Tasmalinda
Senin, 28 September 2026 | 15:09 WIB
Hotspot Sumsel utrun 63 persen, mengapa asap Palembang masih pekat?
Baca 10 detik
  • Wali Kota Palembang Ratu Dewa menyatakan titik kebakaran lahan turun drastis menjadi lima hingga enam lokasi pada Senin, 28 September 2026.
  • Jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Sumatera Selatan mengalami penurunan tajam sebesar 63 persen atau menjadi 279 titik pada hari Senin.
  • Kualitas udara di Palembang masih berada dalam kategori tidak sehat dengan angka ISPU mencapai 172 akibat kiriman asap dari kabupaten lain.

SuaraSumsel.id - Kabut asap masih menjadi pemandangan di Kota Palembang pada Senin (28/9/2026), meski jumlah titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan justru turun tajam dibandingkan sehari sebelumnya.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan titik kebakaran yang ditangani di wilayah Kota Palembang kini berkurang menjadi sekitar 5–6 lokasi, dari sebelumnya rata-rata 15–17 lokasi setiap hari. Namun, kondisi udara di kota belum sepenuhnya pulih karena asap juga datang dari sejumlah kabupaten/kota lain di Sumatera Selatan. “Kalau selama ini hampir 15–17 titik lokasi karhutla rata-rata. Sekarang itu turun, berkurang, paling titik kebakaran lahan hanya di 5–6 area,” kata Ratu Dewa, Senin (28/9/2026).

Data terbaru yang dihimpun dari BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumatera Selatan menunjukkan jumlah hotspot di Sumsel turun menjadi 279 titik pada Senin pagi.

Sehari sebelumnya, 27 September 2026, jumlah hotspot tercatat 761 titik. Artinya, terjadi penurunan 482 titik atau sekitar 63 persen dalam sehari.

Penurunan tersebut sekilas terlihat seperti kabar baik. Namun, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumsel pada waktu yang sama masih belum sepenuhnya membaik.

Pada pukul 06.00 WIB, empat wilayah masih tercatat berada dalam kategori tidak sehat. Palembang menjadi wilayah dengan angka ISPU tertinggi, yakni 172, disusul PALI 148, Musi Rawas 117 dan Prabumulih 108.

Sehari sebelumnya, ISPU Palembang bahkan mencapai 264 atau masuk kategori sangat tidak sehat. Dengan demikian, kualitas udara Palembang memang membaik dibandingkan 27 September, tetapi masih berada pada kategori tidak sehat.

Mengapa hotspot turun tetapi asap masih ada?

Penurunan hotspot tidak serta-merta membuat udara langsung bersih. Asap yang sudah berada di atmosfer dapat bertahan dan berpindah mengikuti kondisi angin. Karena itu, kondisi kualitas udara pada satu kota tidak hanya dipengaruhi oleh kebakaran yang terjadi tepat di dalam wilayah kota tersebut.

Baca Juga: Di Balik Parkir Liar Palembang: Ada Bos, Setoran, hingga Klaim Ormas Pernah Masuk

Hal tersebut juga disampaikan Ratu Dewa. Menurutnya, meskipun titik kebakaran di Palembang berkurang, asap masih terasa karena sumbernya juga berasal dari kabupaten dan kota lain di Sumatera Selatan.

“Artinya, khususnya di Palembang, sudah cukup berkurang (asap tebal), tetapi kondisi kita memang ada asap ini, karena timbul juga dari kabupaten/kota lain yang ada di Sumatra Selatan,” jelasnya.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa penurunan angka hotspot tidak selalu langsung terlihat sebagai perubahan drastis pada udara yang dihirup masyarakat.

Palembang masih berada dalam kategori tidak sehat

Data kualitas udara BMKG yang diperbarui pada Senin menunjukkan stasiun Musi 2 Palembang dan Talang Betutu Palembang masih berada pada kategori tidak sehat untuk parameter PM2.5.

Pada pembaruan pukul 01.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Musi 2 tercatat 83,4 µg/m³, sedangkan Talang Betutu mencapai 73,3 µg/m³. Dalam klasifikasi BMKG, konsentrasi PM2.5 sebesar 55,5–150,4 µg/m³ masuk kategori tidak sehat.

Load More