Tasmalinda
Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:59 WIB
Asal-usul lomba bidar di Palembang, tradisi Sungai Musi yang berawal dari kisah cinta.
Baca 10 detik
  • Ribuan warga Palembang rutin menyaksikan lomba perahu bidar di Sungai Musi setiap perayaan Hari Kemerdekaan.
  • Tradisi perlombaan tersebut berasal dari legenda tragis perebutan cinta Dayang Merindu oleh dua pemuda perkasa.
  • Perlombaan perahu tradisional ini dilestarikan dari generasi ke generasi sebagai bentuk penghormatan kepada Dayang Merindu.

SuaraSumsel.id - Lomba bidar telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Hari Kemerdekaan di Palembang. Setiap Agustus, ribuan warga memadati tepian Sungai Musi untuk menyaksikan puluhan pendayung berlomba mengayuh perahu hingga mencapai garis akhir.

Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun itu ternyata menyimpan kisah panjang yang berkaitan dengan legenda cinta masyarakat Palembang.

Berdasarkan catatan dalam sumber budaya Indonesia, kata bidar berasal dari istilah biduk lancar, yaitu perahu kecil yang pada masa lalu digunakan sebagai sarana penghubung atau alat transportasi para kurir. Seiring waktu, fungsi perahu tersebut berkembang menjadi bagian dari perlombaan tradisional yang hingga kini masih dilestarikan masyarakat Palembang.

Di balik perlombaan itu, tersimpan legenda tentang Dayang Merindu, seorang gadis cantik yang tinggal di kawasan hulu Sungai Musi. Dayang Merindu dikisahkan menjalin hubungan pertemanan sejak kecil dengan Dewa Jaya, putra dari keluarga sahabat ayahnya.

Ketika dewasa, Dewa Jaya yang baru kembali dari perantauan berniat melamar Dayang Merindu. Keluarga kedua belah pihak menyambut baik rencana tersebut hingga keduanya akhirnya dipertunangkan.

Namun, kisah itu berubah ketika Dayang Merindu bertemu dengan Kemala Negara, seorang pemuda dari kawasan hilir Sungai Musi yang datang untuk mengembalikan sebuah cawan milik Dayang Merindu yang hanyut terbawa arus sungai.

Pertemuan itu menjadi awal kisah cinta keduanya. Sayangnya, hubungan tersebut tidak mendapat restu karena Dayang Merindu telah lebih dahulu bertunangan dengan Dewa Jaya.

Konflik pun tak terhindarkan. Kemala Negara kemudian menantang Dewa Jaya untuk bertanding demi memperebutkan hati Dayang Merindu.

Awalnya, pertarungan dilakukan melalui adu kemampuan pencak silat. Namun, karena keduanya dianggap sama kuat, pemimpin kampung saat itu memutuskan untuk menggelar perlombaan menggunakan perahu bidar di Sungai Musi.

Baca Juga: Niat Menolong Teman, Remaja 14 Tahun di Palembang Ditemukan Meninggal di Sungai Musi

Siapa yang lebih dulu mencapai garis akhir, dialah yang berhak mempersunting Dayang Merindu.

Perlombaan yang disaksikan seluruh warga itu justru berakhir tragis. Kedua pemuda tersebut mencapai garis finis hampir bersamaan. Namun, saat diperiksa, keduanya ditemukan telah meninggal dunia di atas perahu masing-masing.

Mendengar kabar tersebut, Dayang Merindu datang ke hadapan masyarakat dan menyampaikan keinginannya untuk berlaku adil kepada kedua pemuda yang sama-sama mencintainya.

Legenda itu berakhir dengan kematian Dayang Merindu yang memilih mengakhiri hidupnya di hadapan masyarakat.

Menurut cerita yang berkembang, masyarakat kemudian menggelar perlombaan bidar sebagai bentuk penghormatan kepada Dayang Merindu. Tradisi itu terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga akhirnya menjadi salah satu ikon budaya Palembang.

Meski kisah tersebut masih dianggap sebagai legenda dan belum dapat dibuktikan secara historis, nama Kampung Keramasan di Palembang disebut masih berkaitan dengan cerita Dayang Merindu.

Load More