- Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan pengelolaan lahan konsesi gambut harus dikawal teknis berdasarkan Kesatuan Hidrologis Gambut pada Kamis (1/10/2026).
- Kementerian Lingkungan Hidup mencatat ada 34.989 sekat kanal pada areal gambut seluas 4,15 juta hektare yang dikelola 314 perusahaan hingga Juli 2026.
- Kementerian Kehutanan mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di Sumatra Selatan periode Januari hingga Juli 2026 mencapai 1.926,2 hektare.
Kementerian Lingkungan Hidup mencatat hingga Juli 2026 terdapat sekitar 34.989 sekat kanal di areal gambut seluas sekitar 4,15 juta hektare yang dikelola 314 perusahaan. Di luar wilayah tersebut, terdapat 8.857 sekat kanal di kawasan masyarakat, hutan dan wilayah penyangga, dengan kebutuhan tambahan ribuan unit untuk memperkuat fungsi hidrologi secara menyeluruh.
Angka itu memperlihatkan satu hal: pengelolaan air gambut memang tidak cukup dikerjakan di dalam pagar konsesi.
Sumsel punya pelajaran sendiri
Sumatera Selatan merupakan salah satu wilayah yang menghadapi tekanan karhutla pada musim kemarau 2026. Kemenhut mencatat luas karhutla Sumsel sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 1.926,2 hektare. Sebagian besar berada di lahan mineral, tetapi 68,5 hektare tercatat terjadi di lahan gambut. Banyuasin, Musi Banyuasin, Musi Rawas Utara dan PALI termasuk daerah yang tercatat memiliki karhutla di lahan gambut.
Persoalan gambut di Sumsel juga tidak sederhana karena bentangnya beririsan dengan aktivitas perusahaan, kawasan masyarakat dan wilayah yang memiliki fungsi ekologis penting.
Di lapangan, persoalan air bahkan menjadi salah satu tantangan ketika kebakaran terjadi. Pemerintah Sumsel menyebut struktur gambut, cuaca panas, wilayah yang luas dan sulit dijangkau, keterbatasan sumber air hingga keberadaan api bawah tanah sebagai faktor yang menyulitkan pengendalian karhutla.
Artinya, ketika gambut sudah mengering, persoalannya bukan lagi sekadar di mana api muncul, tetapi mengapa kondisi hidrologi kawasan memungkinkan api bertahan dan menyebar.
Tag
Berita Terkait
-
Sumsel Dikepung 2.639 Titik Panas Hari Ini, Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?
-
16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?
-
Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan
-
Banpres Karhutla Rp100 Miliar Sudah Turun, Apa yang Sudah Berubah di Sumsel?
-
Karhutla Sumsel: 43 Orang Ditahan, 16 Korporasi Disidik, Tapi Hotspot Masih Muncul
Terpopuler
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
- Indonesia Impor Nikel dari Filipina Gara-gara RKAB
- Warga Makassar Mengaku Diminta Bayar Rp500 Ribu Urus Surat Waris
Pilihan
-
Buntut Temuan di Lapas Cibinong, Dirjenpas Mashudi Mundur dari Jabatan
-
Reshuffle Kabinet: 'Orang Jokowi' Tersingkir, Sugiono Disebut Rangkap Jadi Menko PMK
-
Diberhentikan dari Kapolri, Listyo Sigit Prabowo Disebut Bakal Jadi Kepala KSP
-
Listyo Diberhentikan, Suyudi Dilantik Prabowo Siang Ini Jadi Kapolri Baru Usai Disetujui DPR
-
Listyo Sigit Prabowo Segera Diganti, DPR Setujui Komjen Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri
Terkini
-
Gambut Tak Kenal Batas Konsesi, Mengapa Tata Air Jadi Kunci Cegah Karhutla?
-
Kabut Asap Palembang, Pesawat Jakarta Putar Balik dan Yogyakarta Dialihkan ke Pekanbaru
-
Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat
-
Sumsel Dikepung 2.639 Titik Panas Hari Ini, Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?
-
Harga Cabai Merah Palembang Rp70 Ribu per Kilogram, Stok Aman tapi Kenapa Tetap Mahal?