Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Harga Telur dan Daging Ayam Paling Pengaruhi Deflasi Sumsel

Tasmalinda Kamis, 01 Oktober 2020 | 15:22 WIB

Harga Telur dan Daging Ayam Paling Pengaruhi Deflasi Sumsel
Aktivitas jual beli telur ayam di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Sabtu (14/7/2018). [Suara.com/Oke Atmaja]

Sumsel mengalami deflasi 0,04 persen, tidak jauh dibandingkan deflasi nasional 0,05 persen.

SuaraSumsel.id - Provinsi Sumatera Selatan mengalami deflasi pada September sebesar 0,04 persen. Kondisi ini hampir sama dibandingkan dengan pembentuk ekonomi di nasional yang juga mengalami deflasi 0,05 persen.

Badan Pusat Statistik Sumatera Selatan mengumumkan kontribusi terbesar deflasi berasal dari konsumsi masyarakat berupa komoditas daging dan telur ayam.

“Dua komoditas yang berpengaruh besar, ialah daging ayam dan telur ayam. Dua komoditas ini tidak hanya berpengaruh pada deflasi tetapi juga inflasi,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Endang Triwahyuningsih, Kamis (1/10/2020).

Menurut Endang, dua komoditas memberikan kontribusi yang cukup besar membentuk stuktur konsumsi di masyarakat Sumsel. Misalnya saja komoditas telur ayam yang dikonsumsi untuk beragam jenis makanan, seperti kue, pempek hingga martabak.

Dengan beragam jenis makanan khas Palembang yang berbahan telur, maka konsumsi telur oleh masyarakat bisa terbilang tinggi.

“Apalagi di situasi pandemi misalnya masyarakat meningkatkan kebutuhan protein bagi kesehatan. Mengkonsumsi telur bisa beragam jenis makanan,” terang Endang.

Selain telur, daging ayam ras juga menjadi komoditas penyumbang ekonomi di daerah. Sejak pandemi, intensitas masyarakat guna menggelar hajatan juga menurun.

Selain itu, perhotelan juga tengah sepi tamu sehingga mengalami pengurangi serapan daging ayamnya.

“Dua komoditas ini memberikan andil yang harus dijaga,” ungkapnya.

Tidak hanya Sumsel yang mengalami deflasi, kota Palembang juga mengalami deflasi 0,05% sementara kota Lubuklinggau mengalami inflasi 0,04%.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait