- KPPU Wilayah II menyelidiki kelangkaan beras premium kemasan lima kilogram serta lonjakan harga beras di Sumatera Selatan.
- Tingginya harga bahan baku, biaya pengemasan, dan panjangnya rantai distribusi menyebabkan harga beras melampaui ketentuan HET.
- Dinas Perdagangan Kota Palembang menyatakan pasokan beras SPHP masih tersedia normal di tengah keterbatasan beras premium.
Sementara itu, harga beras kemasan 10 kilogram yang sebelumnya sekitar Rp153 ribu disebut naik menjadi Rp156 ribu. Kemasan 20 kilogram juga naik dari Rp305 ribu menjadi Rp313 ribu.
Artinya, konsumen yang tidak mendapatkan kemasan 5 kilogram masih bisa membeli beras melalui kemasan besar atau secara eceran, tetapi dengan harga per kilogram yang lebih tinggi.
KPPU juga menyoroti panjangnya rantai distribusi gabah dan beras. Dari petani menuju produsen terdapat agen atau perantara yang dinilai turut meningkatkan harga bahan baku. Persoalan serupa juga terjadi pada distribusi beras dari produsen menuju peritel.
Kondisi ini membuat harga semakin sulit ditekan ketika harga bahan baku sudah tinggi. Karena itu, KPPU mengingatkan seluruh pelaku usaha di sepanjang rantai distribusi agar tidak memanfaatkan situasi pasar untuk mengambil keuntungan secara berlebihan.
Jika ditemukan pelanggaran terhadap ketentuan persaingan usaha, pelaku usaha dapat dikenai sanksi berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Di tengah kenaikan beras premium, beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) masih tersedia di Palembang.
Dinas Perdagangan menyebut pasokan beras SPHP masih berjalan seperti biasa. Secara nasional, Bapanas juga menyatakan beras SPHP untuk zona Sumatera Selatan memiliki HET Rp12.500 per kilogram dan penyalurannya dilakukan sepanjang 2026 untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.
Tag
Berita Terkait
-
Dalam 4 Jam PM2.5 Palembang Melonjak 3 Kali Lipat, Begini Kondisi Terbarunya
-
Bukan Cuma Kabut Asap, 3 Kecamatan Palembang Kini Krisis Air Bersih
-
Ratu Dewa Target Macet Palembang Turun 40 Persen dalam 90 Hari, Mungkinkah?
-
Herman Deru Klaim Karhutla Sumsel Menurun, Tapi Kabut Asap Masih Bertahan di Palembang
-
Hotspot Sumsel Mendadak Turun Saat Prabowo Pimpin Rakor Karhutla, Benarkah Mulai Reda?
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
- Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Ini Urutan Pemakaian dan Review Pembeli
Pilihan
-
Botok: Jika RUU Perampasan Aset Tak Sah Desember, Dasco, Saan, dan Cucun Siap Mundur
-
Hakim Tolak Perlawanan Yaqut Cholil Qoumas, Sidang Korupsi Kuota Haji Berlanjut!
-
Meski Diterima Pimpinan DPR, Botok Pati Pastikan Aksi 27 Agustus Tetap Lanjut
-
Bawa Tuntutan Hukum Mati Koruptor, Botok Cs Diterima Masuk ke Rapat Paripurna DPR
-
Polisi Bubarkan Massa Aliansi Pati yang Galang Donasi di Depan DPR
Terkini
-
Tim Alfa TNI Sudah Terjun ke Way Kambas, Apakah Juga Dikerahkan ke Karhutla Sumsel?
-
PLN ULP Ampera Jadwalkan Pemadaman Listrik 3 Jam, Cek Wilayah Terdampak
-
PTBA Borong Empat Penghargaan ISEA 2026, Tegaskan Transformasi Keselamatan Kerja
-
17 Tersangka Karhutla Sumsel Diproses, Lalu Bagaimana dengan 545 Hotspot di Konsesi?
-
ISPA Palembang Tembus 9.313 Kasus Saat Kabut Asap Karhutla, Ini Data Terbarunya