Tasmalinda
Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB
Karhutla TNBS Jambi tinggal 2 km dari habitat harimau, api belum berhasil dipadamkan. [Ist]
Baca 10 detik
  • Kebakaran hutan di Taman Nasional Berbak dan Sembilang sejak Agustus 2026 telah meluas hingga sekitar seribu hektare.
  • Titik api kini berjarak dua sampai tiga kilometer dari kawasan hutan primer yang menjadi habitat harimau Sumatera.
  • Petugas mengalami kesulitan pemadaman karena minimnya sumber air, medan sulit, serta kondisi gambut dalam yang menyulitkan akses.

SuaraSumsel.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS), Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, semakin mendekati kawasan yang menjadi habitat harimau Sumatera.

Jarak titik kebakaran dengan habitat harimau kini diperkirakan hanya sekitar 2–3 kilometer. Api memang belum masuk ke hutan primer, tetapi kondisi tersebut membuat petugas khawatir kebakaran meluas dan mencapai kawasan tempat harimau serta satwa mangsanya hidup.

Kepala Balai TNBS Yunaidi mengatakan kebakaran saat ini masih berada di area yang didominasi semak belukar, alang-alang dan tumbuhan paku-pakuan. Sementara hutan primer yang menjadi habitat harimau masih belum terbakar. “Tidak terlalu jauh, mungkin batas sekitar 2–3 kilometer dari jarak habitat harimau,” kata Yunaidi, Selasa (29/9/2026).

Api Belum Masuk Habitat Harimau

Kondisi ini menjadi pembeda penting dari kabar bahwa habitat harimau telah terbakar. Hingga kini belum ada laporan bahwa api sudah masuk ke hutan primer atau harimau terdampak langsung akibat kebakaran. Namun, semakin dekatnya titik api membuat potensi ancaman terhadap kawasan konservasi tersebut meningkat.

Selain api, asap juga menjadi persoalan. Satwa yang berada di sekitar lokasi kebakaran tetap membutuhkan udara untuk bertahan hidup sehingga paparan asap berpotensi mengganggu kondisi mereka. “Dia (hewan) butuh udara juga ya, sesak. Asap itu pengaruh juga,” ujar Yunaidi.

Data pemantauan Balai TNBS pada 2022 mencatat sekitar 11 ekor harimau berada di kawasan Berbak. Data tersebut menjadi salah satu gambaran keberadaan satwa dilindungi di kawasan konservasi tersebut.

Persoalan berikutnya bukan sekadar jarak api dengan habitat harimau. Petugas juga menghadapi medan yang sulit dijangkau.

Sejumlah titik kebakaran berada jauh di dalam kawasan taman nasional dan tidak memiliki akses jalan. Petugas juga menghadapi keterbatasan sumber air di sekitar lokasi. “Kesulitan air. Terus titik apinya sulit dijangkau, jauh sekali,” kata Yunaidi.

Baca Juga: Janji Lolos Bintara Polri, 2 Polisi Jambi Diduga Tipu 12 Orang hingga Rp7,81 Miliar

Satgas Karhutla Jambi sebelumnya menyebut pemadaman di kawasan TNBS masih mengandalkan water bombing karena kondisi gambut yang dalam menyulitkan alat berat masuk ke lokasi. Alat berat berisiko tenggelam ketika digunakan di kawasan dengan gambut dalam.

Balai TNBS juga berupaya membuat embung dengan bantuan alat berat serta mengalirkan air dari sungai menuju lokasi kebakaran.

Kebakaran Sudah Berlangsung Sejak Agustus

Karhutla di kawasan TNBS ini bukan kejadian yang baru berlangsung sehari-dua hari. Menurut Balai TNBS, kebakaran telah berlangsung sejak 9 Agustus 2026. Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 1.000 hektare, tetapi angka tersebut belum dipastikan melalui pengukuran resmi.

Kondisi gambut membuat proses pemadaman menjadi lebih rumit. Api dapat bertahan di bawah permukaan meskipun kobaran tidak lagi terlihat. Sebelumnya, Balai TNBS menyebut proses pendinginan pada lahan gambut dapat membutuhkan waktu hingga 13 hari untuk memastikan bara di lapisan bawah benar-benar mati.

Artinya, berkurangnya api di permukaan belum otomatis berarti kawasan tersebut aman.

Load More