Penyerahan bantuan sendiri biasanya dilakukan pada momen tertentu, misalnya momen saat pasien COVID 19 naik, atau seperti momen Akidi Effect.
"Kami hanya berfikir postif saja, akhirnya memang menjadi gerakan yang positif. Misalnya bantuan yang diberikan kian bertambah dan bentuknya bukan uang, melainkan sudah berupa barang yang dibutuhkan bagi penanganan COVID 19, seperti tabung oksigen, obat-obatan, dan tes PCR," terang pengusaha ekspedisi ini.
Dana Rp 2 miliar yang baru terkumpul kini sudah diubah dalam bentuk pembelian tabung oksigen dan obat-obatan medis bagi mereka yang isoman, sekaligus pelayanan kesehatan berupa konsultasi ke dokter.
Kurmin yang hadir pada saat penyerahan bantuan donasi Akidi Tio, 26 Juli lalu sempat berfikir ragu atas sumbangan tersebut. Namun hal tersebut tidak pernah ia utarakan, meski sesama teman menanyakan sosok Akidi Tio.
Baca Juga:Gubernur Sumsel Belum Pastikan Perpanjangan PPKM Level 4 di Wilayahnya, Kenapa?
Sebagai pengusaha yang juga memiliki jangkauan bisnis hingga ke Singapura, ia mengaku akan sulit mengambil dana dalam jumlah yang lumayan besar tersebut.
"Saya ragu, namun saya diam. Saya tidak mau makin memperkeruh suasana, banyak sekali yang tanya kepada saya, tidak saya jawab. Jika teman-teman dekat yang tanya pun, saya ajak bercanda aja, Mukini kale ya," cerita Kurmin.
Ia mengaku sebagai masyarakat dengan marga yang sama, ia merasa kecewa dan marah, namun setiap manusia memiliki kelemahan masing-masing.
"Ada rasa kecewa dan marah, tapi manusia tidak luput dari kesalahan. Mungkin punya alasan sendiri. Jika pun benar-benar hoaks, nampaknya ia melalukan perbuatan yang fatal, karena yang dibohongi ialah jendral bintang dua," sambung Kurmin.
Namun sesama marga Tionghoa, dikatakan Kurmin, ia bersama teman-teman bukan seolah bertanggungjawab atas perihal kasus Akidi Tio.
Baca Juga:PPATK Ungkap Deretan Kejanggalan Kasus Sumbangan Akidi Tio, Kapolda Sumsel Bikin Curiga
"Intinya, kita ingin berbuat baik. Jika itu benar, tentu nama keluarganya yang menjadi terhormat dan yang merasakan juga masyarakat Sumsel, tanpa melihat agama dan suku. Namun jika tidak, seharusnya kasus ini tidak boleh terjadi," ujar ia.