Tasmalinda
Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:35 WIB
Rig pengeboran berdiri di lokasi pengembangan Sumur GNK-115, Struktur Gunung Kemala, Prabumulih, Sumatera Selatan.
Baca 10 detik
  • Rumah Makan Pecel Lele Pakjo di Palembang menghemat pengeluaran bulanan berkat penggunaan gas bumi dari PGN.
  • Pertamina Hulu Rokan Zona 4 menerapkan metode batch drilling di Sumur GNK-115 untuk menghemat waktu serta biaya pengeboran.
  • Sumur GNK-115 menjalani uji produksi awal pada 5 Oktober 2026 dengan menghasilkan potensi aliran minyak dan gas.

SuaraSumsel.id - Jam makan tiba, dan dapur Rumah Makan Pecel Lele Pakjo di Palembang, Sumatera Selatan, makin bergerak cepat. Dari ruang makan, pesanan datang bersahutan. Di dapur, bunyi peralatan masak beradu dan kepulan asap kian naik ke langit-langit.

Sekitar 20 kompor berapi biru menyala di hadapan para juru masak. Belasan di antaranya dipakai menggoreng ayam, ikan serta menumis bumbu. Tiga kompor lain menangani tahap akhir memasak sebelum hidangan diantar ke meja pelanggan. Selama jam operasional, kompor-kompor itu nyaris tidak pernah padam.

Yaskino, kepala koki Pakjo, memakai gas bumi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) selama hampir dua dekade. Menurut perkiraannya, pemakaian gas bumi menghemat pengeluaran usaha sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta setiap bulan.

Rumah Makan Pecel Lele Pakjo adalah satu dari pelanggan gas bumi PGN di Palembang. Dalam catatan penagihan Juli 2026, kota ini telah memiliki 6.870 pelanggan PGN. Rinciannya 6.574 rumah tangga, 180 usaha kecil, serta 116 pelanggan industri dan komersial.

Layanan gas bumi ke dapur-dapur seperti ini berada dalam sistem energi yang lebih luas, dari produksi di hulu hingga distribusi ke pelanggan. Di hulu, upaya menjaga dan menambah produksi dari lapangan yang sudah lama beroperasi terus berjalan.

Salah satunya di Struktur Gunung Kemala, Prabumulih, Sumatera Selatan. Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 mengebor Sumur GNK-115 dengan metode batch drilling, yakni teknologi pengerjaan beberapa sumur dalam satu kawasan secara berurutan memakai rig yang sama. Dengan kata lain ini, tahapan pembongkaran hingga pemasangan rig tidak perlu diulang untuk setiap sumur yang berdekatan ini.

Metode tersebut telah dipakai pada pengeboran GNK-115 sejak 21 Juli 2026. Alhasil, pengeboran telah selesai dalam 55 hari kerja, atau 16 hari kerja lebih cepat dari target yang seharusnya 71 hari kerja. Penyusutan hari kerja, juga berimbas pada biaya yang terpakai hanya 76,25 persen dari anggaran seharusnya.

Selain itu, aplikasi metode ini juga hanya membutuhkan lahan yang lebih kecil. Dari perkiraan sekitar 10 hektar menyusut menjadi 8 hektar, akibat adanya pengaturan lokasi sumur dan fasilitas pengeboran yang berdekatan pada aktivitas pengeboran.

Metode Batch drilling juga pernah dibahas di forum industri internasional. Sebuah makalah teknis yang dipresentasikan pada konferensi minyak dan gas di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, tahun 2024, mengungkapkan peluang efisiensi waktu dan biaya lewat metode ini meski kondisi geologi dan karakteristik lapangan berbeda di tiap wilayah.

Baca Juga: Hari Listrik Nasional ke-81, Pertamina Kilang Plaju Dukung Kemandirian Energi lewat PLTMh

Di lingkungan PHR Zona 4, metode ini lebih dulu dipakai di Struktur Benuang, wilayah kerja Pertamina EP Adera Field, sejak 2025. Pada 30 November 2025, Adera Field mencatat produksi minyak mencapai 5.214 barel per hari (BOPD) serta gas 19,15 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD). Angka itu menjadi pencapaian tertinggi sejak lapangan tersebut dikelola Pertamina pada 1983.

Sementara pada Sumur GNK-115 telah menjalani uji produksi awal pada 5 Oktober 2026 dengan menghasilkan potensi aliran minyak 2.423,29 BOPD serta gas 1,95 MMSCFD.

Petugas PGN menjelaskan skema pasokan dan penyaluran gas, termasuk peran Offtake Station Demang Lebar Daun

Merawat Lapangan Matur

Sebagian besar lapangan PHR Zona 4 memang tergolong matur yakni situasi yang rawan mengalami penurunan produksi alamiah (natural decline). Namun tren penurunan itu berbalik sejak 2022.

Pada 2025, produksi minyak Zona 4 mencapai 27.642 BOPD, atau mengalami kenaikan 6,6 persen dari tahun sebelumnya. Kenaikan itu berasal dari dua jalur yakni pengeboran sumur baru, serta intervensi pada sumur yang sudah lebih matang, yakni ada lewat workover dan well intervention.

Pencapaian pengeboran membuat PHR Zona 4 menerima Best Production Performance Award-Infill and Step-Out Drilling 2025 dari SKK Migas, serta lima penghargaan dari Subholding Upstream (SHU) Pertamina.

Pada 14 Oktober 2026, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan (Puskep) Universitas Indonesia, Ali Ahmudi Achyak saat menanggapi langkah Pertamina Hulu Energi dalam mengoptimalkan sumur – sumur lama optimis jika cadangan migas Indonesia masih tersedia.

“Meski katanya terbatas, namun sumur-sumur yang sudah lama masih menyimpan peluang menambah produksi jika teknologinya tepat,” ujarnya.

Pakar ketahanan energi ini juga menyakini penerapan teknologi baru dapat menekan tantangan biaya sehingga sebagian sumur yang tadinya tidak ekonomis tetapi tetap layak kelola.

Dalam rencana kerja dan anggaran (WP&B) 2026, PHR Zona 4 menargetkan produksi minyak 30.666 BOPD dan gas 484,9 MMSCFD dengan merencanakan pengeboran sebanyak 107 sumur, workover 62 sumur, dan 310 kegiatan well intervention. Di areal wilayah kerja Adera Field dan Pendopo Field, dijadwalkan sebanyak 24 dan 13 pengeboran sumur.

General Manager PHR Zona 4 Heru Irianto mengatakan, pengembangan sumur ini bagian dari upaya menghadirkan inovasi di operasi hulu migas untuk mendukung ketahanan energi nasional.

“PHR Zona 4 terus berinovasi dalam mendukung ketahanan energi nasional. Pencapaian di Sumur GNK-115 menjadi pemacu semangat untuk tak pernah berhenti mencari terobosan-terobosan inovasi baru yang kian andal dan berkelanjutan,” ujar Heru belum lama ini,

Selain batch drilling, PHR Zona 4 menerapkan dual completion, yaitu metode memproduksikan dua lapisan reservoir sekaligus dari satu sumur.

Inovasi ini sudah dipakai di Sumur BNG-D14 yang menunjukkan potensi gas 2,836 MMSCFD pada lapisan TAF-L1, serta minyak 572,8 BOPD dan gas 1,666 MMSCFD pada lapisan TAF-N2. Hingga akhir tahun ini, dual completion direncanakan juga pada Sumur BNG-D19 dan BNG-B7 di Adera Field, serta GNK-PD80 di Prabumulih Field.

Sumur yang sudah berproduksi pun perlu dirawat karena tekanan reservoir menurun seiring waktu, misalnya pada Sumur LBK-29 di Prabumulih Field, yang berhenti mengalirkan migas pada 13 Maret 2026 akibat tenaga alamiah reservoir menurun.

Pada 20 sampai 24 Maret 2026, PHR Zona 4 melakukan intervensi dengan teknologi artificial lifting menggunakan electric submersible pump (ESP). Pada initial flow test, sumur itu kembali menunjukkan potensi minyak 552 BOPD dan gas 0,35 MMSCFD.

Senior Manager Subsurface and Development Planning (SSDP) PHR Zona 4 Reza Nur Ardianto mengatakan, perusahaan akan terus mendorong inovasi guna mengoptimalkan pengelolaan lapangan yang telah memasuki fase matang.

“Kami akan menjadikan pencapaian ini sebagai catatan dalam upaya mengoptimalkan pengurasan minyak dan gas di lapangan matur Zona 4 dan terus melakukan inovasi guna mendukung ketahanan energi saat ini,” ujar Reza.

Instalasi jaringan gas bumi PGN di Palembang dilengkapi perangkat pengukur tekanan

Dari sumur ke kompor

Gas yang dipakai Yaskino setiap hari melewati rangkaian produksi, pengelolaan pasokan, jaringan pipa, dan pengaturan distribusi ke pelanggan. Di Palembang, salah satu simpul pentingnya adalah Offtake Station Demang Lebar Daun. Di fasilitas ini, tekanan gas disesuaikan dan volumenya diukur sebelum dialirkan lewat pipa ke titik penyerahan pelanggan.

Koki Yaskino tidak perlu mengetahui setiap proses teknis di hulu untuk merasakan arti gas bagi pekerjaannya. Ia menyiapkan hidangan dan memastikan pesanan tersaji, dengan sekitar 20 kompor yang bergantung pada ketersediaan gas.

Di Gunung Kemala, batch drilling berjalan dari satu sumur ke sumur berikutnya. Di antara dua tempat itu ada jarak, dan ada rangkaian proses yang menyambungkan sumber energi dengan kebutuhan sehari-hari. Di hulu, upaya menjaga produksi lapangan yang kian matang menjadi bagian dari sistem inovasi energi yang sama.

Load More