau Kemaro. Lekat dengan legenda cinta beda etnis, pulau ini juga disebut lokasi penghabisan sekaligus pembantaian Partai Komunis Indonesia (PKI).
 
Setelah PKI atau komunisme ditetapkan sebagai partai terlarang tahun 1966, upaya pembersihan PKI berlangsung di sejumlah tempat termasuk di Sumatera bagian selatan.
 
Di Palembang, upaya pembersihan disebut lebih banyak dipusatkan di Pulau Kemaro. Hal ini didukung karena adanya kamp bekas Belanda di lokasi tersebut.
 
Dikatakan Arkeolog Palembang, Retno Purwanti, ada semacam rangkaian bangunan yang merupakan kamp. Bangunan Kamp ini dibangun masa penjajah Belanda.
 
Dari sumber cerita sejarah, lokasi Pulau Kemaro memang dikenal sebagai lokasi penghabisan PKI.
 
“Kan ada itu, penelusuran media Tempo, dari cerita-cerita warga sekitar dan memang dijadikan tempat pembantaian orang-orang yang diduga PKI,” ujarnya.
 
Awal tahun 2021, Balai Arkeolog Palembang juga melakukan penelitian di Pulau Kemaro.

Pagoda di Pulau Kemaro [Instagram]
Pagoda di Pulau Kemaro [Instagram]

Dalam keterangannya, Kepala Balai Arkeolog Palembang, Budi Wiyana juga sempat membenarkan adanya penjara yang dipergunakan untuk mengasingkan mereka terduga bagian dari PKI.
 
“Jika soal lokasi pembantaian, iya ada penjara. Ada bangunan penjaranya,” ujar Budi.
 
Pakar sejarah Universitas Sriwijaya atau Unsri, Syafruddin mengungkapkan fakta yang sama.
 
Diungkapkan dia, setelah partai Komunis resmi dilarang di Indonesia, pada tahun 1966. Kala itu, terjadi upaya pembersihan petinggi partai, pengurus, hingga organisasi sayapnya. Termasuk di Sumatera Selatan.
 
Hampir di setiap daerah memiliki lokasi penghabisan kepada mereka yang disangkakan PKI.
 
“Misalnya ada itu namanya tebing pembantaian, sampai disebut desa pembantaian. Karena memang dijadikan pusat lokasi penghabisan orang-orang atau mereka yang disangka PKI,” ujarnya ditemui medio September lalu.
 

Bekas kamp penjajah Jepang di Pulau Kemaro [istimewa]
Bekas kamp penjajah Jepang di Pulau Kemaro [istimewa]

Dosen FKIP Sejarah ini mengungkapkan, di Palembang sendiri, itu ada beberapa tempat yang dijadikan lokasi penghabisan tersebut.
 
Selain terpusatkan di Pulau Kemaro, juga beberapa lokasi yang difungsikan sebagai penjara.
 
Di Palembang, beberapa tokoh sentral PKI, Mailan dan kawan-kawan pun tidak diketahui nasibnya setelah upaya penghabisan ini.
 
Upaya pembersihan dilakukan sepanjang 1967-1970 an. Massa di masa proses pembersihan berkecamuk, untuk menghabisi orang-orang yang menjadi bagian PKI.
 
Beberapa tokoh pemuda dan perempuan yang menjadi bagian organisasi sayap pun masuk daftar panjang, mereka yang tidak diketahui keberadaannya.

Upaya "pembersihkan" ini, jika mereka yang berada di golongan A, yakni pengurus, dan bagian tinggi partai, dibawa ke Pulau Buru.

Baca Juga:Kendaraan di Sumsel Kembali Terima Pemutihan Pajak, Berlansung 3 Bulan

Sedangkan yang di Pulau Kamaro, ialah penghabisan mereka yang berada di bawah golongan A.
 
Meski tidak diketahui jumlah pastinya, Ia mengungkapkan cerita sejarah pilu atas tragedi tersebut terwariskan turun-temurun. 

Kawasan Pulau Kemaro Palembang [ANTARA]
Kawasan Pulau Kemaro Palembang [ANTARA]

 
Sempat hampir dua tahun, muncul keengganan masyarakat Palembang memakan ikan akibat banyak jasad mengapung di Sungai Musi.
 
Jasad ini diperkirakan dari upaya pembantaian yang dipusatkan di Pulau Kemaro.

Karena dalam aktivitas penghabisan atau pembersihan, jasad-jasadnya langsung dibuang ke Sungai Musi.
 
Keengganan masyarakat memancing hingga memakan ikan ini, karena banyak jasad yang mengapung di Sungai Musi.
 
“Ada sempat dua tahun, warga itu tidak mau makan ikan. Katanya air sungai bau, banyak jasad mengapung ditemukan,” ujar ia.
 
Keengganan memakan ikan dari Sungai Musi kemudian mulai berubah, saat tidak banyak lagi ditemukan jasad yang mengapung.
 
“Setelah itu, berubah (sudah mau makan ikan). Saat itu, sudah di atas tahun 1970 an,” ujarnya  
 
 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak