Menurutnya, benda itu digunakan sebagai alat pelengkap pernikahan di acara tradisi lamaran.
“Ini sebagai simbol atau perlambang bagi perempuan sebagai perlindungan dari Yang Maha Kuasa dan laki-laki sebagai kepala keluarga rezekinya lancar,” katanya.
Ketertarikan dengan benda-benda pusaka mulai sekitar tahun 1996. Awalnya ia mengoleksi perangka dan uang logam kuno, lalu sebagai keturunan Puyang Megang Sakti di Muara Enim, secara turun temurun anak laki-laki diturunkan pusaka, sehingga mulai mengoleksi yang lainnya.
“Sebagian besar pusaka turun temurun dari keluarga saya dan ada juga dari keluarga istri saya. Setelah komunikasi dengan kawan kawan banyak juga yang menitip. Alhamdulillah semua ada standarisasi dan sertifikasinya dari museum dan komunitas,” ujarnya.
Baca Juga:Waspada, 4 Wilayah di Sumsel Diprakirakan Diguyur Hujan Lebat Hari Ini
Secara detail Erwin menerangkan setiap benda pusaka itu dapat dilihat dari sisi eksoteris dan isoterisnya.
Segi eksoteris ialah sisi keindahan fisik dan kelangkannya sedangkan sisi isoteri melekat pada nilai spiritual atau filosofi dalam keris.
“Jika tidak semua orang punya benda pusaka itu, maka kita termasuk orang yang memiliki benda pusaka esoteri yang lebih. Ada juga dapur dalam bentukan keris dan pamor motif dalam bilah keris yang mengandung filosofi pembuatan keris,” tutupnya.
Kontributor: Renaldi
Baca Juga:133.000 Dosis Vaksin Moderna Disiapkan bagi Masyarakat Sumsel