- Sepanjang 2025, BPBD Sumsel mencatat 284 kejadian bencana, didominasi banjir (107 kali) dan angin kencang (76 kali).
- Banjir paling sering melanda Musi Banyuasin, sementara kebakaran mendominasi wilayah perkotaan seperti Palembang.
- Dampak bencana mencakup kerusakan ratusan rumah, terendamnya puluhan ribu hunian, serta kerugian sektor pertanian signifikan.
SuaraSumsel.id - Rentetan bencana alam yang terjadi di Sumatera Selatan sepanjang 2025 memunculkan pertanyaan serius di tengah publik: apakah bencana di Sumsel kini makin meluas dan tak lagi bersifat insidental?
Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Selatan menunjukkan angka yang tak bisa dianggap sepele, sebanyak 284 kejadian bencana tercatat hanya dalam satu tahun.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengungkapkan bahwa banjir menjadi bencana yang paling sering terjadi. Dari total kejadian tersebut, 107 di antaranya adalah banjir, disusul angin kencang sebanyak 76 kali, kebakaran 66 kali, tanah longsor 27 kali, puting beliung tujuh kali, serta satu kejadian banjir bandang.
Dominasi banjir ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri, terlebih karena sebarannya tidak terpusat di satu wilayah. Kabupaten Musi Banyuasin tercatat sebagai daerah dengan kejadian banjir terbanyak, disusul Muara Enim, Ogan Komering Ulu, Banyuasin, dan Penukal Abab Lematang Ilir. Pola ini memunculkan kesan bahwa banjir di Sumsel bukan lagi persoalan musiman, melainkan telah menjadi ancaman yang berulang dan meluas lintas wilayah.
Baca Juga:Kondisi Terkini Banjir OKU Timur: Warga Terima Sembako dan Janji Benih Padi
Ancaman lain juga tak kalah mengkhawatirkan. Angin kencang paling sering melanda Ogan Ilir dan Banyuasin, sementara kebakaran justru mendominasi kawasan perkotaan seperti Kota Palembang, yang mencatat jumlah kejadian tertinggi. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan lanjutan: apakah kesiapan mitigasi bencana di wilayah perkotaan sudah memadai?
Bencana tanah longsor dan puting beliung turut memperlihatkan bahwa risiko tidak hanya datang dari air. Bahkan, satu kejadian banjir bandang di OKU Selatan menelan korban jiwa, mempertegas bahwa sebagian bencana kini berujung pada dampak fatal.
Dampak yang ditimbulkan sepanjang 2025 pun terbilang besar. Ratusan rumah mengalami kerusakan dari kategori ringan hingga berat, puluhan ribu rumah terendam banjir, dan puluhan fasilitas umum seperti sekolah, rumah ibadah, serta fasilitas kesehatan ikut terdampak. Sektor pertanian juga terpukul, dengan ribuan hektare sawah dan perkebunan terdampak, sementara jembatan dan jaringan air bersih ikut mengalami kerusakan.
Melansir ANTARA, puluhan ribu kepala keluarga terdampak langsung, ratusan terpaksa mengungsi, dan korban luka maupun meninggal dunia tercatat dalam statistik resmi. Angka-angka ini membuat bencana tak lagi sekadar catatan tahunan, tetapi alarm keras bagi pemerintah dan masyarakat.
Di tengah situasi ini, publik wajar bersikap skeptis. Apakah peningkatan kejadian bencana semata akibat faktor alam dan cuaca ekstrem, atau ada persoalan lain seperti tata ruang, alih fungsi lahan, hingga lemahnya upaya pencegahan?
Baca Juga:Air Naik Saat Warga Terlelap, 7 Fakta Banjir Rendam Empat Desa di OKU Timur
Jika pola ini terus berulang setiap tahun, Sumatera Selatan berpotensi memasuki fase kerawanan bencana yang lebih serius.
Data BPBD kini menjadi cermin. Bukan hanya untuk melihat apa yang telah terjadi, tetapi juga untuk menjawab pertanyaan yang makin sering muncul di masyarakat: apakah Sumsel sudah cukup siap menghadapi bencana yang kian sering dan kian luas?