- Harga cabai merah keriting di pasar tradisional Palembang melonjak hingga Rp70.000 per kilogram akibat gagal panen petani daerah.
- Lonjakan harga tersebut menurunkan volume penjualan pedagang secara drastis serta memaksa konsumen mengurangi jumlah pembelian harian.
- Dinas Perdagangan Kota Palembang memperketat pengawasan pasar guna mencegah penimbunan barang dan spekulasi harga di tingkat pedagang.
SuaraSumsel.id - Harga cabai merah keriting di sejumlah pasar tradisional Palembang menembus Rp70.000 per kilogram. Kenaikan ini terasa langsung di pasar: pembeli mengurangi jumlah belanja, sementara pedagang ikut kehilangan volume penjualan.
Yang menarik, pemerintah menyebut kondisi stok cabai di Sumatera Selatan masih aman. Lalu, mengapa harga di tingkat konsumen tetap tinggi?
Di Pasar 7 Ulu Palembang, pedagang Gani mengatakan harga cabai merah keriting kini mencapai Rp70.000 per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp45.000. Menurut dia, kenaikan tersebut terjadi karena petani di sejumlah daerah pemasok mengalami gagal panen.
Dinas Perdagangan Kota Palembang kini meningkatkan pemantauan ke sejumlah pasar tradisional untuk mengantisipasi spekulasi harga dan penimbunan. Pengawasan dilakukan antara lain di Pasar KM 5, Lemabang, Soak Bato, 10 Ulu dan 16 Ilir. Namun, persoalan harga cabai kali ini ternyata tidak sesederhana stok ada atau tidak ada.
Harga Naik, Pembeli Langsung Mengurangi Belanja
Dampak kenaikan harga paling cepat terlihat dari perilaku konsumen. Tika, pedagang cabai di Pasar 10 Ulu Palembang, mengatakan penjualan hariannya turun cukup tajam. Jika sebelumnya ia dapat menjual sekitar 40–50 kilogram cabai per hari, kini hanya sekitar 15 kilogram.
Artinya, volume penjualan turun setidaknya sekitar 62,5 persen jika dibandingkan dengan batas bawah penjualan sebelumnya, yakni 40 kilogram.
Angka itu menunjukkan bahwa kenaikan harga bukan sekadar persoalan di papan harga pasar. Ketika harga naik, konsumen langsung menyesuaikan jumlah pembelian. Fenomena serupa juga terlihat beberapa hari sebelumnya di Pasar KM 5. Pedagang menyebut konsumen yang biasanya membeli satu kilogram mulai mengurangi pembelian menjadi setengah kilogram ketika harga cabai masih tinggi.
Cabai tetap dibutuhkan, tetapi cara membelinya berubah.
Baca Juga: Pegawai SPPG Hendak Kerja Dini Hari, Dibegal di Jembatan Musi VI Palembang
Stok Disebut Aman, Kenapa Harga Tetap Mahal?
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Selatan Ruzuan Effendi sebelumnya menyatakan ketersediaan cabai di Sumsel masih aman. Menurut dia, Sumsel masih memiliki sentra produksi, antara lain di Ogan Komering Ilir (OKI) dengan luas tanam sekitar 250 hektare dan wilayah Ogan Ilir.
Pernyataan ini penting karena stok aman tidak otomatis berarti harga murah.
Harga di pasar dipengaruhi bukan hanya oleh berapa banyak cabai yang tersedia, tetapi juga kapan cabai dipanen, dari mana pasokannya datang, biaya distribusi dan berapa banyak mata rantai yang dilalui sebelum sampai ke konsumen.
Ruzuan sebelumnya menjelaskan bahwa produksi dari sejumlah wilayah penghasil, termasuk Jawa, menurun akibat kemarau. Pada saat yang sama, sebagian petani lokal sudah selesai panen dan belum kembali menanam.
Akibatnya, Sumsel lebih banyak mengandalkan produksi lokal ketika pasokan dari luar daerah berkurang.
Berita Terkait
-
Pegawai SPPG Hendak Kerja Dini Hari, Dibegal di Jembatan Musi VI Palembang
-
Kabut Asap Mengepung Sungai Musi, Mereka Tetap Bekerja demi Penghasilan
-
Hotspot Sumsel Turun 63 Persen, Mengapa Asap Palembang Masih Pekat?
-
Di Balik Parkir Liar Palembang: Ada Bos, Setoran, hingga Klaim Ormas Pernah Masuk
-
Spesial HUT ke-81 KAI, Pelanggan Cukup Bayar 81 Persen untuk Naik KA Sindang Marga
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 12 Pilihan Mesin Cuci Langsung Kering Tanpa Jemur
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
Terkini
-
BRI dan GarudaMiles Tawarkan Ekstra 27.000 Miles Bagi Nasabah Infinite Prioritas
-
Kemarau Panjang, Air Bersih Siswa Sekolah Rakyat Empat Lawang Disuplai 2 Mobil Tangki
-
16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata
-
Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan