Tasmalinda
Kamis, 01 Oktober 2026 | 19:25 WIB
Gambut tak kenal batas konsesi, mengapa tata air jadi Kunci ccgah karhutla?
Baca 10 detik
  • Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan pengelolaan lahan konsesi gambut harus dikawal teknis berdasarkan Kesatuan Hidrologis Gambut pada Kamis (1/10/2026).
  • Kementerian Lingkungan Hidup mencatat ada 34.989 sekat kanal pada areal gambut seluas 4,15 juta hektare yang dikelola 314 perusahaan hingga Juli 2026.
  • Kementerian Kehutanan mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di Sumatra Selatan periode Januari hingga Juli 2026 mencapai 1.926,2 hektare.

Kementerian Lingkungan Hidup mencatat hingga Juli 2026 terdapat sekitar 34.989 sekat kanal di areal gambut seluas sekitar 4,15 juta hektare yang dikelola 314 perusahaan. Di luar wilayah tersebut, terdapat 8.857 sekat kanal di kawasan masyarakat, hutan dan wilayah penyangga, dengan kebutuhan tambahan ribuan unit untuk memperkuat fungsi hidrologi secara menyeluruh.

Angka itu memperlihatkan satu hal: pengelolaan air gambut memang tidak cukup dikerjakan di dalam pagar konsesi.

Sumsel punya pelajaran sendiri

Sumatera Selatan merupakan salah satu wilayah yang menghadapi tekanan karhutla pada musim kemarau 2026. Kemenhut mencatat luas karhutla Sumsel sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 1.926,2 hektare. Sebagian besar berada di lahan mineral, tetapi 68,5 hektare tercatat terjadi di lahan gambut. Banyuasin, Musi Banyuasin, Musi Rawas Utara dan PALI termasuk daerah yang tercatat memiliki karhutla di lahan gambut.

Persoalan gambut di Sumsel juga tidak sederhana karena bentangnya beririsan dengan aktivitas perusahaan, kawasan masyarakat dan wilayah yang memiliki fungsi ekologis penting.

Di lapangan, persoalan air bahkan menjadi salah satu tantangan ketika kebakaran terjadi. Pemerintah Sumsel menyebut struktur gambut, cuaca panas, wilayah yang luas dan sulit dijangkau, keterbatasan sumber air hingga keberadaan api bawah tanah sebagai faktor yang menyulitkan pengendalian karhutla.

Artinya, ketika gambut sudah mengering, persoalannya bukan lagi sekadar di mana api muncul, tetapi mengapa kondisi hidrologi kawasan memungkinkan api bertahan dan menyebar.

Load More