Tasmalinda
Minggu, 25 Oktober 2026 | 22:55 WIB
Hujan mengguyur Kota Palembang dan sekitarnya pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026, setelah berbulan-bulan mengalami kemarau panjang.
Baca 10 detik
  • Hujan mengguyur Kota Palembang dan sekitarnya pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026, setelah berbulan-bulan mengalami kemarau panjang.
  • BMKG menyatakan hujan terjadi karena dukungan dinamika atmosfer serta pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca menggunakan bahan natrium klorida.
  • Sejumlah wilayah di Sumatera Selatan seperti Banyuasin dan Muara Enim turut tercatat mengalami hujan dengan intensitas beragam.

SuaraSumsel.id - Hujan akhirnya mengguyur Kota Palembang dan sejumlah wilayah di Sumatera Selatan pada Sabtu (24/10/2026) sore, setelah masyarakat berbulan-bulan menghadapi kemarau panjang dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, hujan tersebut terjadi ketika kondisi dinamika atmosfer mendukung pertumbuhan awan hujan. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan tim terkait juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan peluang turunnya hujan.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengatakan hujan yang turun merupakan hasil dari kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan, disertai pelaksanaan OMC menggunakan bahan semai natrium klorida atau NaCl.

“Dapat kami sampaikan bahwa secara dinamika atmosfer memang mendukung pembentukan awan hujan + dampak dari OMC dengan bahan semai NaCl,” ujar Siswanto kepada awak media.

Hujan yang turun pada sore hari itu menjadi perkembangan penting di tengah kondisi kemarau dan kabut asap yang sebelumnya mengganggu aktivitas masyarakat di Palembang dan sekitarnya.

Meski demikian, hujan yang terjadi di sejumlah lokasi belum berarti seluruh wilayah Sumatera Selatan telah terbebas dari kekeringan maupun dampak karhutla.

Hujan Turun Sekitar 26 Menit di Palembang

Berdasarkan laporan yang disampaikan, hujan mengguyur Palembang dan sekitarnya sekitar pukul 16.29 WIB hingga 16.55 WIB pada Sabtu (24/10/2026).

Siswanto menjelaskan, potensi pertumbuhan awan hujan sebenarnya telah teridentifikasi melalui data model cuaca untuk tanggal tersebut. Kondisi itu kemudian menjadi salah satu pertimbangan tim dalam memaksimalkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca.

Baca Juga: Karhutla Sumsel Terus Berulang, Gambut Mengering dan Kearifan Lokal Kian Terabaikan

“Karena memang secara data model yang kita tanggal 24 Okt 2026 diprakirakan akan ada potensi pertumbuhan awan hujan sehingga tim memaksimalkan dengan OMC,” katanya.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa hujan tidak semata-mata dikaitkan dengan pelaksanaan modifikasi cuaca. Kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan juga menjadi faktor penting.

Dengan kata lain, OMC merupakan upaya untuk mendukung peluang terjadinya hujan ketika kondisi atmosfer memungkinkan, bukan jaminan bahwa hujan akan turun merata di seluruh wilayah sasaran.

Data penakar hujan BMKG menunjukkan intensitas hujan yang berbeda di sejumlah titik pengamatan pada Sabtu sore.

Di Palembang, alat penakar hujan ARG Jakabaring mencatat curah hujan sebesar 0,6 milimeter. Sementara itu, alat pengukur cuaca otomatis AWS di Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan mencatat curah hujan mencapai 11 milimeter.

Di Kabupaten Muara Enim, alat penakar hujan ARG Pulau Panggung mencatat curah hujan sebesar 10 milimeter.

Load More