Tasmalinda
Senin, 07 September 2026 | 23:07 WIB
kawasan pertambangan PT Bukit Asam Tbk
Baca 10 detik
  • PTBA membukukan pendapatan Rp22,03 triliun dan laba bersih Rp2,65 triliun pada Semester I 2026.
  • Perusahaan mencatat produksi 19,45 juta ton dan penjualan 21,10 juta ton batu bara selama periode tersebut.
  • Progres proyek jalur angkutan Tanjung Enim-Kramasan telah mencapai sekitar 93 persen pada semester pertama 2026.

Proyek tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas angkutan sekaligus memperkuat sistem logistik dan distribusi batu bara PTBA.

Hingga saat ini, progres proyek Tanjung Enim-Kramasan telah mencapai sekitar 93 persen. PTBA juga telah memperoleh komitmen pendanaan melalui Term Sheet bersama bank-bank Himbara untuk fasilitas Senior Term Loan hingga Rp3,56 triliun.

Selain itu, perseroan terus mempercepat pembangunan fasilitas Coal Handling Facility (CHF) dan Train Loading Station (TLS) 6-7 pada jalur angkutan batu bara Tanjung Enim-Kramasan.

Pengembangan infrastruktur tersebut diharapkan memperkuat kapasitas angkutan dan pemuatan batu bara sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok.

“Penguatan infrastruktur merupakan bagian dari strategi kami untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis. Kami terus mempercepat pengembangan proyek Tanjung Enim-Kramasan serta fasilitas CHF dan TLS 6-7 agar sistem logistik batu bara semakin terintegrasi dan mampu mendukung kebutuhan pelanggan secara optimal,” kata Bambang.

PTBA Dorong Hilirisasi DME, Metanol hingga Kalium Humat

Sejalan dengan penguatan bisnis inti, PTBA juga terus mendorong pengembangan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya batu bara.

Perseroan bersama sejumlah mitra strategis terus mengeksplorasi pengembangan Dimethyl Ether (DME) dan metanol, termasuk dari sisi teknologi, keekonomian, serta skema bisnis.

PTBA juga mengembangkan Kalium Humat, produk hasil pengolahan batu bara yang memiliki potensi untuk mendukung sektor pertanian.

Baca Juga: PTBA Bantu Sediakan Air Bersih Siap Minum untuk Korban Bencana di Manggarai Timur

Saat ini, pilot plant Kalium Humat memiliki kapasitas sekitar 171 ton per tahun. Ke depan, kapasitas tersebut ditargetkan berkembang hingga 10.000 ton per tahun.

“Hilirisasi menjadi salah satu fokus kami untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Kami melihat potensi yang luas dari sumber daya yang dimiliki PTBA untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, termasuk DME, Metanol, dan Kalium Humat,” jelas Bambang.

Kembangkan PLTS di Lahan Pascatambang

Di sektor energi baru, PTBA juga memperluas portofolio bisnis melalui pengembangan energi terbarukan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjajaki pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bersama PT Pertamina New & Renewable Energy atau Pertamina NRE.

Kerja sama tersebut mencakup pengembangan PLTS di lahan pascatambang dan sejumlah area operasional PTBA, termasuk pemanfaatan lahan yang telah direklamasi.

Hingga saat ini, total portofolio PLTS PTBA telah mencapai sekitar 1,2 MWp. Pengembangan energi surya tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan dalam mengoptimalkan aset, memperkuat portofolio energi terbarukan, mendukung transisi energi, sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru.

Load More