Tasmalinda
Sabtu, 07 November 2026 | 13:20 WIB
Perempuan penjaga hutan dan pegiat pangan lokal Sumatera Selatan
Baca 10 detik
  • Perempuan perhutanan sosial Sumatera Selatan memperkenalkan jamur grigit sebagai penyedap alami di Javara Kemang, Jakarta, pada 5-10 Januari 2026.
  • Pelatihan Sekolah Seniman Pangan dan The Asia Foundation membantu tiga desa mengolah pangan lokal menjadi produk bernilai ekonomi.
  • Perempuan desa berperan sebagai penjaga pengetahuan tradisi kuliner hutan untuk memperkuat ekonomi serta menjaga kelestarian ekosistem.

SuaraSumsel.id - Pengetahuan tentang pangan tidak selalu lahir dari dapur modern atau resep yang tertulis dalam buku masak. Di sejumlah desa di Sumatera Selatan, pengetahuan itu tumbuh dari hubungan panjang masyarakat dengan hutan, dari mengenali tanaman yang bisa dimakan, merawat bahan pangan, hingga mengolahnya menjadi hidangan keluarga.

Salah satunya adalah jamur grigit. Bagi masyarakat setempat, jamur ini bukan bahan pangan baru. Namun, di balik kebiasaan mengolahnya, tersimpan potensi yang belum sepenuhnya dikenali, termasuk kemampuannya menjadi penyedap alami dalam masakan.

Pengetahuan tersebut kembali mendapat ruang melalui kegiatan Puan Rimba Pop Up Market di Javara Kemang, Jakarta. Perempuan dari kelompok usaha perhutanan sosial di Sumatera Selatan memperkenalkan kekayaan pangan lokal yang selama ini dekat dengan kehidupan mereka kepada masyarakat perkotaan.

Dalam kegiatan tersebut, jamur grigit menjadi salah satu bahan pangan yang menarik perhatian. Helianti Hilman, dalam kegiatan Eksplorasi Rasa Pangan Perempuan Rimba, menyoroti bagaimana masyarakat semakin terjebak dalam pola konsumsi makanan industrial, sementara kekayaan pangan di lingkungan sekitar justru belum banyak dimanfaatkan.

"Masyarakat terjebak dari makanan industrial, padahal makanan di sekitar sangat berlimpah, tapi pengetahuannya kini terputus," ujar Helianti.

Ia mencontohkan jamur grigit sebagai salah satu bahan pangan lokal yang memiliki potensi pengolahan. Jamur tersebut dapat memberikan cita rasa alami tanpa harus bergantung pada penyedap buatan.

"Salah satunya jamur grigit yang menarik, tanpa menggunakan penyedap buatan, namun penyedap alami," ujarnya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa persoalan pangan bukan hanya menyangkut ketersediaan bahan makanan. Ada pula pengetahuan masyarakat tentang cara mengenali, mengolah, dan memanfaatkan bahan pangan yang perlahan perlu dirawat kembali.

Jamur yang dikenal sejak lama, pengetahuannya terus berkembang

Baca Juga: Dari Pekarangan ke Pasar, Perempuan Ganesha Mukti Membangun Kemandirian Pangan

Bagi Ani Tasriah, perempuan penjaga hutan dari Desa Penyandingan, Sumatera Selatan, jamur grigit bukan sesuatu yang asing. Masyarakat di lingkungannya telah mengenal dan mengolah jamur tersebut sebagai bagian dari kebiasaan makan sehari-hari.

Namun, pemanfaatannya selama ini lebih dikenal sebagai hidangan pendamping, bukan sebagai pengganti penyedap buatan.

"Kami tahunya, jika jamur itu sebagai hidangan yang dimakan dengan serambi, dengan selai jamur," ungkap Ani.

Pengalaman Ani memperlihatkan adanya jarak antara pengetahuan yang telah dimiliki masyarakat dengan kemungkinan pengembangan bahan pangan tersebut. Sesuatu yang selama ini dianggap biasa di lingkungan desa ternyata memiliki potensi lain ketika dilihat melalui pendekatan gastronomi.

Di sinilah pengetahuan lokal memperoleh ruang untuk berkembang. Bahan pangan yang telah dikenal turun-temurun tidak sekadar dipertahankan sebagai tradisi, tetapi juga dipelajari kembali kemungkinan pengolahannya.

Bagi perempuan di sekitar kawasan perhutanan sosial, pengetahuan tentang bahan pangan merupakan bagian dari hubungan mereka dengan lingkungan. Mereka mengenali bahan yang tersedia, mengetahui cara mengolahnya, dan merawat tradisi yang diwariskan antargenerasi.

Load More