- Masyarakat Indonesia dapat memantau potensi kebakaran hutan dan lahan secara mandiri menggunakan ponsel melalui berbagai layanan digital resmi.
- Berbagai platform pemantauan seperti SiPongi+, BMKG, NASA FIRMS, dan Google Maps menyediakan informasi titik panas berbasis satelit di berbagai wilayah.
- Data titik panas atau hotspot bukanlah vonis pasti kebakaran sehingga memerlukan verifikasi lapangan serta pembandingan dengan informasi sebaran asap.
SuaraSumsel.id - Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi perhatian ketika musim kemarau meningkatkan risiko munculnya kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia.
Masyarakat kini tidak harus menunggu melihat asap atau informasi dari media untuk mengetahui kondisi di suatu wilayah. Melalui ponsel, publik dapat memantau sejumlah indikator, mulai dari titik panas atau hotspot, aktivitas kebakaran berbasis satelit, hingga informasi sebaran asap.
Namun, satu hal penting perlu dipahami: hotspot bukan selalu berarti telah terjadi kebakaran. Hotspot merupakan anomali panas yang terdeteksi sensor satelit sehingga tetap memerlukan analisis dan, dalam kondisi tertentu, verifikasi di lapangan.
Lantas, bagaimana cara memantau kondisi karhutla melalui ponsel? Berikut beberapa layanan yang dapat digunakan masyarakat.
1. Cek Hotspot melalui SiPongi+
Salah satu sumber utama untuk memantau titik panas di Indonesia adalah SiPongi+, sistem pemantauan karhutla yang menyediakan informasi persebaran hotspot.
Melalui peta yang tersedia, pengguna dapat memantau lokasi titik panas berdasarkan wilayah dan periode tertentu. Informasi juga dapat disaring berdasarkan satelit serta tingkat kepercayaan atau confidence level.
Cara menggunakannya cukup mudah. Pengguna dapat membuka layanan SiPongi+, kemudian memilih menu peta hotspot dan memperbesar wilayah yang ingin dipantau.
Bagi pembaca yang ingin membandingkan kondisi antarwilayah, fitur penyaringan berdasarkan periode dan provinsi dapat membantu melihat perubahan jumlah titik panas dari waktu ke waktu.
Baca Juga: Kabut Asap Makin Parah, Unsri Alihkan Kuliah ke Online, Kapan Kembali ke Kampus?
2. Pantau Titik Panas dari Citra Satelit BMKG
Cara berikutnya adalah menggunakan layanan pemantauan hotspot milik BMKG.
Data titik panas berasal dari pengamatan satelit yang mendeteksi anomali suhu di permukaan bumi. Informasi ini dapat menjadi indikator awal untuk mengetahui wilayah yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Pemantauan satelit memiliki keunggulan karena mampu memberikan gambaran persebaran titik panas dalam cakupan wilayah yang luas.
Meski demikian, pembaca perlu berhati-hati dalam membaca data. Satu hotspot tidak otomatis berarti terdapat satu kebakaran yang telah dikonfirmasi di lapangan.
3. Cek Aktivitas Api dan Anomali Panas melalui NASA FIRMS
Bagi masyarakat yang ingin melihat data pemantauan global, NASA FIRMS atau Fire Information for Resource Management System dapat menjadi alternatif.
FIRMS menyediakan data aktivitas api dan anomali termal berdasarkan pengamatan satelit MODIS dan VIIRS. Data tersebut tersedia untuk pemantauan dalam waktu mendekati waktu nyata melalui peta digital.
Namun, pengguna perlu memahami cara membaca data tersebut.
NASA menjelaskan bahwa kotak atau titik deteksi pada peta dapat menunjukkan anomali termal yang berasal dari api, asap panas, aktivitas pertanian, maupun sumber panas lainnya. Artinya, satu titik deteksi tidak otomatis menunjukkan seluruh area di sekitarnya sedang terbakar.
Karena itu, data FIRMS sebaiknya digunakan sebagai salah satu sumber pembanding, bukan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan telah terjadi kebakaran.
4. Pantau Informasi Kebakaran melalui Google Maps
Google Maps juga dapat menjadi sumber tambahan untuk melihat informasi kebakaran di wilayah tertentu.
Pada wilayah yang mendukung fitur tersebut, pengguna dapat membuka menu Layers atau Lapisan, kemudian melihat informasi terkait kebakaran hutan atau Wildfires.
Informasi yang muncul dapat membantu memberikan gambaran lokasi kebakaran yang sedang dipantau melalui berbagai sumber data.
Namun, seperti data berbasis satelit lainnya, informasi pada peta digital perlu dibaca secara hati-hati karena kondisi kebakaran di lapangan dapat berubah. Area yang ditampilkan juga merupakan perkiraan berdasarkan informasi yang tersedia.
5. Jangan Hanya Lihat Hotspot, Cek Juga Sebaran Asap
Ini menjadi langkah yang sering terlewat ketika masyarakat memantau karhutla.
Hotspot hanya menunjukkan adanya anomali panas yang terdeteksi satelit. Untuk mendapatkan gambaran kondisi yang lebih lengkap, masyarakat juga perlu memperhatikan informasi sebaran asap dan kondisi cuaca.
Sebaran asap dapat membantu memberikan gambaran mengenai dampak kebakaran, sementara arah angin menjadi faktor penting yang memengaruhi ke mana asap dapat bergerak.
Dengan membandingkan beberapa sumber informasi, masyarakat bisa mendapatkan gambaran yang lebih utuh daripada hanya mengandalkan satu peta.
Hotspot Bukan Vonis Kebakaran?
Kemunculan banyak hotspot tidak selalu berarti seluruh titik tersebut merupakan lokasi kebakaran aktif. Sebaliknya, sebuah kejadian kebakaran juga dapat menghasilkan lebih dari satu deteksi hotspot, tergantung ukuran kebakaran, waktu pengamatan, sensor satelit, dan kondisi di lapangan. Karena itu, angka hotspot perlu dibaca sebagai indikasi awal, bukan jumlah pasti kejadian kebakaran.
Untuk memastikan kondisi sebenarnya, diperlukan informasi tambahan, termasuk pemantauan citra, laporan petugas, hingga verifikasi langsung di lapangan.
Cara Membaca Informasi Karhutla agar Tidak Salah Menyimpulkan
Sebelum membagikan informasi mengenai titik panas di media sosial, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan.
Pertama, cek waktu deteksi. Hotspot yang muncul beberapa hari sebelumnya belum tentu masih aktif saat informasi tersebut dibaca.
Kedua, perhatikan tingkat kepercayaan atau confidence level dari data satelit.
Ketiga, bandingkan informasi dari beberapa sumber, misalnya SiPongi+, BMKG, NASA FIRMS, atau informasi resmi dari pemerintah daerah dan petugas penanggulangan bencana.
Keempat, jangan langsung menyebut sebuah wilayah terbakar hanya berdasarkan satu titik pada peta.
Pemantauan digital memang membuat masyarakat semakin mudah mengikuti perkembangan karhutla. Namun, teknologi satelit tetap memiliki keterbatasan sehingga informasi yang muncul perlu dibaca secara proporsional. NASA sendiri mengingatkan bahwa data aktivitas api dan anomali termal berbasis satelit memiliki keterbatasan akurasi dan tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk melindungi jiwa atau properti.
Pada akhirnya, cara paling tepat memantau karhutla bukan hanya mencari berapa banyak titik panas yang muncul, tetapi membandingkan beberapa indikator untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di suatu wilayah.
Tag
Berita Terkait
-
Kabut Asap Makin Parah, Unsri Alihkan Kuliah ke Online, Kapan Kembali ke Kampus?
-
Tim Alfa TNI Sudah Terjun ke Way Kambas, Apakah Juga Dikerahkan ke Karhutla Sumsel?
-
17 Tersangka Karhutla Sumsel Diproses, Lalu Bagaimana dengan 545 Hotspot di Konsesi?
-
ISPA Palembang Tembus 9.313 Kasus Saat Kabut Asap Karhutla, Ini Data Terbarunya
-
Water Bombing Rp100 Juta per Jam, Kalau Api di Konsesi Perusahaan Siapa yang Bayar?
Terpopuler
- Singapura Diguncang Gelombang Protes Rakyatnya, Buntut Rencana Penggundulan Hutan untuk Perumahan
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Titik Api Masih Muncul di Tol Palindra, Seberapa Cepat Karhutla Bisa Dikendalikan?
-
5 Cara Cek Karhutla Lewat HP, Pantau Hotspot hingga Sebaran Asap
-
Rektor Diberhentikan, 9 Dosen Di-PTDH, Ada Apa di Universitas PGRI Palembang?
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Sinergi di Apel Akbar Satlinmas Palembang
-
Duel Maut di Kebun Sawit Muba, Korban Tewas Ditebas di Leher, Benarkah Curi Sawit?