Tasmalinda
Selasa, 03 November 2026 | 19:23 WIB
Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi di Desa Ganesha Mukti, Banyuasin, menunjukkan bibit sayuran
Baca 10 detik
  • Kelompok Wanita Tani Srikandi di Desa Ganesha Mukti memanfaatkan pekarangan rumah untuk membudidayakan sayuran guna mengatasi kesulitan pangan keluarga.
  • KWT Srikandi mengolah hasil pertanian lokal menjadi produk keripik bernilai jual serta mengantongi izin Pangan Industri Rumah Tangga.
  • Kegiatan budidaya dan usaha produktif tersebut mendapat dukungan pendampingan dari ICRAF, perbankan, serta mitra usaha untuk memperluas pemasaran.

SuaraSumsel.id - Di Desa Ganesha Mukti, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, pekarangan rumah perlahan mendapat peran lebih dari sekadar ruang kosong di sekitar tempat tinggal.

Lahan kecil itu dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis sayuran yang bisa dikonsumsi keluarga, sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian pangan masyarakat.

Perubahan tersebut tidak lepas dari keterlibatan kelompok perempuan tani. Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi, warga mulai mengembangkan kebun pangan rumah tangga, mengelola hasil panen, hingga mengolah sebagian produk pertanian menjadi makanan ringan bernilai jual.

Bagi masyarakat desa yang sebagian wilayahnya merupakan lahan gambut, ketersediaan pangan menjadi persoalan yang tidak selalu sederhana. Sekitar 20 persen rumah tangga di Ganesha Mukti pernah mengalami kesulitan memperoleh pangan, terutama pada periode Juni hingga September. Kondisi tersebut mendorong perlunya sumber pangan yang lebih dekat dengan rumah tangga.

KWT Srikandi menjadi salah satu kelompok yang mengambil peran dalam upaya tersebut. Dipimpin Siti Sari, kelompok ini memiliki 38 anggota yang terlibat dalam kegiatan pengembangan pangan dan usaha produktif perempuan.

Salah satu kegiatan yang dikembangkan adalah pemanfaatan pekarangan untuk menanam sayuran.

“Kangkung, bayam, kemangi, dan terong menjadi beberapa jenis tanaman yang dibudidayakan. Kebun-kebun kecil tersebut telah menghasilkan lebih dari sepuluh kali panen,” ujarnya belum lama ini.

Hasilnya tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur keluarga. Sebagian sayuran juga dipasarkan melalui kegiatan Bank Sayur. Dengan cara ini, pekarangan rumah dapat menjadi sumber bahan pangan sekaligus membuka peluang tambahan penghasilan.

Perubahan tersebut membawa pendekatan baru dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keluarga memiliki akses lebih dekat terhadap sayuran segar, sementara hasil kebun yang berlebih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi kelompok.

Baca Juga: IIPK Bank Sumsel dan TP PKK Sumsel Babel Perkuat Peran Perempuan dan Ketahanan Keluarga

Dari hasil kebun menjadi produk olahan

Upaya KWT Srikandi tidak berhenti pada kegiatan menanam dan memanen. Kelompok ini juga mengembangkan usaha pengolahan pangan melalui unit usaha Nyanding Keripik.

Berbagai bahan pangan lokal, seperti umbi-umbian, pisang, dan talas, diolah menjadi produk makanan ringan. Pengolahan tersebut menjadi salah satu cara memperpanjang pemanfaatan hasil pertanian sekaligus memberikan nilai tambah pada bahan pangan yang tersedia di desa.

Pengembangan usaha ini turut didukung peningkatan kapasitas kelompok. “KWT Srikandi telah memiliki izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), yang menjadi salah satu bekal untuk mengembangkan produksi pangan olahan,” ujarnya.

Kelompok ini juga memperoleh dukungan dari Bank Sumsel Babel dan Kibo Alliance, termasuk bantuan mesin pengolah tepung umbi. Selain itu, terdapat kemitraan dengan Koperasi Setia Kawan serta akses pemasaran melalui gerai makanan ringan di Palembang.

Dukungan tersebut membuka kesempatan bagi produk olahan warga untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Bahan pangan yang sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga kini memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk usaha.

Load More