alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Terbatas Sarana Sekolah Daring, Ponpes di Muaraenim Gelar Belajar di Bawah Pohon Sawit

Tasmalinda Rabu, 11 Agustus 2021 | 08:02 WIB

Terbatas Sarana Sekolah Daring, Ponpes di Muaraenim Gelar Belajar di Bawah Pohon Sawit
Para santri belajar di bawah pohon sawit [Sumselupdate] Karena terbatas sarana sekolah daring, ponpes di Muaraenim ini gelar sekolah di bawah pohon sawit.

Karena terbatas sarana belajar daring bagi siswanya, Ponpes ini gelar belajar di bawah pohon sawit.

SuaraSumsel.id - Proses pembelajaran di Yayasan Thawalib Darussalam Muaraenim berbeda pada umumnya. Para santri yang belajar di Pesantren Thawalib Darussalam Muaraenim menggelar pembelajaran di alam terbuka, tepatnya di bawah pohon sawit dengan beralaskan tanah.

Hal ini dilakukan karena terbatasnya sarana pembelajaran daring. Melansir dari Sumselupdate.com - jaringan Suara.com, para santriwan dan santriwati diakui masih bersemangat belajar.

Pimpinan Ponpes Thawalib, Zulkarnain atau yang sering disapa Buya Zul mengatakan, suasana baru di Pesantren Thawalib ini proses belajarnya tidak dalam ruang kelas namun di bawah pohon sawit. Namun para siswa juga beragam dengan keterbatasan sarana daring, maka pembelajaran di gelar di alam terbuka.

“Saat ini bangsa kita masih di landa bencana virus Corona dimana pemerintah belum memberlakukan sekolah tatap muka untuk menghindari penyebaran Covid 19. Akan tetapi kondisi para santri yang mondok di tempat kita ini rata-rata berasal dari berbagai tempat dan daerah dan kondisi perekonomiannya juga rendah sehingga merasa keberatan untuk membeli sarana belajar daring seperti Hand Phone apalagi untuk membeli paket,” ungkapnya.

Baca Juga: Kapolda Sumsel Diperiksa soal Donasi Rp 2 Triliun, Polri: Itu Masalah Internal

Ponpes yang beralamat jalan Thawalib Kelurahan Air Lintang Kecamatan Muaraenim, Kabupaten Muaraenim Sumsel, menggelar pembelajaran di alam terbuka guna menghindari kerumunan di dalam kelas.

“Meski demikian anjuran pemerintah dengan penerapan Protokol Kesehatan seperti mencuci tangan, pakai masker dan menjaga jarak tetap kami kedepankan,” sambungnya.

Sistem belajar pun diatur untuk tingkat SMP atau Tsanawiyah di mulai pagi dari jam tujuh sedangkan untuk tingkat SMA belajarnya di mulai siang. Pembagian ini agar tidak menimbulkan kerumunan para santri itu sendiri.

“Sesungguhnya kualitas pendidikan itu bukan ditentukan oleh kemewahan sarana dan prasarana tempat pendidikan akan tetapi sangat di tentukan dari rasa keprihatinan dan kemandirian santri dalam menambah ilmu pengetahuan. Karena banyak para pemimpin dan tokoh terlahir dari kondisi pendidiikan yang sangat sederhana,”terang ia..

Ponpes yang berdiri sekitar 2003 ini memiliki fasilitas penunjang seperti gedung belajar. Asrama laki-laki, kantor, dan fasilitas olahraga dan sumber air.

Baca Juga: Soal Donasi Fiktif, Ini Dalih Mabes Polri Ogah Ungkap Hasil Pemeriksaan Kapolda Sumsel

Beberapa siswa mengatakan proses belajar dengan sistem di alam terbuka ini juga menarik, karena tidak membuat mengantuk

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait