- Perempuan perhutanan sosial Sumatera Selatan memperkenalkan jamur grigit sebagai penyedap alami di Javara Kemang, Jakarta, pada 5-10 Januari 2026.
- Pelatihan Sekolah Seniman Pangan dan The Asia Foundation membantu tiga desa mengolah pangan lokal menjadi produk bernilai ekonomi.
- Perempuan desa berperan sebagai penjaga pengetahuan tradisi kuliner hutan untuk memperkuat ekonomi serta menjaga kelestarian ekosistem.
Pengetahuan semacam ini menjadi modal penting dalam mengembangkan pangan lokal sekaligus memperkuat peran perempuan dalam ekonomi berbasis sumber daya alam.
Membawa kekayaan pangan desa ke pasar perkotaan
Upaya memperkenalkan pangan lokal tersebut menjadi bagian dari pelatihan Idea to Market: Pengembangan Produk dan Pop Up Gastronomi yang diselenggarakan Sekolah Seniman Pangan dengan dukungan The Asia Foundation pada 5–10 Januari 2026 di Jakarta.
Tiga desa dampingan PINUS di Sumatera Selatan, yakni Desa Tanjung Agung, Desa Kota Padang, dan Desa Penyandingan, turut berpartisipasi dalam pelatihan intensif selama enam hari.
Pelatihan dirancang dengan komposisi 70 persen praktik dan 30 persen teori. Peserta mempelajari pemilihan bahan baku dari desa, teknik pengolahan, penataan sajian, penyusunan narasi produk, hingga gastronomi berbasis budaya lokal.
Berbagai olahan pangan diperkenalkan dalam sesi praktik, antara lain kue jambu hutan, bumbu dan sambal terong Belanda, brengkes tempoyak, serta nasi jamur grigit.
Ragam sajian tersebut memperlihatkan bagaimana kekayaan hayati lokal dapat diolah menjadi produk gastronomi. Bahan pangan yang selama ini dekat dengan kehidupan masyarakat desa diperkenalkan melalui pendekatan penyajian dan narasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.
Puncak kegiatan berlangsung melalui Puan Rimba Pop Up Market di Javara Kemang. Kegiatan ini menjadi ruang promosi sekaligus kesempatan bagi perempuan pengelola Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) untuk menguji respons pasar terhadap produk mereka.
Pertemuan antara pangan desa dan konsumen perkotaan tersebut membuka peluang baru. Produk tidak hanya diperkenalkan berdasarkan rasa, tetapi juga melalui cerita mengenai asal bahan baku, tradisi pengolahan, dan pengetahuan masyarakat yang merawatnya.
Baca Juga: Dari Pekarangan ke Pasar, Perempuan Ganesha Mukti Membangun Kemandirian Pangan
Perempuan sebagai penjaga pengetahuan pangan
Keterlibatan perempuan dalam perhutanan sosial memiliki makna lebih luas daripada sekadar meningkatkan pendapatan keluarga. Mereka juga menjadi penjaga pengetahuan tentang tanaman, bahan pangan, cara pengolahan, dan tradisi kuliner yang berkembang di lingkungan tempat tinggalnya.
Dalam publikasi PINUS berjudul Women Forest Defenders: Menjaga Hutan Lewat Rasa, perempuan digambarkan sebagai perpustakaan hidup bagi ekosistemnya.
Ungkapan tersebut menggambarkan peran perempuan dalam menjaga pengetahuan biologis dan kultural yang diwariskan lintas generasi. Dalam setiap sajian brengkes tempoyak maupun nasi jamur grigit, terdapat pengetahuan mengenai bahan pangan, cara mengolah, dan tradisi yang melekat pada kehidupan masyarakat.
Ketika pengetahuan itu dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi, perempuan memperoleh kesempatan lebih besar untuk terlibat dalam pengelolaan usaha. Mereka tidak hanya menjadi pelaku produksi, tetapi juga memiliki ruang untuk menentukan arah pengembangan produk dan memperluas akses pemasaran.
Namun, pengembangan ekonomi berbasis hasil hutan bukan kayu tetap perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya. Pemanfaatan kekayaan hayati harus memperhatikan kelestarian ekosistem dan memastikan bahan pangan yang digunakan tetap tersedia bagi generasi berikutnya.
Tag
Berita Terkait
-
Dari Pekarangan ke Pasar, Perempuan Ganesha Mukti Membangun Kemandirian Pangan
-
IIPK Bank Sumsel dan TP PKK Sumsel Babel Perkuat Peran Perempuan dan Ketahanan Keluarga
-
Hari Kartini 2026, BRI Dorong Perempuan Berdaya Lewat Srikandi Pertiwi
-
Perkuat Peran Perempuan, BRI Hadirkan Kepemimpinan Inklusif dan Akses UMKM Lebih Luas
-
Ketika Perempuan Mengolah Manis Alam Menjadi Kehidupan
Terpopuler
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
- Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa PUSPOM? Panglima TNI: Itu Hoaks
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Sulap Kontrakan Jadi Sarang Prostitusi, Perempuan 53 Tahun di Baturaja Diciduk Polisi
-
Dari Hutan ke Meja Gastronomi, Perempuan Sumsel Merawat Pengetahuan Pangan Lokal
-
PTBA Raih Penghargaan Kementerian ESDM atas Kepatuhan Pembayaran PNBP
-
Dukung Pendidikan, BRI Private dan BRI Prioritas Hadirkan Keistimewaan di Sequoia School
-
Investor dari 6 Negara Jajaki Potensi Hilirisasi Sumsel dalam 3rd Sriwijaya Economic Forum 2026